6 Cara untuk Menghilangkan Hawa Dingin ala Orang Jaman Dulu

Artikel

Avatar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Juli Indonesia terutama bagian selatan memasuki iklim dingin. Untuk menghadapinya bisa  mengadopsi gaya hidup ala kaum konservatif. Sudah menjadi siklus tahunan, memasuki bulan Juli beberapa daerah di Indonesia akan terasa lebih dingin, terutama Jawa bagian selatan seperti Jogja, Solo, Malang, Bandung dan sekitarnya, hingga NTT, NTB dan Bali. Ini diakibatkan hembusan angin dari Australia yang memasuki musim dingin (angin muson). Perubahan iklim ini ditandai dengan banyaknya berita yang membahas tentang fenomena dinginnya Indonesia bagian selatan dengan konfirmasi langsung dari BMKG, ditambah semakin banyaknya postingan sobat-sobat sosmed yang sambat sambil screencapture suhu udara dari smartphone-nya.

Perubahan menuju iklim baru ini tentu lambat laun merubah kebiasaan kita, terutama bagi yang tidak terbiasa dengan udara dingin yang tidur di rumah aja bisa berasa nyewa villa di Tawangmangu. Tak terkecuali orang-orang kebal yang terbiasa tidur telanjang dada tapi masih pakai kipas angin, brrr. Tapi tenang,  Akan saya kasih tips” wong biyen” atau “kaum konservatif” dalam menghadapi cuaca dingin untuk beberapa bulan kedepan. Cara-cara berikut tentu saja opsional, mau dicoba boleh mau diketawain juga enggak papa.

Cara pertama, genen (memanaskan badan di depan api)

Cara ini mirip cara orang-orang Eropa yang menghangatkan diri dengan tungku api di dalam rumah. Bedanya orang-orang konservatif melakukan hal seperti itu dibelakang rumah, lebih tepatnya di tungku dapur yang biasa disebut dengan pawon. Jarang nampaknya orang-orang sekarang yang masih punya pawon dan memasak menggunakan kayu. Jika masih ada coba deh pas ibu/ nenek kalian lagi masak numpang buat jongkok sejenak di depan api. Dan rasakan sensasinya, hmm sangit.

Baca Juga:  SNMPTN Lolos Terus Ngerasa Jenius? Sombhong Amat, Kalian Cuma Beruntung

Kedua, minum-minuman penghangat

Banyak kok minuman penghangat yang worth it untuk diminum di musim dingin kaya gini, nggak perlu yang bikin pusing-pusing. Kalau di daerah Jogja dan sekitarnya, wedang ronde misalnya. Anget pedes-pedes jahe, pakai kacang, ditambah buletan ketan. Atau kalian bisa coba minuman seperti wedang jahe, bajigur, STMJ, dan sebagainya.

Ketiga, Beraktifitas lebih pagi

Orang-orang dulu merupakan tipe morning person. Entah pergi ke ladang, kepasar, masak, bahkan bayar pajak ke Pak RT sering dilakukan pagi-pagi buta. Bertolak belakang dengan kebiasaan anak muda sekarang yang lebih suka bangun siang, ‘bangun pagi ku terus mager’.

Saran saya, coba kalian mulai beraktifitas itung-itung dapat keringat supaya nggak males mandi. Atau coba olahraga ringan, sepedaan atau jogging. Percaya deh ngerasain sunrise itu kayak asik banget. Yang suka hunting foto juga gak bakal rugi dapet golden rise, apalagi bulan-bulan gini langit lagi cerah-cerahnya, heuehu.

Keempat, menjepitkan bantal di kaki

Enggak tau pasti gimana cara ini ditemukan, tapi cara yang satu ini sering diterapkan orang-orang dulu, tentunya enggak bikin ribet. Sebenarnya fungsinya mirip dengan pakai kaus kaki, tapi dengan memakai bantal enggak perlu repot-repot melepas kaus kaki kalau tiba-tiba udah mulai gak nyaman, tinggal tendang aja bantalnya. Apalagi kalau kaos kakinya melar terus melorot-melorot sendiri. Lagian pakai bantal juga tidak menyalahi pantangan yang berkaitan dengan bantal, misalnya menduduki bantal yang ada malah kena semprot dari orang tua.

Kelima, bikin api unggun

Sebelum era gadget seperti sekarang, orang-orang dulu biasa berkumpul bukan untuk mabar, melainkan membuat bakar-bakaran dengan membakar umbi-umbian seperti singkong, atau jagung. Biarpun kadang juga hasil nyolong dari ladang orang. Tapi cara ini agaknya kurang cocok diterapkan sekarang mengingat situasi sekarang orang-orang tidak dianjurkan untuk berkumpul. Tapi tetap bisa dilakukan asal melakukan social distancing, juga untuk kumpulan kecil, cocok untuk yang sedang jadwal ronda.

Baca Juga:  Ketika Babarsari Jadi Lokasi Syuting Film Joker

Cara keenam, mandi

Malas mandi merupakan salah satu gaya hidup populer di kalangan anak muda sekarang, terutama bagi anak kos. Orang dulu terbiasa mandi di sumur yang harus ditimba dulu, letaknya biasanya di belakang rumah cenderung dekat dengan kebun. Sehingga orang dulu lebih memilih mandi lebih sore daripada digondol wewe. Berbeda dengan anak sekarang yang lebih suka menunda mandi yang pada akhirnya kebablasan sampai tidur. Padahal dengan tidak mandi membuat badan kita lebih mudah berkeringat. Berkeringat di hawa dingin seperti ini bisa jadi bumerang, keringat kena angin dingin gini, beuh dinginnya  nampol.

BACA JUGA Ari Lasso dan Uji Pendengaran Kalimat Misterius di Lagu Dewa 19 dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.