3 Hal Tak Terduga yang Pernah Saya Alami Selama Menjadi Seorang Recruiter – Terminal Mojok

3 Hal Tak Terduga yang Pernah Saya Alami Selama Menjadi Seorang Recruiter

Artikel

Seto Wicaksono

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Kamu nggak bosan kerja sebagai recruiter bertahun-tahun? Nggak mau coba pindah posisi lain?” Bukan tanpa sebab ia menanyakan tentang hal tersebut. Menurutnya yang juga bekerja sebagai HRD, jadi recruiter itu pekerjaan yang monoton dan sangat spesifik. Mencari kandidat, melakukan proses wawancara, melakukan psikotes, begitu seterusnya hingga anggota DPR nggak ada yang ketiduran lagi ketika menggelar rapat.

Tidak ada salahnya ketika ia berpendapat seperti itu. Namanya juga sekadar menyampaikan pendapat. Masa sampai harus saya larang dan mematikan microphone-nya, sih. Kan nggak sampai segitunya juga. Apalagi saya selalu ingat bahwa kita hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi.

Eh, tapi, untuk apa juga teman saya berbicara pakai microphone, ya? Dia kan bukan anggota DPR yang lagi rapat.

Kendati demikian, pada kenyataannya, saya menikmati pekerjaan sebagai recruiter. Sebab, yang namanya bekerja, dalam hal apa pun, ketika masih berhubungan dan melakukan interaksi dengan manusia, pasti ada dinamika yang dihadapi dalam suatu periode tertentu. Nggak mungkin flat gitu aja.

Pada kenyataannya, meski sudah bertahun-tahun bekerja sebagai recruiter, saya selalu mengalami hal menarik. Bahkan, beberapa diantaranya di luar dugaan saya. Dan hal tersebut menjadi suatu pengalaman menyenangkan yang selalu saya ingat. Antara lucu, gemesin, dan ngagetin.

Pertama, dikira penipu dan lowongannya abal-abal

Begini ceritanya. Selama bekerja dari rumah, segala kegiatan seleksi karyawan, termasuk interview, dilakukan secara online. Bisa melalui telepon reguler, voice call WhatsApp, atau beberapa aplikasi lainnya. Sebelum saya proses interview, saya biasa mengundang para kandidat terlebih dahulu melalui portal pencari kerja. Sebut saja Jobstreet.

Ketika ia menerima undangan, artinya kami sepakat akan melakukan proses interview pada waktu yg sudah ditentukan.

Saat saya telepon, seperti biasa, saya memperkenalkan diri terlebih dahulu dan menyebutkan nama perusahaan tempat saya bekerja. Namun, entah kenapa saya malah mendapat respon,

“MAS, INI PENIPUAN, YA? LOWONGANNYA JUGA NGGAK BENAR, YA? SAYA NGGAK PERCAYA!”

Sebagai orang yang harus profesional saat bekerja, saya berusaha tenang dan menanggapi seperti biasanya.

“Maaf, Mba. Kalau memang nggak percaya, silakan cek alamat web perusahaan dan akun media sosial kami. Jika memang belum percaya, silakan dicari tahu terlebih dahulu.”

Tidak lama, kandidat tersebut langsung WhatsApp saya, “Pak, maaf ya sebelumnya saya sudah menuduh yang bukan-bukan. Maaf kalau saya berlebihan.”

Hehehe.

Pesan moral: sebelum menuduh, coba cek terlebih dahulu profil perusahaan yang kalian lamar. Kalau sudah begitu, malu, lho. Yang dipertaruhkan reputasi diri.

Kedua, dicurhatin kandidat tentang kisah cintanya yang ambyar sampai diomongin tetangga

Ketika saya mewawancara seorang kandidat lelaki, di tengah percakapan, entah kenapa kandidat ini malah melakukan curhat colongan. Iya, betul-betul colongan di sela-sela pertanyaan yang saya ajukan dan jawaban yang ia berikan.

“Boleh diceritakan, apa harapan dan sesuatu yang akan dilakukan jika Mas Nibusla (nama samaran) diterima di perusahaan ini?” tanya saya.

“Saya akan melakukan yang terbaik, Pak, karena saya sudah gagal sebelumnya.” Jawab ia singkat.

“M… maksudnya, Mas?” tanya saya sedikit probing.

“Iya, Pak. Saya gagal menjalani hubungan sebelumnya karena dianggap posesif sama pacar saya.” Jawab kandidat tersebut sambil menundukan kepalanya.

Belum sempat saya bertanya kembali, ia tiba-tiba melanjutkan pernyataannya.

“Selain itu, saya juga jadi bahan omongan tetangga, Pak. Sebagai sarjana, saya sudah menganggur dua tahun lamanya. Saya pengin buktiin sama tetangga, saya juga bisa sukses”.

Lahdalah. Saya betul-betul speechless. Rasanya pengin segera puk-puk dan merangkul Mas-nya, tapi kami berdua sedang dalam proses interview.

Ketiga, di-prank kandidat saat melakukan interview online

Selama pandemi, proses interview secara online sangat lumrah dilakukan. Bahkan, mungkin dilakukan oleh hampir semua perusahaan. Namun, siapa sangka, dalam prosesnya, saat melakukan proses wawancara secara online dengan salah satu kandidat, saya malah kena prank sejak melakukan percakapan awal.

“Halo, dengan Mba Puan (nama samaran)? Saya dengan Seto. Apakah proses wawancaranya sudah bisa kita mulai sekarang?” saya membuka obrolan seperti biasanya.

“HAAALO, KAK SETOOO. SI KOMONYA ADA? SELAMAT DATANG DI INDOMARET, SELAMAT BERBELANJAAA!”

Pada dasarnya, saya sangat senang ketika bisa mewawancara kandidat yang antusias dalam berkomunikasi. Tapi, ini kok antusiasnya lain, ya. Saya sengaja menuliskan kutipan tersebut secara kapital. Selain untuk mempertegas bahwa ia menyampaikan dengan over-antusias, ia mengatakan hal tersebut tidak sendirian. Melainkan beramai-ramai. Mungkin dengan teman-temannya yang lain.

BACA JUGA Tips Merawat Katup Ban yang Diisi Angin Nitrogen dari Tukang Tambal Ban dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Melampirkan Foto di CV Itu Penting, Ini Alasannya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.