Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO

Ilustrasi Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Tabungan saja ternyata nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi gaya hidup. Banyak yang akhirnya membeli barang atau jasa sekarang dan membayarnya di kemudian hari, kita mengenalnya dengan PayLater.

Data terbaru dari Pefindo Biro Kredit (IdScore) per Februari 2026 menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, outstanding PayLater atau total utang yang masih menggantung, mencapai Rp56,3 triliun. Tumbuh hampir 87 persen dalam setahun. 

Artinya, banyak orang yang menjadikan utang digital untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahasa mudahnya begini, kita beli HP seharga Rp5 juta pakai PayLater dan baru bayar cicilan 1 juta, maka nilai outstanding kita adalah Rp4 juta.

Nah, yang mengkhawatirkan angka di atas menunjukkan keadaan di masyarakat sedang tidak baik-baik saja. Dulu, kalau orang sudah tidak punya uang di dompet, maka tabungan di bank jadi andalan. Nah, banyaknya orang yang mengandalkan PayLater, berarti mereka tidak punya tabungan.

Para ekonom melihat ini sebagai pergeseran cara bertahan hidup. Ketika daya beli tergerus dan perbankan makin pelit kasih pinjaman, PayLater jadi pilihan. Padahal, ada bunga dan denda yang mengintai di balik promo diskon.

PayLater dan pinjol jadi andalan anak muda untuk nonton konser

Data juga menunjukkan, kalau masyarakat yang paling banyak menggunakan PayLater adalah orang-orang dengan usia produktif. Hampir 44 persen pengguna PayLater adalah mereka yang berusia 26-35 tahun (Milenial), disusul oleh Gen Z usia 18-25 tahun yang menyumbang sekitar 26,5 persen.

Singkatnya: tujuh dari sepuluh orang yang hobi klik “cicil” adalah mereka yang seharusnya sedang giat-giatnya menabung buat masa depan.

Data di atas memberikan gambaran fakta yang terjadi di masyarakat. Ada yang menggunakan PayLater atau utang untuk bertahan hidup, tapi juga ada yang meminjam karena memenuhi keinginan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, ada banyak anak muda yang rela utang lewat pinjol dan PayLater demi beli tiket konser. Mereka rela mencicil utang konsumtif yang bukan merupakan kebutuhan utama. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak sedikit anak muda menggunakan PayLater bukan jadi solusi finansial, melainkan alat “validasi diri”.

Pemerintah mungkin sudah mulai intervensi, tapi regulasi saja tidak cukup kalau masyarakat tidak mengubah mindset tentang kebutuhan dan keinginan, tentang pinjaman dan tabungan. 

Namun, selama masih banyak menganggap utang PayLater sebagai solusi mendapatkan uang cepat untuk memenuhi keinginan, maka sebenarnya kita sudah masuk jebakan yang dibuat sendiri. 

Percayalah, menggunakan PayLater untuk memenuhi keinginan adalah sebuah ilusi yang menjebak. Seolah-olah kita mendapatkan uang cepat, tapi aslinya cuma terikat pada utang yang membuat pendapatan tiap bulan cuma numpang lewat buat bayar bunga dan denda.(*)

Exit mobile version