Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame Moknyus

Abdul Somad Nilai Jika Popularitas Jadi Rujukan Cawapres, Nissa Sabyan Lebih Unggul

Redaksi oleh Redaksi
7 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Abdul Somad merespons rekomendasi Ijtima Ulama yang menyebut dirinya sebagai salah satu nama yang pantas mendampingi Prabowo Subianto maju dalam Pilpres 2019. Jika patokannya popularitas, Nissa Sabyan jauh lebih baik.

Hasil Ijtima Ulama sudah menghasilkan dua nama untuk direkomendasikan sebagai calon wakil presiden (cawapres) Prabowo Subianto, yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Abdul Somad. Nama terakhir ini yang kemudian ramai dibicarakan di publik. Sebagai ustaz dengan banyak jamaah dan pengikut, harapan kepada Somad agar mau jadi umara atau pemimpin semakin membesar dari hari ke hari. Hal yang tidak luput jadi perhatian bagi Somad sendiri.

“Puncak dari kekecewaan adalah harapan. Oleh sebab itu kita jangan terlalu banyak berharap karena semakin tinggi pengharapan, semakin tinggi kekecewaan. Jadi kalau orang terlalu tinggi berharap kepada saya, dia akan kecewa dan berakhir dengan marah,” kata Abdul Somad dalam wawancara kepada Fakta tvOne. “Berharap pada harta akan binasa, berharap pada makhluk akan kecewa,” tambahnya.

Sesaat setelah pengumuman hasil Ijtima Ulama yang menyebut dirinya diajukan sebagai salah satu cawapres rekomendasi, Abdul Somad sebenarnya langsung memberi pernyataan terkait namanya. Meski mengaku sangat menghormati hasil dari keputusan para ulama dan kiai pada acara tersebut, Somad menganggap dirinya lebih cocok jadi pendidik dan pendakwah saja.

Bahkan pada wawancara yang sama, Abdul Somad cenderung lebih mendukung Salim Segaf Al-Jufri untuk maju saja dibanding dirinya, mengingat secara pengalaman politik, Ketua Umum PKS ini jauh lebih matang.

“Beliau S1, S2, di Madinah. Pernah menjadi menteri, pernah menjadi dubes. Ilmunya, semuanya. Kematangan emosionalnya, dia guru kita semua. Mengajar, mengritik, langsung berkecimpung dalam dunia politik di berbagai organisasi. Jadi itulah saya berikan kepada guru tersebut,” kata Abdul Somad.

Walau sudah memberi pernyataan berkali-kali enggan menyambut pengajuan dirinya jadi cawapres, beberapa nama politisi senior mendorongnya untuk tetap maju, dari Amien Rais bahkan Salim Segaf sendiri juga siap jika Prabowo lebih memilih Somad jadi pendamping untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 esok.

Hanya saja Abdul Somad mempertanyakan apa sebenarnya standar pemilihan dirinya cocok sebagai umara yang pantas memimpin Indonesia ke depan bersama Prabowo. “Kalau yang jadi standar ‘siapa yang paling banyak dicari di internet’, itu tidak bisa dijadikan standar,” kata Somad.

Abdul Somad agaknya juga menduga jika pemilihan atas namanya sebagai cawapres hanya berdasar pada popularitasnya semata. Sebenarnya kecurigaan ustaz alumni Al-Azhar, Mesir, ini cukup beralasan, sebab dalam kurun waktu beberapa tahun namanya dikenal luas melalui internet. Akan tetapi jika hanya dari popularitas—apalagi berdasar dunia maya—Somad mengaku ada sosok yang jauh lebih pantas dibandingkan dirinya.

“Saya sendiri sudah ngecek, memang di internet itu yang paling banyak adalah Abdul Somad, tapi masih dikalahkan oleh Nissa Sabyan,” canda Abdul Somad.

Nissa Sabyan yang disebutkan Somad memang sedang terkenal-terkenalnya, bahkan video klip soal lagu-lagu mereka di Youtube jauh lebih banyak ditonton daripada ceramah-ceramah Abdul Somad. Hmmmm…. hmmmmm…. hmmmm…. ~

Hal ini sebenarnya merupakan indikasi bahwa Somad tidak setuju kalau dirinya ditunjuk hanya karena dia populer. Secara kapasitas Somad cukup sadar diri bahwa lebih banyak politisi-politisi yang bisa menyampaikan aspirasi umat dalam ranah politik dan lebih baik untuk dimajukan sebagai cawapres. Apalagi politisi-politisi tersebut diyakini lebih bersedia daripada capek-capek “memaksa” Somad, yang salah-salah malah berujung pada kekecewaan kepadanya. (K/A)

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2018 oleh

Tags: abdul somadcawapresIjtima Ulamanissa sabyanpemimpinPilpres 2019Prabowo SubiantoSalim Segafumaraustaz
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Prabowo-Gibran.MOJOK.CO
Aktual

7 Alasan Mengapa Satu Tahun Masa Kepemimpinan Prabowo-Gibran Layak Diberi Nilai 3/10

20 Oktober 2025
makan bergizi gratis MBG.MOJOK.CO
Aktual

Omon-Omon MBG 99 Persen Berhasil, Padahal Amburadul dari Hulu ke Hilir 

19 Oktober 2025
makan bergizi gratis MBG.MOJOK.CO
Aktual

MBG Jadi “Skandal Besar”, tapi Pemerintah Seolah Lepas Tangan: Kudu Dihentikan Sementara dan Dievaluasi Total

17 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.