Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Epidemiolog Usulkan Indonesia Lockdown Demi Menekan Angka Penyebaran Corona

Redaksi oleh Redaksi
4 September 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kasus positif corona di Indonesia terus naik. Kurvanya belum juga melandai. Lockdown dinilai menjadi  solusi yang paling masuk akal.

Kritik demi kritik tak henti-hentinya meluncur menampar wajah pemerintah Indonesia karena dinilai gagal menangani pandemi corona atau covid-19.

Indonesia saat ini memang menjadi salah satu negara yang belum berhasil melandaikan kurva penyebaran. Di Asia Tenggara, Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan jumlah kasus positif corona dengan 184.286 kasus, namun menempati peringkat pertama negara dengan korban meninggal terbanyak dengan 7.750 korban jiwa.

Perkembangan kasus corona di Indonesia pun berada di titik yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir, Indonesia terus mencatat rekor jumlah penambahan kasus positif harian. Tanggal 3 September kemarin, misalnya, Indonesia mencatatkan angka penambahan kasus positif harian tertinggi yakni 3.622.

Merespons kondisi tersebut, epidemiolog UI Pandu Riono pun memberikan usul agar pemerintah segera menerapkan lockdown. Hal tersebut menurut Pandu menjadi langkah yang paling masuk akal untuk menekan angka penyebaran corona.

“Kasusnya sudah lebih 180 ribu, yang harusnya dilakukan adalah lockdown, PSBB ketat. Semua moda transportasi disetop, kecuali transportasi untuk logistik makanan,” terang Pandu kepada CNN Indonesia.

Menurut Pandu, pembatasan aktivitas bisa menjadi elemen penting dalam upaya melandaikan kurva selain peningkatan kapasitas tes dan pelacakan virus.

Pemerintah dinilai harus benar-benar ketat dan total dalam menerapkan lockdown atau pembatasan aktivitas masyarakat.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dulu sempat dilakukan oleh pemerintah pun tak bisa optimal melandaikan kurva dan menekan angka penyebaran karena memang penerapannya tidak ketat dan tidak serius. Tidak ada sanksi ketat yang diterima oleh para pelanggar. Yang ada hanya sebatas sanksi kedisiplinan.

“Kita dari dulu PSBB-PSBB tapi tidak serius, padahal kalau serius kita PSBB, lockdown semua, kasusnya 2 minggu sampai 1 bulan bisa menurun,” kata Pandu.

Kendati penting dan mendesak, namun usul lockdown yang diajukan oleh Pandu Riono tampaknya bakal sulit untuk dilakukan oleh pemerintah, hal tersebut mengingat pemerintah selama ini memang diketahui punya orientasi bercabang pada kepentingan kesehatan masyarakat sekaligus ekonomi.

Hal tersebut sesuai dengan konsep gas dan rem yang disampaikan oleh Jokowi.

Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir beberapa waktu yang lalu bahkan sempat mengatakan bahwa pemerintah tak perlu lagi menerapkan PSBB karena bisa menganggu ekonomi.

“Tidak perlu lagi kita misalnya harus lockdown, harus PSBB, enggak perlu. Kalau kita lockdown atau PSBB, apa yang terjadi? Ekonomi tidak bergerak, negara kita menjadi resesi,” kata Abdul.

Yah, kalau sudah begini, memang tak ada jalan lain selain pasrah.

Dari dulu, memang begitulah kemampuan super rakyat Indonesia: mau tak mau menerima apa pun kebijakan pemerintah, blunder atau tidak.

Lockdown

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2021 oleh

Tags: coronalockdownpandu riono
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pagar Keraton (Bukan) untuk Rakyat Yogyakarta

Pagar Keraton (Bukan) untuk Rakyat Yogyakarta

8 Juli 2021
Pandemi dan Wajah Sesungguhnya Para Pemimpin Kita MOJOK.CO

Pandemi dan Wajah Sesungguhnya Para Pemimpin Kita

24 Juni 2021
Sultan Nggak Kuat ‘Ngragati’ Rakyat untuk Lockdown DIY, Netizen Tanya: Kenapa Tak Pakai Danais Aja?

Sultan Nggak Kuat ‘Ngragati’ Rakyat untuk Lockdown DIY, Netizen Tanya: Kenapa Tak Pakai Danais Aja?

22 Juni 2021
Ivermectin Beneran Obat COVID-19? Jangan Mudah Percaya Pesan WhatsApp dengan Status ‘Forwarded Many Times’

Ivermectin Beneran Obat COVID-19? Jangan Mudah Percaya Pesan WhatsApp dengan Status ‘Forwarded Many Times’

11 Juni 2021

Belajar dari Masjid Aljihad

3 Mei 2021
Bukan karena Hidayah Anak Saya Lupa Rasanya ke Gereja

Bukan karena Hidayah Anak Saya Lupa Rasanya ke Gereja

4 Maret 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.