Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Penjaskes

Kenapa Tingkat Obesitas di Jepang Rendah, Tak Seperti di Amerika?

Redaksi oleh Redaksi
14 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Penduduk Jepang dikenal sebagai penduduk dengan tingkat obesitas terendah di dunia. Uniknya, konon hal ini berkaitan dengan aspek kemiskinan. Loh, kok bisa?

Dikutip dari buku Japanese Woman Don’t Get Old or Fat oleh Naomi Moriyama, Jepang memang dikenal baik sebagai negara dengan tingkat obesitas yang paling rendah di dunia, yaitu 3,6%. Kabarnya, hal ini merupakan pengaruh angka kalori yang dikonsumsii orang Jepang, yaitu 25% lebih sedikit dibandingkan dengan rata-rata konsumsi penduduk Amerika.

Orang-orang Amerika, di sisi lain, kerap muncul dalam pemberitaan kesehatan terkait obesitas dan kondisi tubuh dengan bobot berlebih. Negara ini bahkan menjadi negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia, yaitu mencapai 35%.

Apa yang membedakan penduduk Jepang dan Amerika dalam hal keadaan tubuh?

Ada beberapa faktor yang memengaruhi hal ini. Penduduk Jepang cenderung bertubuh kurus dan tidak mengalami obesitas yang tinggi karena tingkat usia rata-rata yang tinggi. Di Jepang, usia rata-rata kaum wanita mencapai 85% dan termasuk tertinggi di dunia.

Selain itu, dilansir dari Dream.co.id, seorang netizen asal Jepang menyebut hal ini juga mungkin terjadi karena pengaruh tingkat kemiskinan dan pendidikan.

Bagaimana faktor-faktor tadi benar-benar berpengaruh?

Tingkat pendidikan yang baik di Jepang mendorong warganya untuk memiliki pengetahuan mendalam perihal nutrisi. Apalagi, bentuk tubuh yang memang lebih kecil memang mendorong pengetahuan mendalam soal asupan yang lebih sedikit.

Dari segi kesehatan dan pola makan, setidaknya ada beberapa hal yang membedakan keadaan di Jepang dan Amerika. Kalau orang-orang di Amerika lebih banyak mengonsumsi fast food, hal yang berbeda ditemukan di Jepang.

Pertama, bahan dasar makanan di Jepang untuk menekan tingkat obesitas, sebagian besar, adalah ikan, kedelai, beras, sayuran, dan buah. Hal ini sebenarnya bisa kita amati dan lihat langsung saat berkunjung ke restoran Jepang. Sangat khas dan otentik, kan?

Kedua, aturan makan di Jepang juga sangat diperhatikan dengan baik. Agar penduduknya tak mengalami tingkat obesitas tinggi, mereka cenderung berhenti makan saat 80 persen kenyang, setelah menikmati makanan secara perlahan-lahan.

Ketiga, masih berhubungan dengan aspek kemiskinan, penduduk Jepang kebanyakan cenderung memilih memakan roti dan ramen yang tergolong murah dibandingkan nasi. Ternyata, hal ini justru berpengaruh dalam penekanan tingkat kalori yang dapat membantu mengurangi kemungkinan obesitas.

Keempat, keberadaan teh hijau (ocha) khas Jepang ternyata bukan tanpa sebab. Meski rasanya pahit dan tawar, teh ini bermanfaat dalam penyerapan lemak dalam tubuh dan mendukung pembakaran lemak. Belum lagi, teh ini mengandung bahan antioksidan yang dapat mendukung kesehatan, sekaligus menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah.

Terakhir, di Jepang, tak seluruh warga memiliki rumah karena harga tanah terlalu mahal. Kendaraan pribadi juga jarang digunakan karena kebanyakan warga lebih memilih menggunakan transportasi publik. Tak sedikit pula yang memilih berjalan kaki, baik untuk pergi ke kantor, supermarket, sekolah, atau sekadar berekreasi.

Iklan

Dengan kata lain, orang Jepang memiliki kecenderungan obesitas lebih rendah karena mereka kerap berolahraga setiap hari. Ruang hijau terbuka juga banyak ditemui—udara yang bersih turut mendukung tingkat kesehatan dan tubuh untuk terus bergerak melawan obesitas.

Sederhana tapi ampuh, kan?

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2019 oleh

Tags: Amaerikanasiobesitaspenduduk Jepangramen
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

resep nasi goreng. mojok.co
Hiburan

10 Olahan Nasi Terbaik di Indonesia Versi Taste Atlas, Ada Nasi Goreng hingga Nasi Uduk

13 Maret 2023
hampers ulang tahun anak
Podium

Bunda, Tolong Jangan Isi Hampers Ulang Tahun Anak dengan Jajanan Indomaret

18 Februari 2023
kedai ramen di jogja (Mojok.co)
Kilas

Rekomendasi 10 Kedai Ramen dengan Menu Halal dan Non-Halal di Jogja

27 Januari 2023
Sapporo Ramen mojok.co
Liputan

Sapporo Ramen, Kedai Ramen Pertama di Jogja dan Saran Menu dari Pelanggan

8 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.