[MOJOK.CO] “Masa lalu juga ada di internet, mulai dari rekam jejak kealayan masa muda sampai kegemaran menyebar hoax. Berikut cara ‘menguburnya’.”

Akhir tahun lalu saya diminta membentuk tim untuk mengelola dapur pemblokiran konten internet yang artinya saya harus merekrut pegawai baru non-PNS. Proses pencarian pun dilakukan. Setelah beberapa minggu, terkumpulalh sekitar 20-30 daftar riwayat hidup para pelamar.

Terus terang saya tidak melihat sama sekali pelamar berasal dari kampus mana atau memiliki Indeks Prestasi berapa. Yang pertama kami lakukan adalah melakukan profiling para pelamar dari riwayat mereka berinternet.

Jejak-jejak digital para pelamar diurai satu per satu, sampai akhirnya kami menemukan beberapa yang cocok untuk didalami lebih jauh. Baru dari situ kami interviu secara khusus dan merekomendasikan beberapa dari mereka untuk bergabung di “tim hore” kami.

Suka tidak suka, jejak digital kita di internet wabilkhusus di media sosial bertebaran. Dari situ kita bisa menganalisis sekilas bagaimana karakter dari orang yang akan kita rekrut. Seberapa nyinyir dan kasar orang tersebut berujar, seberapa berisik dan cerewet orang tersebut, seberapa terbuka orang tersebut, apakah orang tersebut tipe yang reaktif atau proaktif, apakah orang tersebut orang yang menyenangkan untuk bekerja sama, apakah orang tersebut tipikal oportunis, baperan, dan lain-lain.

Baru kita pilah berdasarkan kriteria pegawai yang dibutuhkan. Khusus untuk tempat saya, kriteria yang dibutuhkan adalah tipe pegawai yang paham seluk-beluk medsos, tapi tidak terlalu berisik di medsos. Selain itu tetu ada beberapa kriteria lain yang tidak bisa saya sebutkan. Dari situ saya bisa merekomendasikan siapa yang tepat bergabung di tim saya.

Saya yakin sekarang dan sampai beberapa tahun ke depan, perusahaan atau instansi akan menggunakan metode alternatif seperti ini untuk menilai calon pegawainya.

Perusahaan atau instansi mana sih yang mau merekrut pegawai yang sering menyebarkan kebencian di media sosial dan sering mengumpat atau mencaci orang yang berbeda pendapat?

Perusahaan atau instansi mana yang mau merekrut pegawai yang tipikalnya selalu nyinyir terhadap berbagai isu? Untuk isu yang tidak paham saja orang tersebut sering nyinyir dan sok tahu, apalagi nanti jika terkait isu perusahaan atau instansi yang akan dia tempati. Pasti tidak menyenangkan bekerja dengan mereka, bukan?

Baca juga:  Beginilah Nasib Jadi Pedagang Online

Bagaimana jika jejak-jejak tersebut sudah kita hapus di internet? Saya tanya balik, yakin jejak tersebut hilang? Ada banyak lho metode untuk menarik kembali jejak-jejak digital yang terkubur. 🙂

Bagaimana jika sudah telanjur meninggalkan jejak-jejak negatif?

Saran saya sih, mulailah dengan membanjiri akun media sosial atau blog kita di internet dengan banyak informasi atau pesan-pesan positif.

Jangan sampai kita menanggung malu kepada anak cucu cicit kita di masa depan karena mereka membaca semua jejak negatif kita di internet pada masa kini. Digital is “eternal”!

Internet dan Jebakan Doktrin

Kebiasaan pengguna internet browsing atau klak-klik konten di mesin pencari maupun di media sosial termasuk di situs YouTube dipelajari sangat baik oleh mesin yang ditanam kecerdasan buatan oleh pemilik situs atau media sosial. Kebiasaan atau perilaku pengguna internet diubah menjadi kumpulan angka-angka yang kemudian diolah dengan algoritma agar si mesin bisa memprediksi “apa sih yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengguna tersebut?”.

Sederhananya, kalau kita terbiasa dan sering menelusuri/browsing menu masakan, hasil pencarian kita pada browsing-browsing berikutnya akan diarahkan oleh mesin pintar ke konten-konten terkait masakan atau sejenisnya.

Demikian juga jika kita terbiasa menelusuri konten-konten “dewasa”, sang mesin pencari akan membantu mengarahkan hasil pencarian kita ke situs-situs dengan konten dewasa.

Dari sudut pandang teknologi, mesin pintar membantu pengguna internet untuk lebih cepat dan relevan dalam melakukan penelusuran konten. Namun, dalam sudut pandang sosial, ada yang perlu kita khawatirkan. Apa itu?

Jadi, sekalinya kita terjebak pada suatu keyakinan atau pemahaman yang salah tentang sebuah isu di internet, konten yang kita peroleh dari penelusuran-penelusuran berikutnya justru seringnya malah menguatkan kita bahwa apa yang kita yakini itu benar.

Kita akan terus-menerus disajikan hasil penelusuran berisi konten-konten yang kebanyakan sesuai dengan pemahaman yang kita mau.

Baca juga:  Mengasihani Orang yang Tidak Tahu bahwa Dia Tidak Tahu

Di situ algoritma mesin kecerdasan buatan secara tidak sengaja mulai menjebak pemikiran pengguna internet!

Jika pemikiran atau doktrin kita sudah benar-benar terjebak, sajian konten internet yang bertolak belakang atau bertentangan dengan keyakinan kita pasti akan diabaikan atau bahkan tidak dilihat sama sekali. Kita akan terus-terusan membaca konten yang menurut kita paling dan selalu benar!

Dalam jangka panjang, jebakan algoritma tersebut membuat pengguna menjadi fanatik, sering mengabaikan fakta, permisif terhadap hal-hal yang seharusnya dilarang oleh norma, bahkan bisa bertindak melebihi kebiasaan hidup pengguna tersebut sehari-hari di dunia yang lebih nyata.

Gejalanya, orang yang kesehariannya tidak pernah bicara kasar atau untuk bicara saja sungkan dan malu-malu, tapi di media sosial dia sangat berani bicara keras, bahkan mungkin sesekali lugas mencaci maki, berani melakukan persekusi atau menandai seseorang dengan stigma negatif, berpendapat “ngasal” terhadap suatu ilmu yang tidak pernah dipelajarinya, atau menganggap semua yang berbeda pemahaman adalah “musuh” virtual dan faktualnya.

Itu gejala otak kita “terjebak” oleh cara kerja mesin pintar!

Apa yang harus dilakukan?

Coba tutup dulu link-link yang biasa Anda baca, coba buka dan analisis sesering mungkin link-link bacaan yang menurut Anda salah, dan perbanyak teman di media sosial yang beda pemikiran politik atau agama dengan Anda.

Lambat laun mungkin Anda akan sedikit memaklumi atau syukur-syukur memahami kenapa mereka berbeda. Di tingkat yang lebih baik, mungkin Anda akan sadar kalau selama ini apa yang Anda yakini benar ternyata salah! Dan apa yang Anda yakini salah ternyata justru itu yang paling benar!

Di sini saya merasa beruntung karena saya bekerja di tempat di mana banyak konten bisa saya lihat, baca, amati, dan analisis dari banyak sudut pandang yang berbeda.

Terkadang saya lebih beruntung lagi karena sering menemukan benang merah kekisruhan di belantara siber ini!

Sumber: status Facebook Teguh Arifiyadi berjudul “Jejak Kita di Internet” dan “Internet dan Jebakan Doktrin“.

 

 

Komentar
Add Friend
No more articles