Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sungguh Saya Tiada Menyangka Pak Henry Subiakto Bakal Berubah Sejauh Itu

Robertus Bellarminus Nagut oleh Robertus Bellarminus Nagut
14 Oktober 2020
A A
henry subiakto
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Semua orang berubah, tak terkecuali Pak Henry Subiakto. 

Saya terpaksa mengingat sosok yang pernah dekat dengan saya di masa lampau, Pak Henry Subiakto, ketika dirinya, melalui akun Twitter miliknya @henrysubiakto menulis cuitan yang mendadak menjadi ramai, amat ramai: “Buruh demo itu logis, karena kekuatan utama mereka memang di situ, bukan di argumentasi. Tapi kalau ngaku intelektual ikut demo seperti buruh, berarti mereka lemah dalam argumentasi dan enggan adu dalil dan konsep di MK. Lebih senang atau menikmati budaya grudak gruduk.”

Saya mengingat beliau sembari terkejut, sebab sikap itu, jika memang benar cuitan tersebut adalah pandangan pribadinya, adalah sikap yang menurut saya sangat tidak Henry Subiakto. Setidaknya, Henry Subiakto yang saya tahu.

Begini, ada beberapa hal yang membuat saya terkejut dan heran. Hal-hal yang mau tak mau harus mengacaukan segala ingatan saya tentang sosok bernama Henry Subiakto itu.

Pertama, saya mahasiswanya. Dulu. Iya, dulu. Karena sekarang saya sudah selesai kuliah dan tinggal di kampung. Itu pula alasannya saya tidak sempat ikut demo yang kemarin itu (halaaah, alasan).

Melihat ada mantan dosen saya berpendapat bahwa demo adalah sebuah aksi ‘grudak-gruduk’, saya tentu saja sedih bukan kepalang. Lebih sedih lagi sebab dosen itu adalah Pak Henry Subiakto.

Saya teringat, betapa dulu, saat Pak Henry Subiakto mengajar, mendadak seseorang mengetuk pintu kelas, ia masuk dan kemudian mengabarkan bahwa sedang ada aksi demonstrasi di Dieng Plaza. Belakangan baru kami ketahui kalau orang yang mengetuk pintu kelas kami tersebut adalah utusan dari KAMUM (Komite Aksi Mahasiswa Unmer Malang).

Lantas, tahukah kalian apa yang dilakukukan oleh Pak Henry Subiakto setelah utusan tersebut menyampaikan informasi itu? Ya, Pak Henry melalukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang dosen yang baik: mengizinkan siapa saja mahasiswanya yang ingin keluar kelas untuk ikut turun aksi.

Maka, ketika sekarang saya membaca cuitan Pak Henry yang menyebalkan betul itu, sesak juga dada saya, sebab itu artinya, beliau menganggap kami, para mahasiswanya yang saat itu keluar untuk ikut aksi, sebagai kelompok yang lemah argumentasi dan enggan adu dalil.

Air mata saya jatuh. Eh, ini lebay, sih. Tapi, iya. Saya sedih.

Misalkan ingatan pertama itu dianggap sebagai alasan yang terlalu mengada-ada untuk bersedih, mungkin alasan yang kedua berikut ini jauh lebih bisa diterima.

Kedua, Pak Henry adalah dosen yang menyenangkan. Baliau adalah satu dari sedikit dosen yang cara mengajarnya begitu asyik dan ceria. Ia selalu mampu menerangkan materi lengkap dengan contoh-contoh yang relevan dan menyenangkan serupa seorang guru TK saat menerangkan tentang bentuk bulat, kotak, dan segitiga.

Sepanjang yang saya ingat, Pak Henry mengampu mata kuliah komunikasi massa dan kerap membawa contoh media-media yang keliru serta bagaimana dia harus dibenahi. Oh, iya. Dulu Pak Henry aktif di jurnal Media Watch juga. Beliau sosok yang kritis sekali. Dan tentu saja, pemberani. Mungkin akademisi memang harus begitu. Tidak takut membela kepentingan publik, orang kebanyakan, siapa saja yang berhak atas perlakuan jujur dan adil dari media sebagai “penguasa” informasi.

Nah, dengan alasan yang kedua di atas, tak salah bukan kalau saya sedih saat membaca cuitan Pak Henry?

Iklan

Rasa getir itu timbul sebab dulu, Pak Henry sebagai sosok yang pasti bakal mendukung apa saja yang berkaitan dengan penyampaian pendapat, utamanya jika pendapatnya itu dirasa penting untuk melawan potensi kezaliman penguasa.

Dalam hati, saya benar-benar berharap, dulu ketika Pak Henry mengizinkan para mahasiswanya untuk ikut aksi, itu murni karena beliau menganggap kami para mahasiswanya sebagai pribadi-pribadi dewasa yang punya hak untuk mengemukakan pendapat lewat jalur demokrasi, jalur yang dilindungi undang-undang. Bukan karena ia menganggap kami lemah dalam berpendapat dan enggan beradu dalil.

Ketiga, Pak Henry adalah dosen yang sangat dirindukan. Beliau memang bukan dosen di Universitas Merdeka Malang. Beliau adalah dosen tamu yang biasanya mengajar seminggu sekali. Tiap kali mengajar, beliau nglaju dari Surabaya ke Malang. Hal itulah yang agaknya membuatnya sering dirindukan. Dirindukan kehadirannya, sesekali dirindukan ketidakhadirannya. Maklum, mahasiswa kan tidak semuanya punya iman yang teguh, sesekali juga suka kalau kelas kosong dan bisa nongkrong di warung belakang kampus.

Adalah menyakitkan ketika dosen yang dulu dirindukan sekarang justru mengumbar kalimat yang malah membuat kami malas untuk merindukan sosoknya.

Tentu saja saya masih tidak bisa menutupi kesedihan saya, namun jika mengingat fakta bahwa beliau adalah dosen yang sangat sibuk, maka timbul juga pemakluman saya atas cuitannya di Twitter itu. Orang yang terlampau sibuk memang kadang suka lupa to?

Pada akhirnya, saya memang harus menerima kenyataan, bahwa cuitan Pak Henry tersebut pada akhirnya membulatkan keyakinan saya bahwa waktu memang bisa membuat seseorang berubah. Walau saya masih agak masygul, sebab perubahan yang terjadi pada Pak Henry ternyata se-ekstrem itu.

Saya masih ingat betul itu fragmen tiap kali saya melihat Pak Henry tampil di televisi. Tentu saja sebagai seorang narasumber bermutu, bukan sebagai bintang tamu acara kuis. Tiap kali wajahnya nongol, saya pastilah langsung bersombong ria, kadang kepada kawan-kawan saya, kadang kepada orangtua saya.

“Wah, bagus sekali dia punya omong,” kata ayah saya suatu kali.

“Itu sa pu dosen, Bapa!” kata saya bangga betul. Ayah saya pastilah semakin tulus membiayai ongkos kuliah saya kalau dia tahu bahwa dosen yang mengajar saya adalah sosok yang dia puji dan sering nampang di televisi.

Keparat. Saya tiba-tiba merindukan kembali perasaan semacam itu. Sesuatu yang mungkin akan bertepuk sebelah tangan setelah Pak Henry menyatakan pikiran termutakhirnya di Twitter. Sama halnya dengan merindukan beberapa aktivis reformasi agar tidak perlu mematikan perjuangan adik-adiknya dalam menolak Omnibus Law dengan mengungkit-ungkit perkara fasilitas umum yang rusak.

Ah, kenapa pula saya saya harus sedih dengan perubahan Pak Henry Subiakto. Bukankah perubahan, apalagi kalau sudah menyangkut politik, itu memang niscaya adanya? Jokowi yang dulu pernah kangen dan minta didemo saja sekarang malah mengaku sedih karena didemo melulu, toh?

BACA JUGA Gara-Gara Amien Rais, 3 Lagu Ini Tidak Cocok Dinyanyikan Aktivis ’98 dan tulisan Robertus Bellarminus Nagut lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2020 oleh

Tags: henry subiaktojokowiomnibus law
Robertus Bellarminus Nagut

Robertus Bellarminus Nagut

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
3 Dosa Indomaret yang Bikin Kecewa karena Terpaksa (Unsplash)

3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa tapi Bisa Memakluminya karena Keadaan lalu Memaafkan

21 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.