• 395
    Shares

MOJOK.CO – Cita-cita luhur dari bekerja adalah untuk menikmati waktu, menikmati hidup, menikmati masa-masa nganggur. Kumpul bersama keluarga. Menengok bapak-ibu yang menua. Tapi ya jangan waktu renovasi rumah saya juga dong mas-mas kuli bangunan.

Sebelumnya izinkan saya untuk bercerita terlebih dahulu. Beberapa hari ini saya memerkerjakan kuli bangunan. Kebetulan, ada dua orang yang hari ini—ketika saya menulis ini—tidak masuk kerja dalam proyek renovasi rumah masa kecil saya.

Yang satu beralasan sedang sambatan ngecor dak di rumah saudaranya, satunya lagi izin bolos karena mau ke bank. Masalah jadi runyam karena saya memang cuma mampu menggaji dua “karyawan” saja. Artinya, rumah saya yang sudah dibongkar-bongkar ditinggal begitu saja tanpa ada yang menggarap.

Mangkel hati ini menghadapi ahli-ahli bangunan yang sering bolos dengan alasan remeh-temeh seperti itu, tambah stres karena deadline puasa sudah mendekati babak akhir dan lebaran rumah ibu saya sudah harus selesai dan bersih agar bisa menerima tamu ala-ala open house pejabat negara.

Lagian apaan itu alasan pamit kerja kok pergi ke bank seharian? Aneh saja bagi saya yang terbiasa dengan mobile banking. Ngapain sih repot banget setor uang atau ambil uang harus seharian izin kerja? Sebenarnya hal separah itu masih mending, dulu malah pernah sehari penuh seluruh tim bolos kerja karena alasan ada sripah tetangga meninggal di desa. Sungguh kultur kerja yang tidak profesional.

Sekarang coba bayangkan jika kebiasaan bolos kerja seperti ini ketemu dengan sistem korporasi yang ketat, apalagi dengan HRD yang killer, mereka para tukang bangunan ahli izin itu pasti akan diberi surat peringatan, lalu tersingkir, tak lama kemudian ditendang dari persaingan kerja yang maju dan modern.

Setiap hari selama beberapa bulan terakhir saya harus berhadapan dengan manusia-manusia berbudaya kerja semalas dan sesantai itu. Awalnya jelas saya ingin mencak-mencak, melampiaskan rasa jengkel, bahkan sering secara langsung saya mengajukan komplain kepada mandornya.

Ya jelas dong, jumlah penggarap proyek tidak konsisten sesuai kesepakatan. Jadi berhak dong saya protes. Akan tetapi, setelah saya renungkan lagi, lama-lama kok pengalaman tidak mengenakkan ini justru memberi saya perspektif baru dalam menyikapi sebuah kultur yang sudah berjarak dengan saya.

Bukannya sombong, sebagai lulusan fakultas ilmu budaya, saya ternyata justru abai dan tidak peka dengan beberapa tradisi yang terjadi dalam masyarakat Jawa. Seperti soal budaya kerja. Begini, saya menyadari bahwa sistem kerja ala Barat ternyata tidak selamanya cocok dengan kultur sosial masyarakat kita, apalagi jika kita bicara di Jawa, khususnya yang di desa-desa pinggiran. Menerapkan peraturan modern begitu saja ke dalam masyarakat desa, begitu juga sebaliknya, tidak bisa serta-merta langsung setel. Kadang memang sedikit-sedikit luput. Desa mawa cara negara mawa tata.

Kebiasaan masyarakat desa yang seolah lambat, terkesan malas, dan santai itu terbentuk karena faktor sosial dan lingkungan yang mendukung. Jadi bukan melulu karena kesalahan manusianya yang loyo, tidak bisa serta-merta kita mencapnya sebagai masyarakat agraris serba negatif yang pemalas. Kerja rutin 8-10 jam sehari, 5-6 hari seminggu, dengan jatah cuti sekali per bulan, ternyata bagi beberapa ruang budaya atau komunitas masyarakat tertentu bukanlah menjadi cita-cita atau standar hidup yang layak. Terutama untuk mas-mas kuli bangunan tadi.

Baca juga:  Ketjil Bergerak dari Kampus, Desa, hingga Keliling Indonesia

Layak? Hm, kata ini pasti punya interpretasi dan pemaknaan nilai yang beragam bagi setiap manusia atau kesepakatan sosial tertentu. Bagaimana jika makna layak adalah tersedianya padi yang siap giling di rumah? Adanya ayam umbaran yang tiap hari rutin menyuplai telur dari hasil pakan yang hanyalah nasi dan sayur sisa di meja makan? Yang jika ada dayoh agung yang siap disembelih saat kedatangan tamu terhormat sebagai hidangan makanan yang pantas dan itu dirasa layak bagaimana?

Bagaimana jika makna cukup adalah ketika tanaman kalanjana (rumput gajah) di pinggir jalan desa untuk pakan sapi dan kambing di kandang belakang rumah tumbuh subur dan tinggal ngarit gratis? Yang jadi tabungan investasi berharga setiap menjelang hari raya Idul Adha?

Atau saat mau membangun rumah, mereka jadi merasa kaya karena bisa mendatangkan selusin tenaga sambatan gratis? Atau standar layak adalah ketika ewuh entah manten atau sripah atau kelahiran bayi, kemudian penduduk se-RT sepakat menghentikan aktivitas kerjanya hanya untuk membantu kelancaran upacara adat? Bisa saja hal-hal tersebut dimaknai sebagai sebuah pencapaian sukses dalam menjalani hidup, atau hal-hal yang masuk pada standar kata layak masyarakat ini?

Mungkin bagi tradisi mas-mas kuli bangunan tersebut, kerja hanyalah bagian dari pengisi hidup. Bukan merupakan rutinitas yang harus diprioritaskan untuk menghabiskan waktu hidup. Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Bagi kultur mas-mas kuli bangunan ini bisa jadi ada banyak kepentingan lain yang sama-sama penting porsinya dalam mengisi kehidupan ini selain bekerja.

Bukankah banyak orang kerja rutin Senin-Jumat juga memburu untuk bisa menikmati Sabtu dan Minggu yang merdeka? Bukankah orang-orang yang selama ini serba terburu-buru sebenarnya bertujuan untuk melambat dan istirahat pada suatu hari nanti? Lalu bukankah setumpuk uang yang kita dapatkan dari kerja keras itu toh juga banyak yang dialokasikan untuk membeli kehidupan sosial yang terampas karena sibuk bekerja?

Baca juga:  Cinta Terlarang Kepada Mas HRD

Bergaul, kongkow, piknik, kumpul-kumpul? Jika ada kalimat mutiara “membanting tulang demi keluarga”, namun ketika anak atau istri minta diluangkan waktu bermain atau sekedar ngobrol malah dianggap mengganggu pekerjaan, lagi sibuk tidak bisa diganggu gugat-lah, lagi deadline-lah, lantas sebenarnya kita kerja banting tulang begini untuk keluarganya siapa sih?

Jika sedang libur, sedang santai, keakraban sosial yang nyaman dengan sekitar—yang oleh masyarakat desa seperti contoh kasus di atas sudah terpenuhi dalam keseharian hidup kita—lantas menjadi benar juga alasan mengapa mereka tidak harus ngoyo kerja, bisa izin seenaknya, tidak takut untuk dipecat atau kehilangan pekerjaan toh juga masih banyak sambilan pekerjaan lain yang menjadi pilihan.

Tidak perlu membeli tenaga karena sudah ada tradisi gotong-royong, tidak perlu lembur karena di rumah sudah ditunggu keluarga dan kawan-kawan, untuk sekedar ngeteh dan bercengkrama menikmati sore. Mungkin juga pikir orang-orang berbudaya santai itu, “Mosok cuma mau leyeh-leyeh menikmati hidup harus menunggu umur 60-an setelah pensiun?”

Mungkin mereka juga akan berumur lebih panjang dan sehat pada masa tuanya dikarenakan punya jadwal tidur siang yang rutin dan pulas. Dan itu sudah jadi kemewahan hakiki yang mereka miliki meski di strata kelas sosial “kelihatan” ada di bawah.

Sebab cita-cita luhur dari bekerja adalah untuk menikmati waktu, menikmati hidup, menikmati masa-masa nganggur. Kumpul bersama keluarga. Menengok bapak-ibu yang menua. Hal yang menunjukkan bahwa segala upaya keras kita selama bekerja toh memang diperuntukkan untuk itu juga kan pada akhirnya?

Tapi, etapi, hal begitu jangan diterapkan ketika saya sedang butuh tukang bangunan juga dong. Saya kan juga punya keluarga yang mesti punya tempat tinggal. Mesti punya tempat untuk berteduh. Masa ketika situ bisa kumpul dengan keluarga dan berinteraksi sosial, lalu hanya karena saya punya kemampuan bayar saya jadi mesti yang ngalah sih?

Oh, iya ding saya lupa. Saya kan lulusan fakultas ilmu budaya yang keblabasan menerapkan kemampuan empati dalam membaca objek penelitian saya. Orang mas-mas kuli bangunan lagi bikin salah sama saya, kok ya malah jadi refleks saya bela.

Niat hati jadi pengamat, malah keblabasan jadi penikmat… Duh, duh, tobat, tobat. Baydeway, rumah saya yang direnovasi bagaimana ini nasibnya?