THE WUR 2027 bikin Jogja agak kaget. Kok bisa, UIN Sunan Kalijaga bisa unggul dari UGM yang itu?
Kamis, 1 Oktober 2026, Detik menurunkan judul yang langsung mengaduk perasaan warga Jogja. UIN Sunan Kalijaga menempati urutan kedua kampus terbaik Indonesia di THE World University Rankings 2027, dan “mengungguli” UGM.
Bayangkan grup WhatsApp alumni UGM hari itu. Sebagian ngakak, sebagian mengirim stiker kucing menangis, sebagian lagi buru-buru membuka PDF metodologi. Di grup alumni UIN Sunan Kalijaga, suasananya mirip kenduri. Biasanya debat begini tuntas di angkringan setelah tiga gelas es teh, tapi kali ini kita menyelesaikannya dengan angka.
Sabar dulu. Tulisan ini menjawab dua pertanyaan. Pertama, kenapa UIN Sunan Kalijaga bisa berdiri di atas UGM di daftar itu. Kedua, kenapa daftar yang sama justru membuktikan bahwa Jogja punya banyak kampus bagus, sehingga calon mahasiswa baru tidak perlu menatap satu pintu saja.
UIN Sunan Kalijaga “unggul” dari UGM itu soal urutan, bukan jarak
THE WUR merilis edisi 2027 pada Rabu, 30 September 2026. Lembaga pemeringkat asal Inggris itu menilai 2.297 kampus dari 118 negara dan wilayah. Detik melaporkan 42 di antaranya berasal dari Indonesia.
Universitas Indonesia memimpin di kelompok 651–700. UIN Sunan Kalijaga dan UGM sama-sama mendarat di kelompok 801–1.000.
Detik menulis UIN Suka di urutan kedua dan UGM di urutan ketiga, lalu menunjuk satu angka sebagai biang keladinya. Lha wong rektor UIN Sunan Kalijaga sendiri, Prof Noorhaidi Hasan, menolak tafsir menang-kalah.
“UIN Sunan Kalijaga dan UGM sama-sama berada dalam kelompok 801-1000 dunia,” ujarnya kepada detikEdu. “Jadi, saya tidak melihatnya sebagai soal ‘mengalahkan’ atau bersaing dengan UGM.”
Rektornya kalem bener. Tapi di dalam hati pasti beliau lagi senyum senyum bahagia.
Yah, anggap saja dua kampus itu duduk sekelas, dan UIN Sunan Kalijaga kebetulan menempati bangku depan. Judul berita harus ringkas. Angka butuh pembaca yang sabar.
Biang keladinya adalah skor riset 82,8 milik UIN Sunan Kalijaga
Angka itu datang dari pilar kualitas riset. THE WUR memberinya bobot 30%, yang terbesar di antara lima pilar. Pilar ini menimbang dampak sitasi, kekuatan, keunggulan, dan pengaruh riset, dengan data yang bersumber dari Elsevier. Skor UIN Suka mencapai 82,8 dari 100. UI mengantongi 44,7. UGM mengantongi 36,3. Detik mencatat, itu nilai terbaik di antara semua kampus Indonesia dalam daftar.
Hitungan kasar saya. Selisih 46,5 poin di pilar berbobot 30% setara kira-kira 14 poin skor total. Selisih sebesar itu cukup untuk mengacak urutan di daftar mana aja.
UGM tetap sekelompok dengan UIN Sunan Kalijaga karena pilar lain menutup jaraknya. THE WUR memberi bobot 33% pada survei reputasi pengajaran dan riset, sementara Kompas mencatat reputasi akademik UGM di QS menempati peringkat 131 dunia. Dugaan saya, reputasi itulah yang “menolong” UGM.
Lalu, kenapa skor riset UIN Sunan Kalijaga bisa setinggi itu? Pertanyaan bagus. Ketua LPPM, Dr Abdul Qoyum, memberi tiga jawaban kepada Detik.
Pertama, dosennya. Menurut Qoyum, banyak dosen dan periset lulusan kampus top luar negeri dan dalam negeri. Bahkan banyak yang berasal dari 10 besar dunia.
Kedua, tradisi kualitas, bukan jumlah. Qoyum menegaskan kampusnya “tidak pernah melakukan engineering” jumlah artikel Scopus lewat skema prosiding, alias tidak menggemukkan angka dengan makalah konferensi.
Menurut hitungan LPPM sendiri, dosen UIN Sunan Kalijaga menerbitkan hampir 80% artikel Scopus mereka di jurnal Q1. Angka itu hitungan internal kampus, bukan data THE WUR, jadi baca dengan kacamata yang pas.
Ketiga, kebijakan rektor. Rektor memfokuskan tata kelola riset pada luaran dan kualitas, lalu tetap menambah insentif dan kuota publikasi di tengah era efisiensi. Kampus juga terus menyalurkan hibah inovasi untuk paten dan hilirisasi, sambil mendorong mahasiswa ikut meneliti.
Jadi, UIN Suka tidak naik karena paling besar. Ia unggul di pilar yang menimbang dampak riset, bukan jumlah riset.
Tapi jangan salah baca. Skor total UIN Suka tetap berada di bawah UI, 36,4–40,1 berbanding 42,4–43,3. Jadi, riset hebat belum otomatis membuat semua pilar ikut hebat.
Detik juga mencatat capaian ini menjadikan UIN Sunan Kalijaga perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) terbaik di Indonesia, dan Rektor Hasan menyebut hasilnya “sejarah baru” bagi UIN Suka dan PTKIN secara keseluruhan.
UGM tidak turun kelas, kok, santai aja
Lalu UGM merosot? Sama sekali tidak. Kompas mencatat, di THE WUR 2026 hanya UI yang menembus 1.000 besar dunia, sedangkan UGM berada di kelompok 1.201–1.500. Setahun kemudian UGM pindah ke 801–1.000. Di QS World University Rankings 2027, Kompas melaporkan UGM naik 18 peringkat, dari 224 ke 206, dengan reputasi pemberi kerja di peringkat 100 dunia.
Kompas juga mencatat UGM berada di posisi kedua nasional untuk reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, dan hasil kerja lulusan, serta memimpin Indonesia di indikator keberlanjutan. Rektor UGM, Prof Ova Emilia, menyebut kuncinya “Social Capital” kampus dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Tempo mencatat UI di peringkat 191 sebagai satu-satunya kampus Indonesia di 200 besar, dengan UGM tepat di belakangnya.
Setahun lalu, lima kampus Jogja di daftar THE WUR 2026 cuma UGM, UII, UAD, UMY, dan UNY. UIN Sunan Kalijaga belum muncul di daftar itu. Jadi bukan UGM yang turun kelas. UIN Suka yang kini ikut duduk di kelas itu.
Jogja bukan cuma Bulaksumur
Dari 42 kampus Indonesia di THE WUR 2027, enam berasal dari Jogja. Mereka adalah UIN Suka, UGM, UAD, UII, UMY, dan UNY. Mari kita absen sisanya, biar nggak ada yang ngambek.
UNY. Satu dari tiga kampus negeri Jogja di THE WUR 2027 (kelompok 1.801–2.000). Mau jadi guru? Detik mencatat QS by Subject 2026 untuk bidang pendidikan menaruh UNY di kelompok 251–300 dunia, di atas UGM (401–450). Kompas juga mencatat UNY di peringkat 425 QS Asia 2026.
UAD. Cari kampus swasta? Tiga dari 10 PTS Indonesia di THE WUR 2027 ada di Jogja. UAD memegang kelompok tertinggi di antara ketiganya (1.601–1.800), sedangkan UII dan UMY berada di 1.801–2.000.
UII. THE Sustainability Impact Ratings 2026 mengukur kontribusi kampus pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Detik mencatat UII di kelompok 401–600 dunia, tertinggi kedua di Jogja setelah UGM (peringkat 41). UIN Suka, UMY, dan UNY menyusul di 601–800.
UMY. Kampus ini naik ke peringkat 526 di QS Asia 2026, dari kelompok 561–580, dan Detik mengutip rilis UMY yang menyebutnya kampus swasta terbaik ketujuh di Indonesia.
Jadi, pilih UIN Sunan Kalijaga atau UGM yang mana?
Saya punya tiga jurus membaca ranking tanpa baper. Satu, lihat kelompok, bukan nomor urut. Kampus sekelompok berarti jaraknya tipis, jadi buat apa bertengkar soal siapa di atas siapa.
Dua, lihat pilar yang cocok dengan tujuanmu. Kalau ingin jadi peneliti, pilar kualitas riset berbicara banyak, sedangkan kalau ingin cepat bekerja, reputasi pemberi kerja di QS lebih relevan.
Tiga, lihat prodi. Cek akreditasinya, biayanya, dan lingkungan belajarnya. Soal biaya, Detik mencatat UKT UIN Sunan Kalijaga 2026/2027 mulai dari Rp0–Rp400 ribu di kelompok terendah dan mencapai Rp9 juta di kelompok tertinggi.
Kalau mengincar reputasi di mata pemberi kerja, UGM masih jawabannya. Kalau mau kampus negeri dengan riset paling berdampak, lirik UIN Sunan Kalijaga. Kalau mau jadi guru, UNY menunggu. Kalau mengincar swasta, UAD, UII, dan UMY layak masuk daftar.
Kampus yang sedang jadi bahan omongan itu sendiri tidak mabuk ranking. Rektor menyebut ranking sarana, bukan tujuan akhir, dan Ketua LPPM menyebutnya milestone perbaikan terus-menerus.
Rektor juga punya kalimat yang pantas menutup tulisan ini:
“Ranking memberi kita cermin untuk melihat posisi dan kualitas kita di tingkat global, tetapi tujuan yang lebih besar adalah menghadirkan pendidikan yang bermutu, penelitian yang berdampak, dan lulusan yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan.”
Cermin tidak memilihkan kampus buatmu. Kamu sendiri yang memilih. Soal siapa menyalip siapa, serahkan ke motor-motor di Ringroad. Jogja menyandang gelar Kota Pelajar karena pilihannya banyak, bukan karena satu kampus.
BACA JUGA Alasan Saya Nggak Kecewa Masuk UIN Jogja meski Bukan Kampus Impian dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
