Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Simbol Kesuksesan seperti Honda ADV 160 Tidak Bikin Kalian Bahagia, Justru Bikin Kalian Menderita

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
24 Juli 2025
A A
Simbol Kesuksesan seperti Honda ADV 160 Tidak Bikin Kalian Bahagia, Justru Bikin Kalian Menderita

Simbol Kesuksesan seperti Honda ADV 160 Tidak Bikin Kalian Bahagia, Justru Bikin Kalian Menderita (Naufan Fisyda Rafikar via Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah membaca naskah liputan tentang Honda ADV 160 yang jadi simbol kesuksesan, saya malah jadi kepikiran hal lain. Yaitu, memangnya beneran masih valid ya mematok simbol kesuksesan dengan barang?

Tidak, jangan bawa-bawa argumen “itu desa, Bro, jelas beda.” Saya hidup juga di desa, tapi saya tak memegang standar itu. Bahwa yang lain masih pake standar itu, saya nggak bisa menampik. Cuman, saya rasa kayaknya kita perlu liat satu fakta yang kelewat terang: orang yang membeli barang agar dianggap sukses, justru seringnya hidup paling menderita.

Ini memang tidak bisa dijadikan patokan, hanya saja, dari banyak contoh kasus yang saya lihat, memang beginilah faktanya. Makin orang pengin dipandang sukses, makin banyak barang dia beli, dan hidupnya justru makin menderita.

Ketika orang sukses itu harusnya tak punya masalah finansial, justru orang-orang yang punya barang yang dianggap simbol kesuksesan ini malah terjerat masalah finansial yang tak masuk akal. Bahkan, untuk makan hari itu aja, ngutang. Bisa jadi seseorang punya Honda ADV 160, mobil, atau hape terbaru. Tapi isi ulang galon saja, mikir dua kali.

Sayangnya, ini nyata. Setidaknya, kenyataan yang saya lihat dari mata kepala sendiri.

Rekening anjlok

Saya punya kerabat dekat. Dia punya segalanya. Jabatan, mobil, rumah besar, dan motor lebih dari satu. Dari luar, tak mungkin orang ini makan susah. Tak mungkin. Harusnya, rekeningnya gendut.

Tapi, ini kan seharusnya. Nyatanya, tidak. Orang ini mungkin punya simbol kesuksesan lebih mahal ketimbang Honda ADV 160, tapi isi rekeningnya, jauh di bawah harga lampu Honda ADV. Bahkan untuk urusan makan, dia kesulitan.

Ini tentu saja bikin saya heran. Bagaimana bisa?

Saya juga punya kerabat lain. Nasibnya sama, bedanya, kerabat yang sebelumnya lebih mendingan. Yang satu ini, sudah nasibnya hancur-hancuran, tapi gengsinya jauh lebih mengerikan. Di saat bisnisnya sudah hancur lebur, dia memilih membeli simbol kesuksesan yang lain, yaitu mobil. Jelas itu lebih mentereng ketimbang Honda ADV 160, tapi efek kehancurannya jelas lebih mengerikan.

Orang ini masih tak mau menurunkan standar. Makan harus enak, rokok harus mahal, mobil harus tetap kinclong. Padahal hidupnya menderita, dan penderitaannya ditularkan pada sanak saudaranya, dengan membuat mereka jadi penyambung hidup. Alias, ngutang tanpa henti.

Saya makin heran, dan hanya bisa bilang, kalian benar-benar gila.

Honda ADV 160 dan kebahagiaan semua

Simbol kesuksesan bisa apa saja. Bisa Honda ADV 160, seperti di naskah liputan Mojok. Bisa jadi mobil kinclong. Atau, bisa jadi jabatan mentereng dan rumah tingkat 3. Tapi semua simbol tersebut punya satu hal mengerikan, yaitu dijadikan patokan, kalau tidak terkejar, artinya gagal.

Padahal kita tahu sendiri, hidup mengejar harta hanya demi validasi tak ubahnya menyayat nadi sendiri dengan pisau berkarat. Tak kunjung terpotong, tapi perihnya tak tertolong, dan karatnya bikin semua usaha pertolongan jadi terlihat seperti omong kosong. Apalagi di masa-masa kini, di mana uang yang besar tak bikin kita makin bahagia, tapi makin merana karena tak bisa lagi jadi jaminan keamanan.

Ketika dicap gagal oleh tetangga dan saudara, banyak yang merasa itu akhir dunia. Padahal kalau otak dipakai, selama pasangan dan anak tak protes, kenapa juga kita harus peduli omongan orang lain. Misalnya, buat apa kalian harus kredit mobil bekas jika ujungnya uang makan keluarga terpotong? Buat apa juga harus beli motor macam Honda ADV 160 agar dicap sukses, tapi beli olinya saja susah?

Iklan

Tak bijak

Di masa krisis seperti ini, saya rasa tak ada bijak-bijaknya masih berusaha mengejar validasi. Lebih baik menyelamatkan diri sendiri, menutup kuping, ketimbang mendengarkan tetangga, saudara, atau kerabat dekat yang seakan-akan jadi petugas penentu kesuksesan. Percayalah, mereka akan jadi orang pertama yang lari dari Anda ketika kalian bangkrut. Melirik saja tidak.

Jadi, belilah Honda ADV 160 karena butuh, tapi bukan karena ingin terlihat sukses. Jangan pernah menuruti kata siapa pun yang bilang Anda baru sukses karena A, B, C, atau D. Ingat, Anda masih hidup, dan bertahan, masih bisa menemui kebahagiaan, itu adalah kesuksesan. Sebab, bahkan, orang-orang masih tak tahu caranya bahagia, dan harus didikte tetangganya.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Motor Honda ADV 160 Memang Keren, tapi Layak Dinobatkan Jadi Musuh Perempuan dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2025 oleh

Tags: Honda ADVhonda adv 160motor Honda ADV 160simbol kesuksesan
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Honda ADV 160 .MOJOK.CO
Ragam

Nasib Punya Motor Honda ADV 160: Jadi Simbol Kesuksesan di Desa, tapi Diolok-olok dan Dicap Norak oleh Orang Kota

22 Juli 2025
Honda ADV 160 .MOJOK.CO
Otomojok

Ketika Honda ADV 160 Menjadi Raja Jalanan: Sebuah Pengakuan Penuh Drama dan Kekaguman

23 Desember 2024
honda ADV 160 150 yamaha nmax yamaha aerox motor matik MOJOK.CO
Transportasi

3 Alasan Orang Beli Honda ADV 160 Meski Harganya Mahal

24 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik MOJOK.CO

Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

28 Februari 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Derita Kakak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Adik Lolos SNBP Malah Overthinking, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Menderita

2 Maret 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.