Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Serbasalah sama Penjual yang Bikin Kasihan dan Orang yang Minta Sumbangan

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
23 Mei 2020
A A
serba salah lihat penjual kasihan dan orang minta sumbangan di masa pandemi belas kasihan orang pengemis musiman penjual twitter do your magic mojok.co

serba salah lihat penjual kasihan dan orang minta sumbangan di masa pandemi belas kasihan orang pengemis musiman penjual twitter do your magic mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Antara kasihan, tapi nggak butuh-butuh amat kalau lihat penjual menawarkan barang. Di sisi lain orang minta sumbangan juga makin kreatif di masa pandemi begini.

Sama-sama tahu kalau masa pandemi bikin semua orang stres. Nggak bakal kelihatan siapa orang yang paling sukar ekonominya, dan mana yang masih bisa bertahan dengan sisa uang di tabungan. Batasan antara orang kaya dan orang tidak berpenghasilan makin kabur.

Kelompok ekonomi menengah bisa jadi merugi lebih banyak daripada yang kelompok ekonomi tingkat bawah. Bahkan kita nggak pernah tahu orang dengan kelompok ekonomi tingkat atas punya berapa banyak utang buat menutupi gaji karyawan mereka. Sementara perputaran uang terpaksa mandeg karena pandemi.

Kondisi semacam ini mendorong kita untuk semakin peka sama orang-orang dengan ekonomi rentan. Banyak kegiatan sosial digalakan, nggak kurang, mereka yang oportunis berburu cuan juga makin banyak bermunculan.

Ketika menemui seorang kakek-kakek penjual kerupuk di tengah siang bolong, jujur saya nggak bisa menolak. Kalau ada uang barang sepuluh ribu, saya selalu beli. Padahal setelahnya saya bingung karena saya nggak doyan-doyan amat makan kerupuk. Belum lagi kalau ketemu ibu-ibu penjual jajanan pasar. Ampun bu, saya beli.

Ada sebuah perasaan serbasalah ketika menemui penjual yang kelihatannya begitu kasihan dan butuh uang. Di sisi lain saya juga terbayang betapa pentingnya untuk berhemat dan nggak membeli barang di luar kebutuhan. Begitu terus siklusnya sampai saya nggak tahu lagi tindakan saya untuk beli atau tidak membeli barang dagangan mereka adalah keputusan random cap-cip-cup dari otak yang kewalahan mikir.

Kawan saya di Tulungagung bercerita tentang penjual pentol yang biasa lewat depan rumahnya. Bapak penjual pentol ini keliling seperti biasa. Kawan saya tadinya ragu-ragu mau beli, tapi akhirnya jadi dengan niat pengin melarisi. Di luar dugaan, penjual pentol ini justru waswas dan insecure.

“Mbak, tapi iki nggilinge ndek pasar. Sampeyan gakpopo a?”
“Lha lapo, Pak. Aku ki arepe ngelarisi sampeyan kok.”
“Bek e sampeyan wedi corona.”

Ternyata penjual yang terlihat kasihan juga kadang nggak percaya diri sama dagangannya sendiri. Saya nggak galau sendirian. Kondisi sekarang memang benar-benar sedih, tapi saya selalu denial.

Lucunya, nggak semua orang mau bekerja begitu. Beberapa memilih jalan untuk mencari belas kasihan orang lain. Beberapa pekan belakangan, saya sering banget ‘dimintai’ keikhlasan untuk menyumbang. Orang yang minta sumbangan ini formatnya nggak kayak pengemis atau pengamen yang nggak akan bikin sungkan kalau cuma ngasih recehan. Mereka ini modal buku catatan yang isinya adalah daftar penyumbang sebelumnya beserta nominalnya pula.

Secara psikologis saya bakal melihat daftar itu lalu menyesuaikan sumbangan saya dengan kebanyakan orang. Baru kemarin dua laki-laki yang mengaku dari Persatuan Kuli Panggul mendatangi saya dan meminta donasi seikhlasnya. Jika ini bukan musim pandemi, saya mungkin nggak akan simpatik sama sekali. Lha mereka segar bugar dan pakai baju bagus.

Tapi lagi-lagi saya mbatin. Iya, ini musim pandemi kita nggak bisa menghakimi siapa orang yang paling susah cuma dari penampilan luarnya. Saya menyerah dan akhirnya menyumbang sepuluh ribu, seperti rata-rata orang dalam catatan yang mereka bawa.

Selang dua jam, dua laki-laki yang berbeda dengan dandanan hampir sama datang. Kali ini mereka mengaku dari Paguyuban Pekerja Bangunan. Bagaimana pun dua kelompok ini tetap orang yang sedang minta sumbangan. Sungguh, saya nggak bisa menolak lagi. Yakali saya jawabnya, “Iri bilang bosss?” Nggak gitu loh. Cuy, saya justru semakin merasa semua orang lagi banyak yang kesusahan belakangan makanya jadi banyak yang minta sumbangan.

Saya ini bodoh apa baik hati sih? Nggak yakin sumpah.

Iklan

Saya ngerti banget belas kasihan buat para penjual yang kelihatan kasihan dan orang yang minta sumbangan itu bisa bikin tuman. Mereka bisa manja dan nggak mau berusaha karena mudahnya dapat duit dari minta-minta. Sudah cukup banyak kasus orang kaya raya hanya dengan mengemis.

Kalau mau kejam, saya bisa bilang mereka adalah oportunis yang memanfaatkan iba orang-orang. Tapi saya sendiri nggak ingin lebih kejam dari pandemi dan saya menyerah.

BACA JUGA Misteri di Balik Gratis Ongkir dan Toko Online yang Ogah Mencantumkan Harga atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2020 oleh

Tags: belas kasihanpandemi coronasosial ekonomi
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

ilustrasi Apa yang Tidak Boleh dan Boleh Dilakukan Saat Penerapan PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 mojok.co
Kilas

Apa yang Tidak Boleh dan Boleh Dilakukan Saat Penerapan PPKM Darurat 3-20 Juli 2021

1 Juli 2021
Prediksi Corona Berakhir 3 Juni Memang Lebih Mirip Ramalan Zodiak mojok.co
Kilas

Prediksi Corona Berakhir 3 Juni Memang Lebih Mirip Ramalan Zodiak

3 Juni 2021
Anakku Ora Pinter Matematika ya Ora Popo, sing Penting Akhlak e Pener MOJOK.CO
Rerasan

Anakku Ora Pinter Matematika Ora Popo, sing Penting Akhlak e Pener

29 Agustus 2020
hadi pranoto anji manji obat covid hadi pranoto ditangkap anji ditangkap gelar dokter profesor panggilan sayang nama hewan nama gelar panggilan kesayangan mojok.co
Pojokan

Next Level Panggilan Sayang ala Hadi Pranoto. Nama-nama Hewan Sudah Kuno!

4 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Tak Sudi Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.