Kalau ada seseorang buka usaha, katakanlah makanan, jualan bakso misalnya, dalam waktu relatif singkat laris dan kekayaannya meningkat, besar kemungkinan orang ini akan dituduh punya pesugihan.
Orang tak bertanya-tanya, apa resepnya. Orang tak bertanya-tanya, seperti apa strategi marketingnya, berapa budget ads-nya, atau mungkin, riset market dan resepnya. Kesimpulan selalu lompat menuju pesugihan.
Seakan-akan, kesuksesan itu harus ditempuh dengan berdarah-darah, penderitaan, serta waktu yang cukup lama. Itu semua betul, tentu saja, tapi selalu ada beberapa manusia terpilih yang entah bagaimana menemukan resep keberhasilan dengan cepat. Itu juga betul, dan ada contohnya.
Bagi saya, ini masalah yang sebenarnya cukup serius. Sebab, kenyataannya, kita hampir selalu tak tahu apa yang terjadi di balik layar, tapi punya keyakinan yang cukup besar untuk memberi vonis.
Benarkah mereka sukses karena pesugihan?
Apakah pesugihan, penglaris, atau apalah itu ada? Ya saya jawab, ada. Tapi tingkat keberhasilannya, saya tak pernah tahu.
Sepanjang saya hidup, saya mendapat banyak cerita tentang pedagang A pakai tali pocong, pedagang B pakai rajah, atau pedagang C pakai sempak di dasar panci baksonya. Ini kebetulan rumor terbodoh yang pernah saya dengar sewaktu SMP, dan ditujukan pada tetangga saya. Celakanya, banyak yang percaya.
Saya juga sempat mendatangi tempat-tempat yang dituduh pakai pesugihan. Produk mereka saya makan, dan ya, jujur saja, aman-aman saja. Memang beberapa tempat yang saya datangi, hampir tidak masuk akal kok bisa rame. Bayangkan, tempat makan yang berdiri di atas selokan yang begitu bau, bisa begitu ramai bahkan hingga waiting list.
Tapi begitu makan, saya jadi paham betul kenapa orang-orang ini rela menggadaikan kewarasan mereka.
BACA JUGA: Mengenang 3 Pesugihan yang Trending pada Zamannya
Apakah tempat ini pakai pesugihan? Bisa jadi, karena tak ada orang yang cukup waras makan di atas selokan. Tapi rasanya begitu enak. Dan rasa yang enak, bikin orang mematikan saklar nalar mereka. Tapi, jangan-jangan, apakah enak karena pakai penglaris? Bisa jadi. Nah tapi, bagaimana kalau kuliner mereka enak karena resep mereka memang enak?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harusnya cukup menggoyahkan keyakinan kita atas pesugihan. Maksud saya, bisa jadi mereka pakai, tapi usaha mereka untuk menciptakan kuliner yang enak juga nggak main-main. Lalu, untuk apa rumor pesugihan disebarkan, kalau produknya memang oke?
Keyakinan yang kelewat besar
Yang menurut saya bermasalah dari rumor pesugihan adalah, kita kerap punya keyakinan yang kelewat besar atas sesuatu yang kita tak pernah tahu. Saya tak bisa membayangkan seseorang yang saleh, yang benar-benar bekerja keras untuk menciptakan kuliner yang enak, dituduh pakai pesugihan.
Padahal bisa jadi, orang ini, telah bangkrut berkali-kali, keluar utang untuk RnD, dan akhirnya menemukan formulanya. Hanya karena kesuksesannya terbilang relatif cepat, orang-orang keburu menempel stempel.
Usaha yang sudah punya nama juga kadang diperlakukan begitu. Hanya karena punya cabang puluhan di banyak kota, dianggap tidak masuk akal. Padahal kalau mau pake otaknya sedikit saja, kalau kau berhasil bikin 10 cabang yang konsisten serta survive, ya wajar kalau ketika buka cabang lagi, mereka berhasil lagi.
Saya tak menampik adanya kekuatan mistis di dunia ini. Pesugihan pun ada, saya tahu. Yang saya protes adalah, jangan memberi label ke semua orang-orang yang sukses. Kerja keras itu ada, dan hargailah itu. memang ada orang yang benar-benar bisa masak enak. Tolong, kalian tahu itu.
Pesugihan itu baiknya jadikan omongan tengah malam di saat kopi masih setengah, atau botol mirasmu masih lumayan banyak. Tidak dijadikan pegangan kebenaran, tidak dijadikan dogma. Cukup sampai situ, jangan dibikin label.
***
Saat melihat konten salah satu YouTuber yang membahas pesugihan bakso Wonogiri, saya melihat banyak orang marah di komen. Saya memahami kemarahan mereka. Di saat yang sama, saya kecewa dengan konten tersebut.
Orang Wonogiri dari dulu terkenal ulet, serius dalam mengerjakan apa yang mereka kerjakan, dan dari dulu, kota ini dikenal sebagai salah satu penghasil perantau terbanyak di Indonesia.
Ketika usaha mereka direduksi jadi sukses karena dupa, tali pocong, tikus, atau apa pun itu, saya sedih. Keputusan mereka meninggalkan segalanya untuk bertaruh demi kesuksesan seakan tak harganya.
Saya menulis ini di saat jauh dari anak, jauh dari rumah, mengorbankan waktu-waktu berharga demi kestabilan yang saya usahakan. Entah kenapa, dada saya ikut menghangat.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Daripada Ngutang ke Pinjol, Mending Pakai Pesugihan, Sama-sama Ngerinya kan? dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN
