Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pendukung Prabowo Atau Pendukung Jokowi Seharusnya Sama-Sama Enak

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
20 Juli 2019
A A
Cebong Pekok, Kampretnya Goblok - Mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pilpres jelas sudah usai. Pemenang sudah ditentukan. Tinggal menunggu pelantikannya saja. Jokowi-Ma’ruf Amin secara resmi sudah ditetapkan menjadi presiden-wakil presiden terpilih, dan Prabowo-Sandi juga sudah ditetapkan menjadi runner-up (eh, maap, yang ini nggak ada penetapannya, ding).

Prabowo sebagai juara kedua (untuk tidak menyebutnya sebagai pihak yang kalah) sudah menyatakan diri menerima hasil pertandingan yang penuh dengan drama yang brutal dan keras. Pertandingan yang jika diibaratkan sebagai pertandingan sepakbola, niscaya adalah pertandingan yang pemainnya kayak Roy Keane dan Gattuso semua.

Banyak dari pendukung Prabowo yang secara ikhlas dan legowo menerima hasil Pilpres, pun tak sedikit yang masih tak terima dan merasa bahwa Prabowo-lah yang seharusnya menjadi pemenang.

Di sosial media, pertengkaran masih tetap terus terjadi, walau tentu saja tidak sekasar dan sekolosal sewaktu Pilpres masih berlangsung.

Para pendukung Jokowi tentu saja berada di atas angin. Mereka bisa punya argumen yang bikin para pendukung Prabowo mati kutu: “Mau kalian ribut bagaimana pun, presidennya tetap Jokowi, weeeeek!”

Sedangkan kubu Prabowo punya argumen yang, walau sebenarnya tidak kuat-kuat amat, tapi tetap bisa bikin pendukung Jokowi keki: “Halah, menang dalam Pilpres yang menimbulkan banyak korban kok bangga.”

Bagi para pendukung Prabowo, apa saja yang dilakukan oleh Prabowo diterima sebagai langkah yang bermutu dan dianggap jauh lebih baik daripada Jokowi secara telak. Pun sebaliknya, bagi para pendukung Jokowi, langkah Jokowi dianggap mampu membacok dan membabat habis langkah Prabowo.

Singkatnya, Pilpres sudah selesai, tapi perdebatan antar pendukungnya masih terus berlanjut.

Pada perspektif tertentu, perdebatan dan perseteruan antara keduanya sejatinya adalah hal yang tak perlu, sebab disadari atau tidak, masing-masing kubu pendukung punya keuntungan yang tidak dimiliki satu sama lain.

Pendukung Prabowo-Sandi tentu saja sedih karena pasangan capres-cawapres yang mereka dukung hanya manjadi juara dua (sekali lagi, untuk tidak menyebutnya sebagai pihak yang kalah). Namun di balik kesedihannya, mereka sebenarnya punya satu kemewahan yang mahal. Apa itu? Mereka tak punya beban moral atas kesalahan yang mungkin kelak akan diperbuat oleh Jokowi-Ma’ruf Amin.

Seperti yang sudah-sudah, selama lima tahun pemerintah periode pertama Jokowi, kita semua tahu bahwa ada banyak kebijakan dan keputusan pemerintah Jokowi yang dianggap buruk.

Nah, tiap kali pemerintahan Jokowi bikin salah, siapa yang kira-kira ikut menanggung beban moralnya? Yak, pendukung Jokowi, bukan pendukung Prabowo.

Hal tersebut juga berlaku terbalik. Pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin boleh senang karena jagoannya menang, tapi di balik kemenangannya itu, mereka juga patut was-was sebab kalau Jokowi-Ma’ruf Amin membuat langkah yang dinilai tidak strategis di mata publik, maka mereka bakal ikut menanggung bullyan-nya, “Presiden pilihan lo, tuh!”

Menjadi pendukung calon presiden yang menang itu berat. Senangnya cuma di masa-masa awal, tapi susahnya lima tahun.

Iklan

Sungguh, betapa adilnya dunia ini. Semua diberikan rasa senang, lega, sedih, dan khawatir dalam porsinya masing-masing.

Jadi, mari berhenti saling menyalahkan. Mulailah menjadi fansnya Syahrini yang mau ngapain saja tetap cantik. Mundur cantik, maju juga cantik.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2019 oleh

Tags: jokowiprabowo
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Mendambakan seperti suami Sheila Dara, Vidi Aldiano. Cara hidup dan perginya bikin iri banyak orang MOJOK.CO

Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.