Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah (unsplash.com)

Kalian pilih kerja di Jogja atau di Bali?

Orang Jakarta sering mengeluhkan ritme kerja orang Jogja yang lambat. Keluhan sudah banyak dibahas di Mojok, salah satunya di tulisan Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan yang punya begitu banyak pembaca pekan lalu. 

Membaca tulisan itu teman saya hanya berkomentar santai, “Belum tahu Bali aja.” Teman saya yang pernah bekerja di Bali selama hampir 2 tahun mengaku bekerja di Pulau Dewata tidak jauh berbeda dengan Jogja. Bahkan, menurutnya, menjadi bekerja Bali lebih santai daripada di Jogja dengan bonus biaya hidup murah.

Biaya hidup di Bali ternyata terjangkau

Awal saya kaget mendengar testimoni kawan saya soal biaya hidup di Bali yang ternyata terjangkau. Ya gimana ya, Bali yang saya tahu itu kota wisata yang sangat hidup dan banyak dikunjungi wisatawan balik dari dalam maupun luar negeri. Saya mengira hidup di sana akan mencekik karena banyak orang menginginkan menghabiskan waktu di sana. 

Akan tetapi, saya keliru, biaya hidup di Bali ternyata masih masuk akal. Biayanya jauh lebih rendah daripada Jakarta dan mirip-mirip dengan Jogja. Bahkan, ada beberapa biaya yang lebih murah dari Kota Pelajar, harga kos-kosan misal. 

Kawan saya ini ngekos di tahun 2022 di area Kerobokan, Badung. Daerah yang cukup strategis dan berbatasan langsung dengan Seminyak, Canggu, dan Umalas. Di tahun itu dengan duit Rp650 ribu sudah bisa menyewa kamar kos. Memang fasilitasnya tidak mewah, hanya kamar kosongan non-AC dengan kamar mandi dalam. Namun, itu semua sudah cukup, terlebih kalau kalian adalah fresh graduate yang sedang merintis dengan motto hidup bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. 

Biaya kost yang terjangkau juga pernah disinggung di salah satu liputan Mojok sebelumnya dengan judul Nekat Kerja di Bali Membuat Sadar, Biaya Hidup di Jogja Terlalu Mahal untuk Gaji yang Memprihatinkan. Di liputan itu disebutkan, pada 2023, harga kost Rp1,3 juta sudah dapat kos lengkap dengan isinya dan ber-AC. Padahal, di tahun yang sama di Jogja, kos dengan fasilitas seperti itu bisa kena Rp1,5 juta.

Tidak hanya soal tempat tinggal, soal makanan pun banyak pilihan yang ramah di kantong. Biaya makan memungkinkan ditekan hingga Rp20.000 per hari. Kalian kaget? Saya juga! Saat mode ngirit, teman saya biasanya sarapan nasi jinggo Rp5.000, makan siang nasi bungkus seharga Rp10.000, dan makan malam nasi jinggo lagi. Total Rp20.000 saja, tapi ingat ini tahun 2022 ya. Sekarang mungkin lebih dari itu ya, tapi katanya masih tergolong murah kok. 

Pace kerja dan suasana mirip Jogja, santai

Hal lain yang membuat kerja di Bali tampak menarik adalah suasananya yang mirip Jogja. Jalanan di sana tidak banyak yang lebar seperti jalanan di Jakarta, tapi lebih sempit seperti jalanan di Jogja. Lalu lintas Bali padat, tapi tidak separah Jakarta. Walau memang, di waktu-waktu tertentu seperti liburan, lalu lintasnya nggilani. Tapi, ada saat-saat pulang kantor masih lengang dan bisa jajan penjual kaki lima di pinggir jalan dengan murah meriah. 

Selain lingkungan tempat kerja, pace kerja pekerja Bali mirip dengan Jogja. Pekerjanya cenderung santai dan berkepala dingin, apalagi dibanding dengan pekerja Jakarta yang cenderung sat-set dan sepaneng. 

Kehidupan yang cenderung selow diperkuat dengan banyaknya hari libur atau dispensasi bagi orang Bali untuk melaksanakan sembayang. Pendatang yang tidak beragama Hindu memang tidak dapat hari libur atau dispensasi yang jumlahnya  banyak ini. Namun, vibes santai ala hari libur turut terasa. 

Poin plus lain jadi pekerja di Bali, di akhir pekan atau hari libur, kalian tidak perlu susah-susah mencari hiburan. Semua tempat wisata mudah dijangkau dalam waktu kurang dari dua jam. Terlebih kalau kalian tinggal di daerah-daerah wisata seperti kawan saya di Kerobokan. Hal lain yang bikin betah, orang Bali itu aslinya ramah-ramah. Kesan awal mungkin memang cuek, terlebih terhadap perantau. Tapi, kalau kita sudah melebur dan menghargai budaya di sana, mereka akan sangat welcome dan hangat.

Sayangnya, karena satu dan lain hal, kawan saya ini harus meninggalkan pekerjaannya di Bali. Dan, hingga detik ini dia sudah bekerja di Jogja, dia kadang masih saja kangen jadi pekerja Bali. Soal gaji, memang dua tempat ini tidak menawarkan upah setinggi kerja di Jakarta. Namun, soal ketenangan batin selama hidup dan bekerja, dua tempat ini bisa jadi pilihan. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version