Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Panduan bagi Pendukung Prabowo untuk Tagih Janji Jokowi

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
12 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pihak yang kalah selalu jadi yang terdepan soal urusan tagih janji kampanye. Makanya, kami coba kasih panduan bagi Prabower untuk tagih janji Jokowi.

Terlepas dari ketidakpuasan pendukung Prabowo Subianto yang masih merasa Pilpres 2019 kemarin curang—sekalipun MK menetapkan sebaliknya, tapi toh nyatanya palu udah diketuk. Jokowi dan Ma’ruf Amin sah ditetapkan jadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan untuk membantah keputusan ini.

Oleh karena itu, ketimbang marah-marah atau bikin kegiatan kontraproduktif, akan lebih baik kesedihan akibat kekalahan itu disalurkan ke hal-hal yang positif-positif saja. Salah satunya: menagih janji Jokowi selama kampenye kemarin.

Sudah jadi kebiasaan lumrah kalau gelaran Pilpres usai, yang duluan menagih janji kampanye malah dari pendukung yang kalah. Ini normal, wajar, dan masih sehat-sehat saja dalam iklim politik.

Masih lekat dalam ingatan, usai Pilpres 2014 silam, nota tagihan janji kampanye disodorkan—bukan dari pemilihnya—melainkan justru dari pihak lawan politik dulu. Ada memang pihak-pihak dari pendukung yang menagih janji Jokowi, tapi kecepatannya selalu kalah jauh ketimbang pendukung lawan.

Oleh karena itu, Mojok merasa perlu menyusun bagaimana pendukung Prabowo bisa menagih janji-janji Jokowi untuk 5 tahun ke depan. Tak usah pedulikan nyinyir pada pendukung Jokowi yang nyebut, idih kemarin ngejek-ngejek janji kampanye kok sekarang nagih-nagih. Nggak usah didengerin. Bikin tambah sakit hati. Hambok yakin.

Sebenarnya ada juga janji-janji yang masih bisa ditagih dalam masa 5 tahun ke belakang. Soalnya kalau dibikin juga daftar janji 5 tahun ke belakang, daftar ini bakal kepanjangan. Jadi kita fokus saja pada janji-janji Jokowi saat kampanye Pilpres 2019 silam. Nah, ini beberapa panduan nagih janji yang bisa kalian coba.

Soal Kartu Sakti

Janji Jokowi selalu akrab dengan kartu. Kalau tidak salah, istilah “kartu kakti” awalnya muncul sebagai sindiran dari pendukung Prabowo kepada Jokowi. Sindiran yang ujung-ujungnya malah dipakai juga oleh pendukung Jokowi.

Sejak mencalokan diri jadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012, janji Jokowi soal kartu-kartu sudah muncul. Pun dengan janji Jokowi pada saat menjadi capres pada Pilpres 2014. Kali ini, janji itu muncul lagi.

Ada tiga kartu “baru” dalam janji Jokowi untuk 2019-2024 ini. Dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Pra Kerja, dan Kartu Sembako Murah.

Di antara ketiga kartu tersebut. Kartu Pra Kerja yang paling mendapat sorotan. Terutama tafsir misleading soal kartu ini. Tafsir yang percaya kalau kartu ini bikin pengangguran bakal digaji oleh negara.

Kritik dan protes tentu belum muncul karena program ini belum jalan, tapi sindir-sindiran udah ada. Salah satunya, ada seseorang yang mengaku ingin fokus jadi pengangguran karena yakin bakal digaji oleh negara gara-gara janji Jokowi satu ini.

Hambok yakin, gontok-gontokan soal kartu satu ini bakalan terus muncul sampai 5 tahun ke depan. Yang satu sibuk nerangin, yang satu sibuk tak peduli. Masing-masing percaya kalau tafsirnya yang paling benar. Tapi—ya harus diakui—ribut topik satu ini masih mendingan sih ketimbang ribut hoaks.

Jadi, semangat ya wankawan untuk nagih janji yang satu ini. Soalnya mengharapkan pendukung Jokowi nagih janji soal kartu ke junjungannya itu sulit. Apalagi kalau kartunya beneran ada 5 tahun ke depan.

Iklan

Soal Infrastruktur

Salah satu narasi yang kerap bikin sebal pendukung Prabowo adalah munculnya istilah “Tol Jokowi”. Rasa sebal ini wajar belaka. Soalnya, sebagai rakyat, pendukung Prabowo merasa apa-apa kinerja pemerintah yang berhasil (entah itu warisan atau memang kerjaan pemerintah periode sekarang) selalu diklaim sebagai hasil kinerja Jokowi semata. Maka tak heran kalau sampai celetukan kritik ngawur seperti “rakyat nggak makan infrastruktur” bisa muncul.

Soalnya infrasktur memang salah satu janji Jokowi yang paling kelihatan wujudnya ketimbang janji-janji lain. Jadi satu-satunya yang bisa “diserang” dari topik ini ya lari ke isu lain. Misalnya utang luar negeri atau soal rakyat nggak makan infrastruktur itu tadi.

Tapi jangan lupa kalian para pendukung Prabowo, Jokowi juga punya satu janji lagi soal infrastruktur. Salah satunya, janji tol Balikpapan-Samarinda yang diklaim akan selesai akhir tahun 2019. Janji Jokowi ini diklaim akan mampu bikin jarak tempuh Balikpapan-Samarinda hanya satu jam.

Jika sampai akhir tahun 2019 belum selesai. Ini bisa dipakai sih untuk dipakai tagih janji. Kecuali kalau memang mau tetep konsen ke sebatas narasi “rakyat nggak makan infrastruktur” ya monggo aja sih. Nggak ada yang ngelarang juga.

Korupsi Dana Desa

Di antara semua janji Jokowi paling ambius, penyaluran dana desa dengan total Rp400 triliun adalah yang paling ngewri. Janji ini sebenarnya sudah dipaparkan juga oleh Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 silam—dengan nominal yang beda. Namun sayangnya, ketimbang cerita positif, citra negatif malah muncul dari realisasi janji Jokowi satu ini.

Setidaknya Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dari Rp186 triliun yang diturunkan negara untuk dana desa sejak 2015, ada 181 kasus korupsi yang terjadi. Lebih bahaya lagi, dari tahun ke tahun, kasus korupsi dana desa selalu meningkat. ICW menyebut bahwa kerugian negara dari 2015-2018 mencapai Rp40,6 miliar. Ini aja belum memasukkan data pada kasus 2019 lho.

Meski agak buru-buru kalau menimpakan kasus korupsi ini karena kesalahan Jokowi, tapi kalian bisa aja mengritik bagaimana pengawasan yang begitu lemah soal dana desa. Di sisi lain, Jokowi juga sebaiknya dikritik agar tidak lepas tangan begitu saja ketika dana yang dijanjikannya malah dikorupsi oleh oknum-oknum kepala desa.

Periode kemarin aja belum beres. Kenapa sekarang malah menjanjikan dana lebih besar lagi? Yakin nggak bakal dikorupsi lagi itu, Pak? Infrastuktur pengawasannya juga jangan luput. Jalan mulu sih yang diurusin.

Nah, gitu ya cara nagihnya.

Bikin Koalisi dengan Golput

Selain soal janji-janji Jokowi, pendukung Prabowo juga bisa bergabung dengan saudara-saudara yang golput. Apalagi, mereka adalah pihak-pihak yang selalu diserang oleh koalisi partai partai petahana ketika kampanye.

Megawati aja pernah nyebut mereka “tak layak jadi WNI” sampai “pengecut” kok. Maka jelas, teman-teman golput adalah koalisi yang menjanjikan. Beberapa isu yang diserang mereka pun selalu menarik dan layak dijadikan senjata. Cocok pokoknya untuk jadi mitra.

Misalnya, soal Pemerintah Jokowi merevisi undang-undang untuk mempermudah warga asing punya properti di Indonesia. Yang lain? Oh ada. Misalnya soal Jokowi yang teken Perpres Jataban Fungsional TNI. Nah lho, katanya anti-Orba? Katanya “jangan sampai ada Orba di antara kita”? Lha ini kok militer aktif malah dimasukkan ke ranah-ranah sipil lagi? Gimana sih?

Tapi buat isu yang terakhir itu, pendukung Prabowo mesti hati-hati. Takutnya menepuk air seni terpercik muka sendiri.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2019 oleh

Tags: janji jokowijanji kampanyeprabowo
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Aktual

Tak Asyiknya Bioskop Belakangan Ini, Ruang Hiburan Jadi Alat Personal Branding Prabowo

16 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.