Membaca Liputan Mojok selalu sukses membuat saya tersenyum manis. Apalagi tulisan Mas Ahmad Effendi yang akhir-akhir ini suka datang pagi ke kantor. Tulisan terakhir yang saya baca adalah tentang temannya, orang tajir melintir dari Jakarta, yang kapok mencoba slow living di desa.
Saya memang gampang tersenyum, tapi nggak selalu manis. Senyum saya manis kalau menemukan tema dan tulisan yang relate. Ya itu tadi, tulisan Mas Ahmad yang kebetulan terjadi juga di keluarga saya. Pas banget karena saya tinggal di desa, posisinya Sleman paling barat, dan punya saudara tajir dari Jakarta.
Saudara saya, per November 2025, mulai menunjukkan batang hidungnya di desa. Sebelumnya, dia dan suaminya, merintis usaha bakmi Jawa di Jakarta dan Bekasi. Kini, kehidupannya sudah mapan.
Orang tajir dari Jakarta, pengin slow living malah buka usaha bakmi Jawa
Saudara saya bernama Anita (50 tahun). Suaminya bernama Wawan (52). Keduanya sudah lama merintis usaha bakmi Jawa di Jakarta. Awal 2025, keduanya membeli sebidang tanah di desa, di belakang lapangan voli. Niat awal pengin slow living, tapi akhirnya buka cabang bakmi Jawa WQWQWQ.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Waktu uji coba rasa setelah sebuah warung dengan dinding kayu itu selesai, saya maklum kalau warung bakmi Jawa mereka di Jakarta dan Bekasi bisa ramai. Intinya, semua masakan mereka memang enak. Keduanya juga memasang harga murah dan pukul rata semua Rp15 ribu.
Mungkin insting bisnis mereka terlalu tebal. Baru satu minggu hidup di desa (mereka punya rumah sendiri selain warung bakmi Jawa), melihat lapangan voli selalu ramai setiap sore dan malam, ide buka warung makan langsung lahir. Cita-cita slow living pikir nanti saja, kata mereka.
Capek karena terlibat langsung
Selama hidup di desa dan menyelesaikan persiapan warung bakmi Jawa, Mbak Anita dan Mas Wawan terlibat di semua proses. Bahkan, kalau sedang ada di warung, Mas Wawan turun tangan langsung untuk memasak. Dan, nasi goreng tanpa kecap bikinan Mas Wawan memang josjis mak bler, kalau meminjam istilah Mas Agus Juliand, food blogger asal Jogja.
Nah, karena terlibat langsung di hampir semua proses bisnis, Mas Wawan tidak bisa lama tinggal di desa. Dalam satu bulan, dia akan menghabiskan satu minggu di desa, dua minggu di Jakarta, dan seminggu di Bekasi. Nggak ada libur, mungkin itu yang bikin dia cepat kaya.
Sementara itu, Mbak Anita, dibantu adiknya, yang mengelola warung di desa. Adik Mbak Anita punya tangan sama jago seperti Mas Wawan. Namanya Mas Budi (42) dan dia jago masak bakmi goreng.
Masalahnya, Mas Budi nggak bisa full time membantu. Dia harus pulang ke Cilacap untuk mengurus bisnis rental mobilnya. Jadi, Mbak Anita memang lebih banyak sendiri.
Oleh sebab itu, dia udah yakin sejak awal kalau impian mau slow living di tanah kelahiran nggak akan terwujud. Bahkan ketika sebetulnya dia punya uang untuk menunjang cita-citanya.
Srawung di desa apakah sepenting itu buat orang tajir dari Jakarta?
Sebetulnya, Mbak Anita sudah terhitung “warga lokal”. Dia menjalani masa kuliah di Sleman. Namun, setelah lulus dan menikah, dia memang langsung hengkang ke Jakarta untuk ikut suami merintis warung bakmi Jawa. Makanya, ketika kembali ke desa, dia cepat akrab dengan beberapa warga.
Jadi, sebetulnya, Mbak Anita ini sudah terhitung sering srawung, tapi dalam tataran yang memang minimal. Dan semuanya baik-baik saja. Sebetulnya, yang membuat dirinya resah adalah pilihan hidupnya sendiri. Awalnya mau slow living, malah buka cabang bakmi Jawa. Kan repot karena dibuat sendiri.
Makanya, saya agak nggak setuju dengan kalimat Mas Ahmad satu ini:
“Setiap minggu, selalu ada saja kegiatan yang menuntut kehadiran fisik. Mulai dari ronda malam, kerja bakti membersihkan makam, arisan RT, tahlilan tetangga yang meninggal, sampai rewang hajatan tetangga yang jarak rumahnya beda RT.”
Saya nggak setuju karena kalimat itu sangat tidak masuk akal. Pertama, ada kalimat “menuntut”. Padahal, di desa tidak ada yang menuntut untuk selalu srawung. Kalau lagi nggak bisa atau malas, ya nggak masalah. Saya sering begitu. Kayaknya Mas Ahmad udah lama nggak pulang ke desa, deh.
Kedua, bagian “setiap minggu”. Ini jelas nggak masuk akal. Kerja bakti itu seminggu sekali. Membersihkan makam, belum tentu enam bulan sekali. Arisan mau bapak-bapak atau ibu-ibu itu sebulan sekali dan malah dinantikan warga karena bisa nyebrak utang atau utang dadakan. Tahlilan dan rewang juga belum tentu sebulan sekali. Hitungan peristiwa di sini terlalu aneh. Itu menurut keyakinan saya, meminjam kalimat Pandji.
Jadi, srawung di desa itu gampang banget. Kalau sampai jadi beban, itu malah aneh orangnya. Sekali lagi, Itu menurut keyakinan saya.
Energi yang terkuras
Sebagai orang yang kini memegang KTP Jakarta, Mbak Anita tentu masih akan kembali ke sana. Namun, dia dan Mas Wawan sudah memulai sesuatu yang mereka cintai. Ya memang lelah, energi terkuras, tapi tidak menjadi alasan untuk berhenti.
Mereka capek karena masalah yang mereka bikin sendiri. Srawung atau bergaul ya memang bisa capek kalau tidak ada niat. Sampai di sini saya malah aneh saja. Kalau mau kembali dan hidup di desa, orang dewasa mana saja pasti sadar bahwa mereka akan menghadapi kultur berbeda.
Kultur, yang tidak dihidupi sebagai bagian dari rutinitas memang berat. Misalnya, dimulai dari hal-hal sederhana seperti mendengar, merasa, dan berpikir. Kalau nggak niat kan jadinya berat.
Jadi, mau orang tajir dari Jakarta, Subang, Toli-Toli, Sorong, Aceh Tengah, Kalimantan Barat, atau Rembang, pasti capek kalau nggak niat. Nggak usah ngomong slow living, kalau nggak niat, bangun pagi aja rasanya energi sudah terkuras. Ya, kan.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan dan kisah menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
