Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Membeli Masker Secara Online dan Perkara Harga Diri

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
2 Maret 2020
A A
masker
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berbelanja online memang menjadi kegiatan yang menyenangkan. Pada titik tertentu, bikin ketagihan. Ada semacam kepuasan saat kita bisa membeli barang secara online dan ternyata barang itu sangat berguna. Kepuasan itu akan semakin menjadi-jadi saat ada kawan kita yang juga tertarik ingin membeli barang serupa dan ia meminta kita link tempat kita belanja.

Tiap kali hal itu terjadi, saya jadi merasa sangat berguna sebagai seorang menusia dan sebagai seorang teman.

Namun ada kalanya, berbelanja online ternyata juga bisa menurunkan wibawa dan harga diri. Saya pernah merasakannya.

Suatu ketika, ketika sedang sekrol-sekrol temlen Facebook, tanpa diduga, iklan masker wajah itu mendadak muncul begitu saja. Iklannya sederhana namun menarik. Iklan sederhana yang terdiri dari video penggunaan masker beserta visual betapa ampuhnya ia untuk mengangkat komedo dan sel kulit mati pada wajah.

Di video iklan tersebut, rasanya menyenangkan melihat komedo-komedo si model video terangkat dengan begitu ringannya. Semacam satisfying video yang begitu kuat tertanam di dalam otak.

Berbekal kepuasan menonton video komedo terangkat, ditambah fakta bahwa adalah sosok yang merasa punya hubungan kurang baik dengan komedo, saya memutuskan untuk membuka lebih lanjut link di iklan masker tersebut dan kemudian membelinya.

Saya membeli satu box, isi 10 sachet. Di marketplace tercantum harganya 160 ribu, tapi saya dapat diskon, sehingga hanya perlu bayar 125 ribu. Ditambah ongkir 15 ribu, total jadinya 140 ribu.

Nama maskernya saya rahasiakan, yang jelas, kemasan box-nya berwarna orange, dengan warna sachet ala-ala merah tembaga dengan gambar wajah seorang wanita memakai handuk di kepala dengan masker hitam yang menutup sebagian wajahnya.

Ketika saya pakai, hasilnya ternyata tak seperti yang ada di video. Memang sih bagian kulit wajah yang saya pakaikan masker menjadi lebih bersih, tapi hasilnya tetap tidak sama seperti yang ada di video. Komedo di daerah sekitar hidung saya tidak terangkat. Tidak satisfying lah.

Tampaknya saya tertipu. Dari sinilah harga diri saya sebagai seorang pembeli mulai sedikit terkoyak.

Nah, beberapa waktu setelah itu, saya menyempatkan diri pulang ke Magelang, saya membawa masker yang saya beli itu dan saya tunjukkannya kepada adik saya.

Bajangkrek setan alas, oleh adik saya, saya malah ditertawakan dan digoblok-goblokkan. Lha gimana nggak goblok, ternyata adik saya sendiri juga jualan masker ini, produk dan mereknya sama persis. Dan Anda tahu harganya berapa? 20 ribu satu box.

Duh Gusti, dalam berbagai urusan, di dalam keluarga, saya hampir selalu diposisikan sebagai kakak yang unggul dan paham akan banyak hal. Namun untuk urusan masker, saya mendadak berubah jadi pesakitan. “Keluasan ilmu” saya seolah tak ada artinya lagi.

Tunai sudah. Harga diri saya dikoyak dua kali, dan itu hanya karena saya membeli masker secara online.

Iklan

Beli masker dengan tujuan mencabut komedo dari kulit, yang tercabut malah harga diri. Bedebah.

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2020 oleh

Tags: masker
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi. MOJOK.CO
Kilas

Naik Kereta Api di Jogja Tak Harus Gunakan Masker Lagi

13 Juni 2023
masker
Kilas

Nasib Apes Roni Octavianto yang Diusir Pengurus Masjid Justru Karena Salat Memakai Masker

3 Mei 2021
doni monardo
Kilas

Setelah Bagikan Masker kepada Massa Pengajian di Markas FPI, Kepala BNPB Doni Monardo Minta Maaf

16 November 2020
masker
Pojokan

Memakai Masker Membantu Saya Menyembunyikan Ekspresi Tertawa Basa-basi

28 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
anak kos ketakutan pasang gas di jogja. MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.