Memaklumi Orang yang Kredit HP, walau Sulit dan Kadang Nggak Masuk Akal

Kredit iPhone demi gaya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang dengan keberanian tingkat dewa.

Alasan Anak Muda Jogja Tak Mau Pakai iPhone Meski Mampu Beli, Merasa Fitur Android Lebih Berguna dan Mudah "Dicurangi".MOJOK.CO

Ilustrasi Alasan Anak Muda Jogja Tak Mau Pakai iPhone Meski Mampu Beli, Merasa Fitur Android Lebih Berguna dan Mudah "Dicurangi" (Mojok.co)

MOJOK.COSecara praktis, kredit HP apalagi iPhone, memang meringankan, tapi ujungnya bikin repot. Lha lagian ponsel itu aset yang mudah sekali menyusut.

Di antara tawaran kredit yang ada dan umum dilakukan orang, kredit HP adalah salah satu yang paling tak masuk akal, minimal buat saya sendiri. Sepanjang hidup, saya lebih memilih menabung untuk dapat ponsel baru ketimbang rela mencicil untuk beli ponsel selanjutnya. Sek to, jangan emosi dulu, saya jelaskan.

Usai nonton di XXI, saya pernah tidak sengaja bertemu sekelompok abege, atau abege tua, yang rentang usianya terlihat nggak jauh dari saya. Mereka malah kelihatan lebih mbak-mbak karena punya dandanan yang feminin.

Saya tahu persis, toilet XXI bukan cuma ruangan buat pipis dan berak. Utamanya, cewek-cewek selalu menghabiskan waktu berlama-lama buat ngaca, dandan, dan merapikan baju yang sebetulnya nggak berantakan. Ini masih mending, ada aktivitas lain yang tentunya bikin cewek lama di toilet, mirror selfie. 

Sekelompok abege itu tampak berpose manja di depan cermin. Bareng bestie-bestie, mereka juga foto dengan gaya seru berkali-kali. Sampai saya nungguin kawan saya selesai berak, mereka masih action di depan kamera. Sebetulnya saya maklum saja, mereka selfie pakai iPhone 12 Pro yang punya tiga “boba”. Ya kalau punya hape sebagus itu, mungkin saya juga foto-foto sampai muka saya habis.

Kawan saya yang usai berak kemudian nyeletuk dengan sirik sambil melirik, “Maklum ya, Wak, iPhone 12 Pro bisa lo beli pake kredit 800 rebu sebulan. Nggak berat lah, cincai. Mana masih dapet cashback 2,5 juta pula.”

Sebab saya bukan aktivis kredit HP dan nggak pernah ngulik soal itu, celetukan kawan saya bikin saya mbatin dalam hati, “Nani?” Tawarannya menggiurkan banget. Satu bulan cukup menyisihkan Rp800 ribu, maka kita resmi sebagai sobat hits XXI yang pakai iPhone 12 Pro tiga boba. Rasanya saya jadi pengin otw iBox. Bayangkan, dalam waktu dua tahun, cicilan itu akan lunas dan merdeka sudah.

Tapi, tunggu dulu deh. Saya paham betul konsep awal kredit HP memang bertujuan buat meringankan pembayaran. Rasanya lebih gampang mengeluarkan uang Rp800 ribu sebulan daripada langsung bayar kontan Rp15 jutaan di awal. Sayangnya, selama dua tahun kita bakal dibayang-bayangi cicilan dan dihantui perkara menyisihkan uang. Selama dua tahun pula kita dilarang pengin barang aneh-aneh, dilarang sakit mendadak, dilarang ada kebutuhan mendesak karena sebagian uangnya bakal buat kredit HP. 

Lebih nyesek lagi, kalau selama dua tahun tiba-tiba pengin piknik agak jauh, harus mikir dua kali. Keinginan rekreasi kepentok masalah ekonomi.

Kalau yang kredit HP modal gaji UMR Jogja, ya selama dua tahun dia bakal sakit lambung karena harus rela banyak makan mi instan. Lagian kalau gaji Anda dua digit sebulan ya pasti pilih bayar kontan, minimal ambil cicilan 3 bulan biar cepat lunas. Ini mah beda perkara.

Meskipun pahit, diakui atau tidak, kredit HP memang sebuah cara pembayaran bagi kaum yang nggak punya banyak uang, tapi terdesak kebutuhan yang nggak pokok-pokok amat. Ini kenyataan. Alih-alih meringankan, sebetulnya kredit justru menjerat.

Kecuali jika Anda punya kartu kredit dan cuma mengalihkan pengeluaran per bulan, kecuali Anda memang pakai ponsel buat kebutuhan kerja, kecuali Anda punya alasan kuat dalam ranah financial plan, udah beda soal lah. Masalahnya, kebanyakan orang yang memutuskan buat nyicil HP dan kesusu punya iPhone itu ya karena nggak ada duit.

Kenapa saya salty cuma sama yang kredit HP? Sebab, HP adalah barang yang mudah sekali menyusut nilainya. Belum ada ceritanya orang beli iPhone terbaru, dijual lagi sepuluh tahun kemudian dengan harga tinggi karena alasan “antik”. Yang ada udah rusak, teknologi kuno, nggak layak pakai lagi.

Beda dengan mobil dan motor yang mungkin masih punya kesempatan untuk pakai alasan antik. Masa pakai HP cenderung lebih pendek. Baru beli iPhone 12 saja, besoknya ada keluaran seri terbaru, ada teknologi yang lebih canggih, ada fitur-fitur lain yang perlu kita punya biar tetap eksis. Memenuhi nafsumu itu lelah, Bestie.

Saya jadi ingat sebuah nasihat dari editor saya dulu. Blio mengatakan bahwa beli mobil second dibayar kontan lebih masuk akal. Sebab, mobil adalah aset yang menyusut. Sedangkan beli rumah justru lebih baik pakai sistem kredit karena rumah dan tanah adalah aset yang bisa berkembang. Konon, ini adalah ilmu dasar buat pertimbangan sebelum beli barang.

Lha, kredit HP walau itu iPhone 12 Pro, tetap banyak ruginya. Kalau tujuan pembelian itu untuk urusan pekerjaan dan begitu mendesak sih nggak masalah. Logikanya, si iPhone bakal menghasilkan cuan seiring waktu dan menutupi biaya kreditnya sendiri. Lha tapi kalau tujuannya cuma buat gegayaan dan tidak menghormati kompleksitas teknologi yang membuatnya mahal, mending beli replika iPhone aja, sumpah.

Mau bagaimana lagi. Saya tetap berusaha memaklumi keputusan orang-orang untuk kredit HP walaupun sulit. Mereka memang pemberani. Berani ambil risiko bayar cicilan dan tahan nafsu selama dua tahun. Mungkin sudah kepalang pengin beli, mungkin juga mereka nggak bisa nabung dan lebih suka disiksa tagihan setiap bulan. Aduh, masokis kali ah.

BACA JUGA Kredit Motor Itu Nggak Dosa, kok Dinyinyirin sih? dan artikel lainnya di POJOKAN.

Exit mobile version