Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Lamaran Kerja Ditolak? Bisa Jadi karena Kamu Terlalu Pintar

Redaksi oleh Redaksi
30 Oktober 2019
A A
Pontang-Panting Gen Z Terjebak Budaya “Orang Dalam” di Dunia Kerja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Pontang-Panting Gen Z Terjebak Budaya “Orang Dalam” di Dunia Kerja (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada kalanya lamaran kerja ditolak karena kemampuan pelamar kurang. Namun, nggak jarang juga penolakan itu karena kemampuan pelamar terlalu tinggi.

Seorang pelamar pernah bercerita bahwa lamarannya ditolak oleh sebuah perusahaan dengan alasan senada dengan saat dirinya ditolak cinta.

Gebetannya pernah bilang, “Kamu terlalu baik untuk aku.”

Bagaikan deja vu, HRD perusahaan mengatakan hal yang sama, “Anda terlalu baik untuk perusahaan.”

Sewaktu wawancara kerja, ia juga membeberkan kepada HRD bahwa selama ini dirinya mendapatkan “receh Google” hasil dari monetasi blog. Terang saja, HRD insecure karena kemampuan perusahaan dalam menggaji karyawannya masih kalah dengan pendapatan sang suhu blog dari AdSense tersebut.

Mungkin dalam benak HRD, ketimbang menggaji orang yang sudah punya penghasilan besar, mendingan mempekerjakan orang yang masih nganggur plus BU alias butuh uang.

Orang yang belum memiliki pekerjaan tentunya bakalan menghargai posisinya kelak. Sementara orang yang cari kerja untuk mengisi waktu luang, bikin HRD waswas, kalau sewaktu-waktu yang bersangkutan menyepelekan pekerjaan yang gajinya nggak seberapa itu.

Di sisi lain, seorang staf HRD pernah membocorkan rahasianya dalam menyaring lamaran kerja yang masuk. Ia mengecek nilai hasil studi pelamar, lalu memilih pelamar yang nggak pintar-pintar amat dengan prestasi yang centang perenang. Alasannya, kalau terlalu jenius, nanti nggak mau disuruh-suruh untuk mengerjakan hal yang sepele.

Sang HRD sudah nggak pede duluan kalau mempekerjakan lulusan yang IPK-nya nyaris 4. Khawatirnya, ketika user memberikan pekerjaan nanti, bukannya dikerjakan, malah dikritisi. Ia juga menghindari kemungkinan karyawan yang terlalu baik ini nggak betah dengan rutinitas yang membosankan. Soalnya tingkat intelegensinya merasa terkhianati dengan entengnya pekerjaan yang diemban. Harusnya ia bisa lebih dari itu sih.

Sebenarnya, alasan “kamu terlalu baik untuk aku” tak hanya populer di dunia asmara, tapi juga  berlaku di dunia kerja. Tak jarang pelamar yang speknya ketinggian tersingkir karena melebihi kualifikasi yang diharapkan. Perusahaan minta lulusan SMA, yang melamar adalah S3 Marketing Harvard, misalnya.

Perusahaan tak tega menggaji SDM yang berdaya saing tinggi hanya dengan UMK. Biarkanlah SDM tersebut mencari perusahaan yang sesuai dengan skill-nya sehingga kemampuannya bisa diganjar dengan layak.

Sama seperti ketika seorang cowok ditolak oleh gebetannya dengan alasan “Kamu terlalu baik buat aku”. Sebab ceweknya merasa tidak bisa mengimbangi si cowok. Misalnya, si cowok sudah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengejar-ngejar cintanya. Eh, targetnya masih setia menyimpan perasaan untuk mantan. Jahat, kan? Itulah alasan mengapa korban penolakan disebut terlalu baik. Maksud perkataany itu, baiknya cari yang lain.

Lamaran kerja ditolak karena terlalu baik harusnya membesarkan hati pelamar. Alasan penolakannya dijadikan pelecut semangat untuk mencari perusahaan yang lebih baik dari perusahaan yang telah menolak. Sangat mungkin di tempat yang lebih baguslah kemampuannya diperlukan.

Sebab, perusahaan berbeda dengan pemerintahan sebuah negara. Kalau pemerintahan sih bisa saja memperkerjakan politisi skill presiden untuk jabatan menteri. Bahkan, konon ada juga gubernur rasa presiden.

Iklan

(hrs)

BACA JUGA Lowongan Kerja Sales dan Marketing di Mana-mana, Emang Kerjanya Ngapain, Sih? atau ulasan di rubrik POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2019 oleh

Tags: hrdlamaran kerjaPutus Cinta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Derita Membuat SKCK yang Merepotkan Sekaligus Diskriminatif MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Buruk Mengurus SKCK, Dokumen yang Merepotkan Sekaligus Diskriminatif Bagi Pencari Kerja

27 Oktober 2025
Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6
Video

Kapankah Saat yang Tepat untuk Putus Cinta? | Semenjana Eps. 6

3 Maret 2025
Pengalaman Pakai Joki Melamar Pekerjaan di Medsos, Nyadar Kalau Cuma Akal-Akalan Setelah Keluar Banyak Duit dan Tak Ada Panggilan Interview.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Pakai Joki Melamar Pekerjaan di Medsos, Nyadar Kalau Cuma Akal-Akalan Setelah Keluar Banyak Duit dan Tak Ada Panggilan Interview

25 Mei 2024
Gen Z Solo, dunia kerja.MOJOK.CO
Ragam

Stigma Gen Z yang Dianggap Nggak Becus di Dunia Kerja, Stigma Paling Serampangan yang Makin Hari Makin Parah Gara-gara Media Sosial

24 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.