Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Ilustrasi Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik (Mojok.co/Ega Fansuri)

Saudara jauh saya, dari Sumatera, nggak punya bayangan lain selain “Malioboro” ketika mereka membuat rencana untuk liburan ke Jogja. Pendapat ini menjadi gambaran umum. Banyak wisatawan nggak belanja, kok, di Malioboro. Mereka hanya butuh eksistensi dan kepastian “sudah sampai Jogja”.

Selebihnya? Ya bonus saja. Mereka lantas wisata kuliner dari Sleman di utara sampai Bantul di selatan. Main ke pantai kalau nggak malas ketika tahu bahwa jalanan pasti macet. Kadang mereka maunya di rumah saja karena cuaca kala itu sedang panas. Mereka nggak lagi pengin “ke mana” semata karena sudah ke Malioboro.

Makanya, nggak heran kalau pusat kota Jogja ini selalu macet. Minimal, penuh dengan manusia yang berjalan dari utara ke selatan sambil lihat-lihat. Sesekali jajan kudapan kekinian, atau makan sate kere di Pasar Beringharjo. Banyak juga yang belanja blangkon dan kaos putih tipis dengan tulisan “I Love Jogja”.

BACA JUGA: Mengulik Lebih Dalam Desa Wisata di Jogja supaya Orang Tidak Salah Kaprah

Ke Jogja tapi nggak ke Malioboro adalah kabar baik

Saya tersenyum ketika menemukan banyak konten di Twitter dengan kalimat, “Ke Jogja tapi nggak ke Malioboro.” Konten tersebut berisi rekomendasi tempat main di berbagai penjuru Jogja (baca: Daerah Istimewa Yogyakarta). Menurut saya, ini adalah kabar baik.

Kabar baik karena (harapannya) semakin banyak wisatawan mengenal Jogja. Hal-hal baik juga ada di berbagai penjuru. Salah satu spot yang bagi saya sangat menarik adalah semakin banyak akun di Twitter yang mempromosikan toko buku. Salah satunya: Buku Akik dan Solusi Buku.

Buku Akik beralamat di Jalan Kaliurang, Gang Besi Raja Blok 12 No.60. Sementara itu, kamu bisa menyambangi Solusi Buku di Jalan Karanganyar Raya, Blotan, Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Dua toko buku ini menyajikan banyak space untuk menyendiri bersama buku-buku bagus. Dan, tentu saja, jangan lupa belanja buku.

Fenomena ini memang seiring dengan branding Jogja sendiri sebagai kota literasi. Makanya, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, banyak toko buku yang lahir dan tumbuh dengan subur. Dan pada akhirnya, malah menjadi spot rekomendasi untuk main, bahkan belajar, kalau sedang di Jogja.

Selain toko buku yang semakin menjadi kesayangan, wisatawan yang lagi nggak mau ke Malioboro, bisa menikmati wisata gastronomi. Lewat kata kunci “Ke Jogja tapi nggak ke Malioboro” kamu bisa menemukan spot-spot menarik. Salah satunya ke Restoran Bhumi Bhuwana di Prawirotaman. 

Akun (@)jogjamakanterus menjelaskan bahwa di sini, kamu bisa menikmati yang namanya magic table. Kamu bisa merasakan sensasi makan with stranger. Jadi, ketika pulang, kamu akan membawa sensasi yang berbeda ketimbang cuma menghabiskan waktu di Malioboro.

Wisata coffee shop

Selain toko buku dan wisata gastronomi unik, kalau ke Jogja, saya rasa mengunjungi berbagai coffee shop adalah kenikmatan tersendiri. Sejak 10 tahun ke belakang, warung kopi di Jogja tumbuh mengiringi geliat toko buku. Keduanya memang seakan berjodoh.

Kalau kamu nggak lagi pengin ke Malioboro, saya sarankan mencicipi kreativitas barista di berbagai coffee shop. Mulai dari yang dekat dengan Malioboro, ada Wombats Cafe lokasinya di Wijilan. Sebuah jalan yang terkenal akan kuliner gudeg.

Di sini, kamu bisa menikmati ambience ngopi ala orang Australia. Ngopi singkat dengan sajian nikmat, kudapan pas, dan baristanya yang, kalau kata orang Jawa, “grapyak” atau sangat ramah. Buka sejak pagi, kamu bahkan bisa nunut mandi di sini.

Nah, selain Wombats, bergeser ke arah utara, ada beberapa yang menarik. Misalnya, ada Ungkulan di Jalan Sunan Muria No.18, Tambakan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Konon, Ungkulan adalah salah satu espresso bar terbaik. Di Jogja bagian utara.

Lebih ke utara lagi, ada Kopi Pandan Arang dan Muka Space and Coffee. Kopi Pandan Arang ada di alamat Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman (dekat Pesantren Pandanaran). Sementara itu, Muka Space ada di Jalan Kalijeruk, Area Sawah, Widodomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Dua coffee shop ini menyajikan kudapan yang menyenangkan. Tentu saja jangan lupa memesan kopi dan menikmati ambience alam yang keduanya sajikan.

BACA JUGA: Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner Yogyakarta Dari Warga Setempat

Semoga bertahan lama

Menurut saya, konten “Ke Jogja tapi nggak ke Malioboro” adalah konten yang bagus. Ia memberi keragaman yang menyenangkan. Entah siapa yang mengawali, dia sangat berjasa bagi ketahanan konten yang sangat positif.

Saya berharap konten “Ke Jogja tapi nggak ke Malioboro” bertahan lama. Dengan begitu, semakin banyak rekomendasi tempat main selain berdesak-desakan di pusat kota. Saya sendiri belum menemukan banyak rekomendasi tempat kuliner yang masuk dalam kategori legenda dan hidden gems. Pasti sangat menyenangkan kalau konten seperti ini terus ada dan semakin baru.

Oya, konten seperti ini juga bagus untuk pengusaha UMKM lokal. Usaha mereka yang, mungkin, berada di pelosok, akan terpapar oleh informasi. Dengan begitu, derak roda ekonomi juga akan bergerak ke segala arah dan membuat siapa saja bahagia.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 20 Rekomendasi Wisata Jogja yang Harus Segera Kamu Kunjungi dan pengalaman menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version