Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Honda Scoopy yang Katanya Motor Busuk tapi Laris karena Modal Tampang Bikin Konsumen Setia Honda Merasa Sangat Kecewa

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
25 Februari 2026
A A
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya tergelitik setelah membaca tulisan dari Mas Marselinus Eligius Kurniawan Dua di Terminal Mojok. Katanya Marsel, Honda Scoopy itu motor bobrok. Penjualan motor ini terbilang tinggi semata karena Honda punya seni menjual yang mumpuni. Sebagai pengguna Scoopy, saya jadi bimbang.

Jadi, sudah agak lama saya menggunakan Honda Scoopy berganti-gantian dengan Honda Vario 160. Kalau sekarang, istri saya yang lebih sering menggunakan Scoopy. Saya sendiri menggunakan motor yang memang rada aneh ini di jalanan Jogja dan Surabaya. Selama itu pula, sebetulnya saya merasakan kegelisahan Mas Marsel.

Honda Scoopy itu lincah, tapi tenaga loyo

Saya tidak punya kriteria khusus kalau soal memilih motor. Sejak dulu, intinya irit dan perawatannya mudah. Semua itu semata supaya bisa hemat saja. Nah, saya sendiri merasa Honda Scoopy sudah memenuhi dua kriteria tersebut.

Namun, setelah berganti ke Vario 160, saya mengamini kegelisahan Mas Marsel. Scoopy menggunakan mesin 110 cc eSP. Mesin eSP memang membuat motor retro ini jadi irit bensin. Sudah begitu, mempertimbangkan bodinya yang kecil-ramping, ia jadi enak untuk manuver.

Sayangnya, mesin 110 eSp membuat Honda Scoopy jadi loyo. Akselerasinya lamban dan tarikan bawah terasa berat. Bahkan, respons gas sering membuat saya harus sangat sabar. Ini belum kalau menghadapi tanjakan. Maklum, di daerah Nanggulan, Kulon Progo, tanjakan sudah menjadi pemandangan biasa.

Kalau mau menjelajahi Nanggulan, saya harus ganti pakai Vario 160. Karena kalau memaksa pakai Scoopy, mesinnya pasti meraung dan menderita. Padahal, jalan santai pakai motor retro ini enak. Sayang, ia sangat loyo.

Honda menjadikan konsumen sebagai objek

Saya meminjam sub-judul di atas dari tulisan Mas Marsel. Dia menulis begini:

“Masalah terbesar Honda Scoopy bukan pada satu-dua kekurangan teknis. Melainkan pada filosofi produknya. Honda seolah menganggap konsumen Indonesia tidak butuh motor yang benar-benar mumpuni. Honda hanya menganggap bahwa cukup motor yang terlihat bagus dan “Honda”.”

Lalu, dia menulis lagi begini:

“Scoopy adalah bukti bahwa Honda terlalu percaya diri dengan nama besar mereka. Mereka tahu motor ini akan tetap laku meski spesifikasinya medioker. Akibatnya, inovasi berhenti, kualitas stagnan, dan konsumen dipaksa puas dengan standar rendah.”

Saya agak setuju dengan opini Mas Marsel. Tapi saya berkaca dari peristiwa yang menimpa Vario 160 generasi awal. Tak lain dan tak bukan, adalah soal rangka enhanced Smart Architecture Frame (eSAF). Banyak kasus terjadi, rangka Honda patah dan berkarat. Jujur saja, sebagai konsumen setia Honda, saya kecewa.

Keluarga saya adalah keluarga Honda. Kami setia sejak Honda C-70 atau Honda Pitung, Honda CB, Astrea, Astrea Grand, Supra X, Supra X 125, Vario 110, Vario 125, Honda Scoopy, dan terakhir Vario 160. Argumen Mas Marcel jadi benar karena konsumen jadi semata objek.

Kami akan tetap membeli karena label “Honda”. Dan jujur saja, kenyataan itu menyedihkan.

Honda Scoopy sebagai kemenangan sebuah branding

Honda Scoopy yang sekarang mewarnai jalanan Indonesia tampil dengan warna yang menyenangkan. Kalem di mata dengan desain unik. Namun, ternyata itu semua tidak dibarengi dengan kemampuan mesin yang seharusnya menjadi nyawa sebuah kendaraan.

Iklan

Hal itu terjadi karena kemenangan sebuah branding. Sejak zaman dulu, orang kalau bicara roda dua, merujuk ke “Honda”, padahal beli motor Yamaha. Sama seperti kalau ngomong pasta gigi, menyebutnya “Pepsodent”.

Sekarang, seperti kata Mas Marsel, pabrikan asal Jepang itu mau melempar motor yang “kayak apa terserah mereka” pasti tetap laku. Asal, memasang tampilan yang memukau dengan iklan-iklan menarik. Orang Indonesia, pada kenyataannya, memang banyak yang masih mementingkan tampilan.

Oleh sebab itu, Honda Scoopy akan terus bertahan. Beda perkara dengan Suzuki, misalnya. Ia tidak mementingkan tampilan, tapi mesin. Makanya, banyak bengkel resmi Suzuki yang tutup karena nggak laku. Motor mereka saja jarang rusak. Meski memang, banyak yang meledek Suzuki yang gagal bikin kendaraan tampan sesuai selera pasar.

Pada akhirnya, Honda Scoopy dan generasi selanjutnya akan terus laku. Masih banyak yang gemar memasang foto di media sosial sekadar untuk pamer. Kepemilikan roda dua tidak untuk manfaatnya sebagai alat transportasi. Ya nggak papa, sih. Cuma, sebagai konsumen setia Honda, kok rasanya sedih, ya.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menyiksa Honda Scoopy di Jalanan Jogja dan Surabaya dan pengalaman menyiksa lainnya di rubrik POJOKAN. 

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: harga honda scoopyhondahonda scoopyhonda scoopy pastelmotor ScoopyScoopyVario 125vario 160warna honda scoopy
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co
Pojokan

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
Honda Scoopy, Bukti Perempuan Beli Motor Berdasarkan Warna Lipstik MOJOK.CO
Otomojok

Honda Scoopy Adalah Bukti Bahwa Perempuan Memilih Motor Berdasarkan Kode Warna Lipstik, Bukan Berdasarkan Kemampuan Mesin

27 Januari 2026
5 Motor Honda yang Sebaiknya Tidak Diproduksi dan Tidak Pernah Ada, Kepikiran pun Harusnya Tidak
Pojokan

5 Motor Honda yang Sebaiknya Tidak Diproduksi dan Tidak Pernah Ada, Kepikiran pun Harusnya Tidak

25 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

19 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.