Bayangkan sebuah pagi di Kantor Urusan Agama. Dua puluh orang duduk di ruangan sederhana berpendingin udara seadanya. Mereka mengawal pasangan Gen Z yang berbahagia dan akan menikah.
Seorang penghulu membuka map, membacakan berkas, lalu memandu ijab kabul. Lima belas menit kemudian, dua orang Gen Z resmi menikah dan menjadi suami istri. Tidak ada pelaminan setinggi tiga meter, bising organ tunggal, atau antre salaman sepanjang 100 meter. Biayanya: nol rupiah.
Yah, nggak nol rupiah banget, sih. Tapi intinya kamu paham, lah, maksudnya.
Adegan semacam itu kini makin sering terjadi. Makin banyak Gen Z Indonesia yang memilih menikah tanpa resepsi. Bukan karena mereka miskin, melainkan karena mereka menghitung dengan kepala dingin dan sadar diri.
Namun, keputusan yang rasional itu justru sering mengundang hukuman sosial. Mulai dari cibiran tetangga, kecurigaan “hamil duluan”, sampai ceramah keluarga besar yang tak kunjung usai.
Menikah lalu resepsi itu mahal dan Gen Z sekarang udah sadar “kudu ngitung”
Mari mulai dari angka. Survei Santika Indonesia Hotels and Resorts pada 2024 menemukan bahwa 41,9% calon pengantin menyiapkan biaya menikah Rp50 juta sampai Rp100 juta.
Sebanyak 21,9% responden bahkan menganggarkan Rp100 juta sampai Rp200 juta. Sementara itu, Merdeka pada Juni 2025 mencatat biaya resepsi “ideal” di Indonesia rata-rata berkisar Rp30 juta hingga Rp50 juta. Itu aja untuk skala sederhana. Untuk pesta 200 tamu di gedung, angkanya bisa melompat ke Rp100 juta lebih.
Bandingkan dengan biaya menikah di KUA. Pemerintah menggratiskan akad nikah yang berlangsung di kantor KUA pada hari dan jam kerja. Pasangan baru membayar Rp600 ribu sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak jika mereka menggelar akad di luar kantor atau di luar jam kerja.
Selisihnya bisa mencapai seratus kali lipat. Bagi Gen Z yang menghadapi harga rumah selangit dan pasar kerja yang lesu, matematika sesederhana itu sulit mereka abaikan.
Seruni Cantika, perempuan Gen Z yang memilih menikah di KUA, menceritakan hitung-hitungannya kepada CNBC Indonesia pada Juli 2026. Dia hanya menggelar syukuran kecil di rumah makan Sunda selepas akad.
“Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta atau Rp7 juta ya, soalnya rumah makan Sunda-an aja sih, yang per pax-nya nggak sampai Rp200 ribu. Dan KUA-nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju, dan fotografer saja. Hemat banget pokoknya,” katanya.
Hamid, kepala KUA yang CNBC Indonesia wawancarai dalam laporan yang sama, membenarkan tren itu dari balik meja pelayanannya.
“Sewa tempat pun nggak ada. Jadi full gratis gitu,” ujarnya. Ia membaca fenomena ini sebagai cermin karakter generasi: “Satu, mungkin Gen Z ini lebih suka simpel, hal-hal yang simpel… karena kan intinya ijab kabul aja.”
Menikah sederhana bukan berarti murahan
Anggapan bahwa menikah di KUA identik dengan keterbatasan juga mulai runtuh. Pada Juli 2026, Wolipop Detik memberitakan pasangan Janna dan Ronald yang viral setelah menikah gratis di KUA Pulogadung, Jakarta Timur.
Janna tampil memukau dengan kebaya putih seharga Rp500 ribu, berpadu kain songket pemberian ibunya. Warganet membanjiri unggahannya dengan pujian dan pengakuan: mereka ikut terinspirasi. “It’s quick! Kelurahan dan KUA sangat helpful, jadi tidak terlalu stres,” kata Janna tentang prosesnya.
Figur publik pun ikut memberi contoh. Komika Yono Bakrie menikahi Vini Caroline hanya dengan akad di KUA, tanpa pesta, seperti yang Genvoice laporkan pada Juni 2025. “Kami menikah dengan konsep sederhana di KUA doang. Dan tidak membuat acara… Semoga kesederhanaan ini jadi identitas hubungan kami,” tulis Yono di akun Instagramnya.
Pelaku industri pernikahan membaca arah angin yang sama. Adi Rahzalafna, pemilik SatSet Wedding Organizer, menilai tren Gen Z menikah di KUA bukan lagi soal kantong tipis, melainkan pilihan gaya hidup baru yang menghapus stereotip lama tentang “nikah di KUA”.
Dengan kata lain, Gen Z ini tidak sedang berhemat karena terpaksa. Mereka sedang mendefinisikan ulang kemewahan.
Harga sosial yang harus Gen Z bayar
Sayangnya, masyarakat kita belum tentu siap. Genvoice mencatat bahwa pilihan Gen Z menikah tanpa resepsi masih menuai tekanan sosial di banyak daerah. Sebagian budaya memandang pesta pernikahan sebagai ajang mempertemukan dua keluarga besar. Yah, simbol kehormatan, bukan sekadar perayaan.
Di titik inilah drama sesungguhnya bermain. Pasangan yang mengalihkan Rp80 juta dari pelaminan ke DP rumah akan tetap mendengar bisik-bisik di arisan keluarga. Orang tua merasa kehilangan panggung untuk “membayar utang kondangan” yang mereka cicil puluhan tahun.
Lalu, tetangga menebak-nebak. Jangan-jangan buru-buru karena “kecelakaan”. Padahal pasangan Gen Z itu hanya melakukan hal yang para orang tua sendiri sering khotbahkan yaitu hidup sesuai kemampuan.
Ironinya, makin lengkap kalau kita menengok data perceraian. CNN Indonesia mencatat angka perceraian nasional justru naik dari 344.237 kasus pada 2014 menjadi 394.608 kasus pada 2024. Pesta megah jelas tidak menjamin pernikahan awet.
Meriahnya resepsi dan kokohnya rumah tangga adalah dua urusan yang berbeda. Tapi, masyarakat masih sering menilai keseriusan sepasang pengantin dari jumlah kursi tamu.
Gejala dari perubahan yang lebih besar dari menikah tanpa resepsi
Fenomena menikah tanpa resepsi tidak berdiri sendiri. Ia menempel pada tren yang lebih besar, yaitu orang Indonesia makin jarang menikah.
Data Badan Pusat Statistik yang CNN Indonesia kutip pada Juli 2025 menunjukkan angka pernikahan nasional merosot dari 2.110.776 pada 2014 menjadi 1.478.302 pada 2024. Ini terendah dalam satu dekade, turun 6,3% hanya dalam setahun terakhir.
Guru Besar FISIP Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, membaca penurunan itu sebagai konsekuensi perubahan sosial, terutama menguatnya kemandirian perempuan. “Angka itu turun karena kesempatan perempuan untuk bersekolah dan bekerja semakin terbuka lebar. Ketergantungan perempuan juga menurun,” katanya dalam laporan Katadata pada Oktober 2024.
Pak Bagong juga menunjuk faktor ekonomi. Laki-laki mapan makin sedikit karena mencari kerja makin sulit. Begitulah kondisi negara ini.
Dalam lanskap seperti itu, pasangan Gen Z yang tetap berani menikah, meski dengan cara paling bersahaja, sesungguhnya sedang melawan arus dua kali. Pertama, mereka melawan tren menunda pernikahan. Kedua, mereka melawan ekspektasi sosial tentang bagaimana pernikahan “seharusnya” dirayakan. Mereka memilih komitmen, tapi menolak pertunjukan.
Yang sakral itu janji pernikahan, bukan resepsi setelah menikah
Pada akhirnya, resepsi setelah menikah hanyalah bungkus. Isi pernikahan tetaplah dua orang yang berjanji menghadapi hidup bersama-sama: cicilan, tagihan listrik, pertengkaran soal cucian piring, dan hari-hari biasa yang jauh dari sorotan kamera fotografer.
Gen Z yang menikah di KUA dengan modal kebaya Rp500 ribu sudah memahami itu lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Mereka tahu tamu undangan akan lupa menu prasmanan dalam seminggu, tapi cicilan KPR akan menagih setiap bulan selama 15 tahun. Mereka memilih rumah ketimbang panggung, tabungan ketimbang souvenir, masa depan ketimbang gengsi satu malam.
Yang belum berubah adalah kita, para tetangga, om, tante, dan bapak-bapak arisan, yang masih sibuk bertanya, “Kok nggak ada resepsinya?”
Mungkin pertanyaan itu perlu kita balik. “Kok kita masih mengukur kesungguhan cinta orang lain dari besarnya tenda di depan rumahnya?”
BACA JUGA Hajatan Pernikahan di Desa Itu Cuma Ego dan Ajang Pamer bagi Orang Tua, bukan Pestanya Mempelai dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
