Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Berliku-liku ke Senayan, Menjadi La Nyalla Mattaliti Kemudian

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
2 Oktober 2019
A A
la nyalla matalitti ketua dpd ri 2019-2024 rekam jejak biografi biodata korupsi pssi hoaks jokowi kristen pki cina partai bulan bintang

la nyalla matalitti ketua dpd ri 2019-2024 rekam jejak biografi biodata korupsi pssi hoaks jokowi kristen pki cina partai bulan bintang

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebelumnya jauh dari sorotan publik, La Nyalla Mattaliti berhasil menduduki jabatan baru sebagai Ketua DPD RI untuk periode 2019-2024. Waw.

Jika kamu adalah penggemar sepak bola Indonesia sejak era 2015, nama La Nyalla Mattaliti tak mungkin bisa dilupakan.

Bagaimana bisa lupa? Pada awal kepemimpinannya sebagai Ketum PSSI (2015), PSSI sedang dijatuhi sanksi oleh Kemenpora. Bahkan saat itu sepak bola Indonesia juga dikenai hukuman dari FIFA.

Yaah, harus diakui, di balik segala kontroversi yang terjadi, nama La Nyalla semakin menyala dan dikenal publik justru mulai saat itu.

Nama yang sudah sangat dihafal oleh penggemar sepak bola tanah air ini memang sudah dikenal dengan relasi karier politik yang luar biasa hebat. Paling tidak hal itu—sekali lagi—dibuktikan saat La Nyalla Mattaliti berhasil menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2019-2024 pada Selasa (1/10).

Relasi yang hebat ini sudah bisa dilacak jauh sebelum menjabat sebagai Ketum PSSI, bahkan usai jadi Ketum PSSI, publik selalu dipertontonkan betapa powerful dirinya dalam persoalan politik…

…dan hukum.

Dari 2009, misalnya, ia merupakan satu dari sedikit politisi yang konsisten untuk selalu inkonsisten dalam keberpihakan politik.

Sejak Pilpres 2009, Ketua Umum Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jawa Timur ini tercatat merupakan politisi yang mendukung Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto. Lalu di periode berikutnya, pengusaha sukses di Surabaya ini melawan Megawati karena harus mendukung Prabowo pada Pilpres 2014.

Lalu lima tahun berselang, jelang Pilpres 2019, pria kelahiran 10 Mei 1959 ini beralih haluan dengan mendukung partai Megawati dan Jokowi karena ia bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB). Partainya Yusril Ihza Mahendra ini mendukung petahana.

Keputusan ini bukannya tanpa udang di balik batu. La Nyalla mengaku pernah ditagih mahar politik yang terlalu besar oleh Prabowo Subianto saat ia berniat maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Merasa habis manis sepah dibuang oleh Prabowo, dirinya pun memilih menyeberang.

Hal yang mengejutkan banyak pihak, tidak cuma mendukung, Komisioner PT Pelabuhan Jatim Satu ini bahkan membuka semua aib tim sukses Prabowo pada Pilpres 2014 saat dirinya masih bergabung.

Tak main-main, La Nyalla dengan kesadaran penuh mengaku bahwa dirinyalah yang mengatur kabar fitnah bahwa Jokowi adalah anggota PKI, orang Kristen, dan keturunan Cina.

Bahkan tanpa malu-malu, dirinya mengaku sebagai pihak yang mendistribusikan tabloid Obor Rakyat. Sebuah media kontroversial yang berisi narasi fitnah ke capres Jokowi saat itu. Waaaw, mamam.

Iklan

“Saya sudah minta maaf dan saya sudah mengakui bahwa saya yang sebarkan (isu) PKI itu, saya yang ngomong Pak Jokowi PKI. Saya yang mengatakan Pak Jokowi itu Kristen, agamanya nggak jelas, tapi saya sudah minta maaf karena saya bukan oposisi,” ujarnya.

Uniknya, pihak Jokowi dan partai koalisi pemerintah malah menyambutnya dengan tangan terbuka dan memaafkan begitu saja. Padahal, kalau mau diperkarakan hukum, La Nyalla jelas bisa tersandung kasus penyebaran hoaks dan ujaran kebencian berujung SARA. Tapi ya bagaimana, orang ini memang dikenal punya kekuatan hukum yang luar biasa.

Paling tidak itu bisa dilihat sejak Maret 2016, ketika La Nyalla ditetapkan tersangka korupsi dana hibah Kadim Jawa Timur. Tak sampai satu bulan, status tersangka dicabut lewat jalur praperadilan.

Lucunya, saat itu lulusan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini divonis bebas karena menurut pengadilan tidak ada kerugian negara dari kasus Tipikor tersebut. Usut punya usut, ternyata uang yang diduga hasil korupsi sudah dikembalikan semua oleh La Nyalla.

Beberapa minggu kemudian, La Nyalla kembali ditetapkan tersangka. Tapi ya, sebagaimana kamu sudah tahu, dirinya bisa bebas lagi. Kali ini masih memakai jalur praperadilan lagi, tapi mengatasnamakan adiknya.

Sampai kemudian, untuk ketiga kalinya, pria berusia 60 tahun ini ditetapkan lagi sebagai tersangka untuk kasus yang sama. Bahkan kalau dibandingkan dengan Setya Novanto, level kemampuan dicabut status tersangka korupsi, La Nyalla ini sudah level dewa.

Tiga kali jadi tersangka hanya dalam tempo tidak sampai 9 bulan. Hebatnya, tidak seperti Setnov yang cupu langsung masuk bui, La Nyalla lolos semua.

Tapi bukan soal kemampuan mencabut status tersangka korupsi yang membuat dirinya hebat. Di penetapan ketiga kalinya, La Nyalla akhirnya menjalani sidang tipikor di Jakarta pada 5 September 2016. Mungkin karena udah capek praperadilan terus.

Tidak ada yang menyangka, tuntutan 6 tahun penjara dan denda Rp500 juta dari Jaksa Umum ditolak semuanya. Hakim pengadilan memvonis bebas dari tuduhan korupsi. Maka wajar saja kalau La Nyalla sampai melakukan sujud syukur saat mendengar putusan hakim tersebut.

Di tengah-tengah segala macam jejak kontroversialnya selama ini dan perhatian publik yang fokus pada RKUHP dan UU KPK, hampir tidak ada yang peduli ketika La Nyalla sukses menjadi DPD dari Fraksi Partai Bulan Bintang. Jadi ketua lagi. Warbiyasa.

Barangkali karier politiknya yang penuh lika-liku ini merupakan gambaran nyata dari pepatah retro:

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian

Manuver politik dulu, bersenang di Senayan kemudian

BACA JUGA Kontroversi La Nyalla: Akui Sebut Jokowi PKI sampai Sentil Salat Jumat Prabowo atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2019 oleh

Tags: La NyallaLa Nyalla MattalitiPSSI
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Ketum PSSI Erick Thohir dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bahas soal Liga 3 dan Liga 4 di Jawa Tengah MOJOK.CO
Kilas

Liga 3 dan 4 bakal Bergulir di Jawa Tengah, Bina Bakat-bakat Muda dari Desa…

8 Agustus 2025
Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO
Ragam

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025
Histori

Ingatan Memalukan di Stadion Bahrain 12 Tahun Silam, Catatan dari Era Bobrok PSSI

10 Oktober 2024
Liga 3 Faktanya, Liga Malaysia Jauh Meninggalkan Kita MOJOK.CO
Esai

Memaksimalkan Liga 3 Sebagai Cara untuk Mengejar Ketertinggalan dari Sepak Bola Malaysia

11 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.