MOJOK.CO – Yamaha Jupiter Z warna oranye itu menghadirkan rasa takut. Semacam sakral, ia menyimpan sebuah kisah perjuangan yang tak saya pahami.
Dulu, ada satu motor di rumah saya yang statusnya jelas: bukan untuk saya. Intinya, saya tidak boleh memakainya.
Sekadar memindahkan dari teras ke dalam rumah saja rasanya seperti sedang menguji kesabaran pemiliknya. Sedikit salah gerak, sedikit saja terlihat tidak hati-hati, tatapan tajam langsung mengarah. Bukan marah besar, tapi cukup untuk bikin saya mikir dua kali untuk mendekat lagi.
Motor itu adalah Yamaha Jupiter Z warna oranye. Dan pemiliknya adalah kakak laki-laki saya satu-satunya di antara tiga kakak perempuan. Kalau saya pikir lagi sekarang, mungkin itu motor paling “sakral” yang pernah saya lihat.
Saya kali pertama benar-benar sadar keberadaan motor itu sekitar 2004, waktu saya masih SD. Buat ukuran anak kecil, Yamaha Jupiter Z itu terasa mewah.
Warnanya mencolok, oranye terang, dan selalu terlihat bersih. Bukan sekadar bersih, tapi kinclong. Bahkan setelah kehujanan, kakak saya tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia langsung mencuci motor tersebut. Kena debu dan lumpur jalanan dikit aja, langsung dibersihkan lagi. Pokoknya, motor itu tidak boleh kotor. Titik.
BACA JUGA: Kenangan Manis Bersama si “Bebek Sirkuit” Jupiter Z: Sebuah Kisah yang Tidak Akan Terlupakan
Rasa sayang yang aneh kepada Yamaha Jupiter Z
Sebagai anak kecil, jujur saja saya merasa rasa sayang kakak saya kepada Yamaha Jupiter Z agak berlebihan. Dalam pikiran saya waktu itu, ya namanya motor yang dipakai, kalau kotor sedikit tentu wajar. Tapi tidak dengan motor ini. Kakak saya memperlakukan Yamaha Jupiter Z warna oranye itu seperti sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar alat transportasi.
Dan yang membuat saya makin heran, bukan cuma saya yang tidak boleh menyentuh. Kakak-kakak perempuan saya juga sama. Kami semua seperti punya kesepakatan tidak tertulis: lebih baik tidak usah mendekat daripada nanti dipelototi.
Di titik itu, saya sering berpikir sederhana: “Kakak saya ini kenapa, sih?”
Terlalu sayang sama motor sampai segitunya.
Waktu berjalan, saya tumbuh, tapi status Yamaha Jupiter Z itu tidak berubah. Tetap tidak tersentuh. Tetap kinclong. Tetap “punya kakak saya sepenuhnya”.
Hasil perjuangan
Sampai akhirnya, sekitar 2012, saya tidak bisa menahan rasa penasaran ini. Maka, saya bertanya ke ibu. Awalnya cuma iseng. Tapi jawaban ibu justru membuat saya diam lebih lama dari yang saya kira.
Ternyata, motor itu bukan sekadar motor biasa. Yamaha Jupiter Z warna oranye itu adalah hasil dari perjuangan kakak saya saat merantau ke Jakarta. Waktu itu, dia belum punya apa-apa. Kerja serabutan, pekerjaan kasar, yang penting bisa bertahan hidup. Dan dari semua itu, sedikit demi sedikit dia menabung. Sampai akhirnya, tabungan itu berubah bentuk menjadi Jupiter Z warna oranye itu.
Saya nggak langsung bereaksi waktu itu. Tapi ada satu hal yang pelan-pelan berubah di kepala saya.
Motor yang dulu saya anggap “lebay banget dijaganya” ternyata bukan cuma soal motor. Ada keringat, ada capek, mungkin juga ada hal-hal yang kakak saya tidak bisa cerita ke kami. Dan anehnya, sejak tahu itu, saya jadi tidak pernah lagi melihat Yamaha Jupiter Z itu dengan cara yang sama.
Kalau sebelumnya saya melihatnya sebagai benda, sejak saat itu saya mulai melihatnya sebagai hasil. Hasil dari proses yang tidak saya jalani.
Perasaan aneh di atas jok Yamaha Jupiter Z
Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti biasa. Saya lulus sekolah, merantau ke Jogja dari Gunungkidul, lalu beberapa tahun kemudian pindah ke Jakarta. Hidup saya mulai punya cerita sendiri. Saya juga punya motor sendiri, pakai, rusak, servis, ya seperti kebanyakan orang.
Sementara itu, Yamaha Jupiter Z warna oranye itu tetap di rumah. Dan anehnya, tetap sama. Masih bersih. Masih terawat. Masih seperti tidak tersentuh waktu.
Sampai akhirnya, sekali waktu di 2021, ada satu momen yang menurut saya sederhana, tapi ternyata cukup berarti. Waktu itu saya pulang ke rumah dan ada keperluan ke Wonosari. Motor saya ada di Jakarta, jadi satu-satunya pilihan ya motor di rumah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya memberanikan diri meminjam Yamaha Jupiter Z milik kakak saya. Rasanya agak canggung, aneh, jujur saja. Bukan karena tidak bisa naik motor, tapi karena… ya itu tadi. Motor ini dari dulu bukan “punya saya”.
Tapi akhirnya saya bawa juga. Dan di situlah saya kaget. Motor itu masih enak banget. Tarikannya halus, mesinnya masih responsif, remnya pakem, dan secara keseluruhan… terasa seperti motor yang umurnya jauh lebih muda. Padahal kalau saya hitung, saat itu usianya sudah lebih dari 15 tahun.
Memang, soal bensin sedikit lebih boros kalau membandingkannya dengan motor Honda yang pernah saya pakai. Tapi selain itu, jujur saja, saya tidak menemukan alasan untuk mengeluh.
Cinta yang merawat
Di jalan, saya sempat kepikiran satu hal yang sederhana. Yamaha Jupiter Z tetap seperti ini bukan karena kebetulan. Ada konsistensi di baliknya. Ada cara memperlakukan yang mungkin dari dulu tidak pernah berubah.
Dan di situ, tanpa saya sadari, ingatan saya balik lagi ke masa-masa dulu. Ke momen dipelototin cuma karena mendekat. Ke rasa heran kenapa motor harus dijaga segitunya. Dan ke percakapan singkat dengan ibu saya tentang bagaimana motor itu bisa ada. Motor hasil perjuangan.
Semua itu tiba-tiba terasa nyambung. Yang dulu saya anggap berlebihan, ternyata punya alasan yang cukup kuat. Dulu saya anggap cuma “motor kesayangan”, ternyata Yamaha Jupiter Z adalah satu bentuk pencapaian.
Tanpa sadar, itu juga jadi satu-satunya bukti nyata dari fase hidup kakak saya yang tidak pernah saya lihat langsung.
Saya jadi paham satu hal yang cukup sederhana. Kadang, kita melihat sesuatu dari luar dan merasa itu tidak masuk akal. Terlalu berlebihan, terlalu dijaga, atau bahkan terasa aneh. Padahal, kita cuma tidak tahu ceritanya.
Yamaha Jupiter Z oranye itu buat saya sekarang bukan lagi sekadar motor lama yang masih terawat. Ia adalah pengingat. Bahwa ada hal-hal yang terlihat biasa saja di mata kita, tapi ternyata menyimpan cerita yang tidak sederhana.
Dan kadang, kita baru benar-benar mengerti… setelah cukup lama melihatnya dari jauh.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.
