MOJOK.CO – Berharap dapat armada Rosalia Indah yang gres, tapi kecewa dapat armada sepuh. Sudah begitu, 4 kali mogok pula. Duh!
Suatu siang di kantin kantor, ponsel saya berdering. Sebuah pesan masuk dengan tajuk, “Mamah telah mengirim pesan”.
“Aka kumaha magangna, lancar?” Menjadi kalimat pembuka percakapan dengan Mbah Putri. Kami, para cucu-cucunya, memanggilnya “Mamah”.
Kami bertukar kabar mengenai kesibukan saya akhir-akhir ini hingga perkembangan proses pengobatan yang sedang Mamah jalani. Kami harus mengakhiri percakapan singkat via pesan teks karena istirahat makan siang sudah habis dan saya harus bergegas kembali ke ruangan.
Satu kabar yang saya simpan dalam benak saat itu adalah rencana pengambilan hasil CT scan. Mamah, yang sudah saya anggap sebagai ibu kedua, harus melalui proses itu untuk kesekian kali.
Muncul keinginan untuk menenami Mamah selama proses pengobatan yang telah berjalan empat bulan. Tetapi, mengingat kepadatan yang sedang saya hadapi, rasanya sulit untuk mewujudkan hal tersebut.
Baca juga: PO Rosalia Indah, Bus Non-Ekonomi Terbaik dengan Double Decker Terbanyak
Rosalia Indah dan “gantung tiket”
Seiring waktu, terjadi pergumulan di dalam batin saya. Segala kesibukan memaksa saya “gantung tiket”, menanggalkan dunia bus malam yang ditawarkan Rosalia Indah dan segala jenis kereta api. Keduanya sudah menjadi ritual bulanan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, batin saya mempertanyakan di mana letak moral seorang laki-laki yang tidak mau menengok orang tua ketika mereka membutuhkan? Apakah saya layak mengorbankan mereka demi kesibukan saya?
Maka, saya mencoba memetakan semua pertimbangan. Apakah saya harus menahan hasrat naik bus seperti Rosalia Indah hanya demi menjaga rekor clean sheet presensi kantor? Tapi, hati kecil saya berbisik: “Di mana letak empatimu?”
Akhirnya, saya memutuskan untuk menyudahi “gantung tiket”. Kebetulan, ada sebuah tanggal merah yang jatuh di hari Kamis. Artinya, saya hanya perlu cuti di Jumat.
Persiapan sebelum menyapa Rosalia Indah lagi
Hari Rabu, sepulang kerja, saya berencana langsung ke terminal. Jatah keberangkatan ke Purwokerto biasanya pukul 19:30. Jadi, begitu sampai di terminal, saya bisa langsung masuk ke kabin LIA, nickname dari Rosalia Indah. Begitulah rencana keberangkatan saya.
Saat itu, saya juga membuat rencana kepulangan. Untuk kepulangan, saya akan mencoba pendatang baru di bumi ngapak, yaitu PO Kupu-Kupu Ayu. Maka, saya langsung memesan kursi. Tuntas sudah rencana memenuhi usaha pulang-pergi bersama dua dara: Rosalia Indah dan Kupu-Kupu Ayu
Hari keberangkatan, saya langsung bergegas pulang ke kos untuk packing dan persiapan. Tanpa membuang waktu, saya lanjut ke pos selanjutnya, yaitu pool Rosalia Indah.
Tepat pukul 18:30, kaki saya sudah mendarat di tujuan. Prosesi check-in dan mencetak tiket berjalan dengan lancar. Armada Rosalia Indah saya malam itu bernomor HDD 370.
Saya perlu memberikan apresiasi kepada Rosalia Indah. Tiket saya malam itu seolah kembali ke zaman kejayaannya, menggunakan tiket berbentuk sampulan yang ergonomis. Tak lagi hanya secarik kertas yang rentan lecek, bahkan sobek.
Karena masih ada sisa waktu hingga jam keberangkatan, saya coba mengabsen defile armada Rosalia Indah. Mereka akan menempuh perjalanan ke arah barat seperti Merak, Tangerang, Jakarta, Bogor, dan sekitarnya.
Terlihat satu unit gres keluaran karoseri Tentrem yang menggunakan sasis terbaru Mercedes Benz OH 1626 dengan suspensi udara. Tujuan Merak mengisi grid paling kiri, menyusul kemudian unit Jetbus 2 ala-ala dengan menggendong mesin Germany tech Mercedes Benz OH 1526 air suspension dengan nomor register HDD 459. Armada ke arah Tangerang dengan Laksana SR-2 Prime bermesin Jepang Hino RK-8 menutup barisan.
Baca halaman selanjutnya: Berakhir dengan luka.












