MOJOK.CO – Prestasi yang motor ini dapat bukan hal yang kelewat aneh. Yamaha Byson generasi pertama, bagaimanapun, adalah motor yang bagus.
Kadang-kadang, sesuatu baru benar-benar mendapatkan apresiasi yang layak ketika kita tak lagi bisa memilihnya.
Pada tahun 1890, seorang pelukis Belanda meninggal di usia 37 tahun di sebuah desa kecil di Prancis. Sepanjang hidupnya, orang-orang mengenalnya sebagai salah satu dari dua macam sosok berikut: pelukis melarat, atau pemuda berkepribadian sulit.
Dia memutuskan untuk menjadi pelukis pada usia 20 setelah mencoba berbagai profesi berujung kegagalan lain. Mulai dari pegawai galeri seni, guru, hingga misionaris.
Pilihannya menjadi pelukis tak juga membawanya pada kemapanan. Dia masih melarat sebelumnya meskipun telah menciptakan ratusan lukisan, ribuan sketsa, dan tumpukan surat yang tak pernah terkirim.
Maka, mudah menebak akhir hidupnya. Setelah ditinggal minggat pasangannya dan tak memperoleh kestabilan finansial atau pengakuan sosial, dia mati dalam perawatan sang adik yang selalu mendukungnya.
Sang adik pula yang menyiarkan karya-karyanya beberapa tahun setelah kematiannya. Dan, pada tikungan sejarah yang aneh, lukisannya tak hanya laku terjual, melainkan juga mengubah perjalanan seni modern.
Jenius nahas yang luput dikenali zamannya itu bernama Vincent van Gogh. Namun, tulisan ini tak sedang mengulik kisah sang maestro, melainkan membahas kemiripan nasib yang dialami salah satu sepeda motor di tanah air.
Walau jelas kita tak bisa menyamakannya dengan keagungan The Starry Night, sepeda motor ini juga tidak hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa dunia akhirnya menyukai apa yang dulu diabaikan. Sepeda motor tersebut adalah Yamaha Byson.
Kemunculan Yamaha Byson yang menggembirakan
Sejak kemunculan V-ixion pada 2007, Yamaha membuktikan bahwa slogan “Semakin Tak Tertandingi” bukanlah retorika marketing belaka. Bersama Mio yang fenomenal, pada tahun-tahun tersebut V-ixion berhasil merombak ulang pasar otomotif tanah air, menjadikan keduanya standar tren baru yang membuat Honda tampak ketinggalan zaman.
Sebenarnya, direksi Yamaha bisa saja duduk-duduk di ruang rapat dan mengagumi pencapaian penjualannya di tanah air. Namun, kapitalisme tak bekerja seperti itu. Ketidakpuasan adalah stimulus wajib. Stagnasi adalah dosa besar.
Maka, tiga tahun setelah kemunculan V-ixion, Yamaha Indonesia Motor Manufacturing meluncurkan produk sport-naked 150cc lain. Agar tak berseteru dengan kakaknya, motor baru ini menanggalkan radiator dan injektor, lalu menggantinya dengan shockbreaker depan yang lebih gede dan desain yang lebih garang. Motor baru ini kemudian mendapat nama Yamaha Byson.
Tak seperti Van Gogh yang selalu bernasib muram dalam karier profesionalnya, Yamaha Byson sempat mencicipi periode manis. Saat itu, rival langsung Byson adalah Honda Mega Pro FI, yang posisinya sudah di ujung tanduk semenjak kehadiran Yamaha V-ixion.
Mega Pro jelas bukanlah motor yang buruk. Tetapi, konsumen saat itu sedang tidak menyukai desain motor yang hanya pantas dipakai oleh pegawai kecamatan.
Generasi pertama Yamaha Byson, generasi yang unggul
Di atas reruntuhan penjualan Mega Pro itulah Yamaha Byson meraja. Pada tahun pertamanya diluncurkan, Byson mencatatkan penjualan hingga 23 ribu unit. Angka ini terus menjulang hingga menyentuh total penjualan 220 ribu unit hanya dalam empat tahun.
Prestasi tersebut bukanlah hal yang kelewat aneh. Byson generasi pertama, bagaimanapun, adalah motor yang bagus.
Saya pernah menunggangi Yamaha Byson karbu beberapa kali di masa lampau, dan impresi tentangnya masih tertinggal hingga kini. Tak seperti motor sport-naked lain, Yamaha Byson malah tak terlalu sporty, dan di situlah keunggulan sekaligus pembedanya dengan V-ixion.
Misalnya, ukuran stang Yamaha Byson lebih lebar ketimbang motor sport-naked 150cc lainnya. Ini membuat saya berpikir bahwa Byson lebih cocok untuk touring ketimbang kebut-kebutan. Ukuran profil ban yang lebih lebar dan diameter shockbreaker depan yang lebih besar memperkuat kesan saya ini.
Hasilnya, Byson sangat enak untuk berkendara jauh. Saat memakainya untuk pergi ke kabupaten tetangga, saya tak mengalami pegal-pegal di lengan dan pinggang. Kualitas peredaman guncangannya sangat cocok untuk melibas aspal keriting khas jalan kabupaten.
Intinya, Yamaha Byson adalah salah satu dari sangat sedikit motor sport-naked yang bisa membuat saya berkata, “Lho, kok sudah sampai tujuan?” di akhir perjalanan.
Apakah punya kekurangan?
Memang benar bahwa Yamaha Byson bukan tanpa kekurangan. Dan mesinnya justru menjadi kekurangan paling mencolok untuk motor yang lebih cocok untuk touring.
Seperti yang saya sebutkan di atas, mesin Yamaha Byson generasi pertama masih memakai karburator. Dampaknya, Byson bukanlah motor yang bisa kamu banggakan dalam hal efisiensi bahan bakar dan performa. Saya merasa bahwa ia sedikit lebih boros ketimbang Mega Pro FI, tetapi sialnya juga lebih lemot.
Bobotnya yang tembus 133 kilogram jelas mempengaruhi performanya. Begitu pula dengan jumlah gear yang hanya 5 percepatan. Meskipun tarikannya sangat enak di kecepatan rendah ke menengah, Byson mulai kehabisan napas ketika melewati angka 90 km/jam.
Apa pun itu, Byson generasi pertama adalah salah satu produk brilian Yamaha. Setidaknya hingga tahun 2015, ketika generasi keduanya hadir.
Akhir usia sebelum Yamaha Byson menjadi legenda
Kita bisa menyebut Yamaha Byson generasi kedua adalah motor yang jelek. Tetapi, saya pribadi tak sungguh yakin bahwa kejatuhannya disebabkan oleh hanya satu penyebab.
Okelah, Byson generasi kedua memang menancapkan injektor pada mesin anyarnya. Tetapi, konsumen sulit mengapresiasi prestasi ini karena satu hal: Yamaha, pada periode ini, punya bahasa desain baru yang kebetulan tak cocok dengan selera pasar.
Tengoklah deretan motor Yamaha pada periode ini yang berdesain aneh: V-ixion Advance, Fino, Mio M3, Jupiter Z1, Vega Force, dan tentu saja Byson. Meski mereka berada di kelas berbeda, ada kecenderungan desain yang sama: serba lancip. Tim desainernya tampak berpikiran lugu sehingga menyamakan kegarangan dengan kelancipan.
Penyebab selanjutnya, Yamaha Byson bertarung di segmen pasar yang semakin kecil akibat kedigdayaan skuter metik. Sekalipun peminatnya tetap ada, penjualan motor sport-naked 150cc cenderung selalu mengalami penurunan. Apalagi ketika Yamaha, di tahun yang sama, merilis Yamaha N-Max, sang pionir dan legenda skutik 150cc.
Byson semakin tersudut ketika Honda meluncurkan Verza. Motor ini memang seperti pengganti yang tak sepadan untuk Mega Pro yang pensiun, tetapi Honda cukup pintar memposisikan Verza sebagai motor sport serba guna yang tahan banting.
Ini berbeda dengan Byson. Yang masih dilabeli sebagai sport tourer ketika pecinta touring bahkan mulai memakai skutik untuk berpelesir jauh. Dunia sudah bergeser.
Kombinasi sempurna antara desain aneh, penyempitan segmen pasar, dan kegagapan tim marketing, membuat penjualan Yamaha Byson seloyo performanya. Hal itu membuat Yamaha memutuskan untuk menghentikan penjualan Byson pada 2019.
Itulah perjalanan Yamaha Byson yang, kalau melihatnya dari sudut pandang tertentu, berakhir tragis. Namun, tak ada yang menduga bahwa bertahun-tahun kemudian, ia menjadi salah satu motor bekas yang paling diburu keberadaannya.
Dua legenda anumerta
Tetangga samping rumah baru saja membeli sebiji Yamaha Byson keluaran 2013. Dia menebusnya dengan harga nyaris Rp10 juta di dealer motor bekas.
Awalnya saya mengira bahwa dia memang tak jago menawar. Tetapi, pencarian di internet menunjukkan harga yang tak jauh berbeda.
Dengan tahun produksi yang sama, ada banyak motor naked sport 150cc lain yang lebih layak. Lantas, apa yang membuat harga Byson bekas cenderung naik?
Saya menanyakan hal ini pada Mas Bojo. Dia memberi dua jawaban yang membuat saya sanggup menganggukkan kepala.
Pertama, banyak orang suka sama Byson karena ia cocok sebagai motor basis modifikasi. Ini semua gara-gara tren motor bergaya retro seperti cafe racer, chopper, dan bobber.
Demamnya memuncak ketika Jokowi menunggangi chopper berkelir emas pada suatu momen. Orang-orang yang dulu tak tahu apa-apa tentang motor retro, kini menganggap aliran modifikasi tersebut sebagai sesuatu yang pantas dimiliki.
Maka dimulailah era perburuan motor sport naked bekas. Kombinasi antara suspensi depan berukuran besar, tipe rangka, dan harga murah menjadikan Byson sebagai buruan utama.
Kedua, seperti Mio karbu, Yamaha Byson adalah penanda era. Motor sport naked 150cc dulunya berdesain “aman”: tarikan garisnya landai, dimensinya cenderung ramping, dan harus tetap elegan.
Yamaha Byson mencampakkan norma tak tertulis itu. Dengan elemen desain yang bak perjudian, Byson hadir dengan bahasa desain serba tegas, knalpot pendek, stoplamp mungil, stang selebar motor trail, tangki jumbo, dan profil ban super lebar.
Baca juga: Secinta Apapun Saya Sama Yamaha Byson, Ujungnya Balik ke Matic Juga
Perjudian yang berhasil
Sejak saat itu, Yamaha memakai bahasa desain serupa untuk semua lini produknya. Profil ban lebar yang diusungnya malah menjadi norma. Sejak saat itu, tak ada motor sport naked 150cc yang berani memasang profil ban berukuran normal. Semua harus lebar, motor skutik sekalipun.
Maka, tak heran bila banderolnya akan terus merangkak naik. Orang-orang membelinya untuk memenuhi sesuatu yang tak bisa dikompromikan dengan harga: kepuasan. Pecinta modifikasi mengubahnya untuk menjadi motor impian, sedangkan konsumen lain ingin mengalami hangatnya dekapan nostalgia.
Yamaha Byson kini menikmati status yang tak disandangnya ketika masih diproduksi dulu. Menarik untuk membayangkan motor ini berbagi tempat di keabadian sana dengan Van Gogh.
Kedua legenda anumerta itu mungkin bisa berbagi kegembiraan dengan mengelilingi taman-taman dan jalanan tak berujung. Asalkan ada SPBU, tentunya.
Penulis: Mita Idhatul Khumaidah
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Yamaha Byson: Motor Gagah yang Sempat Dicap Produk Gagal, tapi Kini Kembali Merebut Hati dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.
