Secinta Apapun Saya Sama Yamaha Byson, Ujungnya Balik ke Matic Juga – Terminal Mojok

Secinta Apapun Saya Sama Yamaha Byson, Ujungnya Balik ke Matic Juga

Artikel

Avatar

Sebetulnya saya sudah mulai suka Yamaha Byson sejak awal-awal dia keluar di Indonesia. Ketika itu, saya masih seorang anak SMA yang bawa motor kopling pun belum bisa. Desainnya yang berdimensi ringkas tapi padat membuat saya membatin: “Njir, keren juga ni motor.” Belum lagi tangki yang semok dan stang yang lebar menambah kesan kekar pada tampilan keseluruhannya.

Kesempatan untuk bisa mencoba motor tersebut untuk pertama kali datang di tahun 2016 lewat Byson milik seorang teman. Saya yang tunggangannya masih Mio Soul pun berdecak kagum. Posisi riding yang enak, torsi dan tarikan yang mantap, serta bodi yang tak terlalu besar namun gagah membuat saya berangan-angan untuk bisa mengupgrade Mio. Badan yang besar membuat saya nggak nyaman pake Mio. Kalau naik Yamaha Byson, baru pas. Ya biar cocok lah sapi nunggang sapi juga.

Alhamdulillah, awal tahun 2017 angan-angan itu kesampaian. Saya bisa membeli Byson Fi 2016 bekas setelah beberapa kali beli motor dengan harga murah, untuk kemudian dijual lagi demi cari untung. Unit yang dibeli adalah Byson facelift generasi terbaru yang sudah menggunakan injeksi untuk sistem pasokan bahan bakarnya. Perubahan juga terlihat pada desain secara keseluruhan seperti bentuk speedometer, bodi, hingga tanki.

Sayangnya, penjualan Byson yang sudah facelift terasa boncos. Harganya makin menurun dari tahun ke tahun. Lha jelas wong nambah sekitar 5 jeti sudah dapat Vixion yang spek di atas kertasnya lebih oke. Vixion juga lebih ramping dan ringan sehingga lebih cocok bagi yang tinggal di daerah dengan tingkat kemacetan tinggi. Belum lagi keunggulan lain seperti rangka deltabox, pendingin cairan, hingga rem cakram depan-belakang yang membuat Yamaha Byson makin terlihat seperti motor tanggung.

Meski begitu, Byson tetap di hati. Performanya pun sudah sangat teruji. Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Saya masih ingat betul beli motor itu di hari Kamis, kemudian Sabtu pagi sudah saya naiki dari Bekasi menuju tempat rantauan di Malang. Sepanjang perjalanan tidak ada keluhan yang dirasakan atas si Byson.

Konsumsi bahan bakarnya sangat irit, 1 liter bensin bisa dipakai memacu motor untuk 50 sampai 60 kilometer. Duduknya pewe, tangan tidak pegal, kaki juga tidak terbebani meski Byson punya bobot yang cukup berat. Walau di ujung perjalanan ada kisah tidak mengenakkan sekaligus lucu.

Di Gunung Lawu, saya yang sedang turun dari arah Sarangan ke Magetan, jatuh waktu mau menepi untuk melihat peta di hape. Jalanan yang agak licin karena sedikit berpasir membuat saya terjatuh. Saya yang kurang fokus akhirnya terjatuh dan terngesot sekitar 3-5 meter.

Baca Juga:  Sebenarnya Pak Jokowi Tidak Perlu Buzzer

Ndilalah waktu saya jatuh itu ada dua mbak-mbak yang sedang naik menuju arah Sarangan. Melihat saya terkena musibah mereka putar balik berniat menolong, tapi justru ikut-ikutan jatuh terpeleset pasir. Pada akhirnya saya nggak jadi ditolong, malah saya yang menolong. Mungkin karena isin dua mbak ini malah langsung cabut setelah motornya berdiri lagi. Saya yang tangannya lecet-lecet dan motor yang stangnya bengkok malah ditinggal begitu saja. Piye tho mbak?

 

Sampai rantauan si Byson saya ajak untuk kerja rodi. Demi memenuhi hasrat jajan sempol, cilok, dan capcin akhirnya saya mendaftar ojek online. Jadi ojek online itu selain nggak enak bagi pantat, juga nggak enak bagi si motor. Dalam sehari, motor bisa jalan 8 jam penuh, itu minimal. Kasihan rasanya. Kalau  motor adalah makhluk hidup, pasti dia sudah mengeluh kalau upah bensin harian itu nggak sebanding dengan beban kerja untuk kemudian lanjut sambat di Twitter dengan cara mention hrdbacot.

Dalam kesehariannya, keluhan yang tiap kali saya temui ialah betapa tingginya motor Byson. Kalimat “Duh motornya tinggi ya mas,” adalah konsumsi sehari-hari buat kuping saya. Ingin rasanya membalas dengan: “Bukan motor saya yang tinggi mbak, mungkin kaki mbaknya yang kurang panjang,” tapi konsekuensi bintang satu masih membuat saya takut. Masih banyak orang yang nggak tau cara naik motor lelaki dengan benar. Saya kasih tahu caranya. Jadi kalau mau naik motor lanang, naik lah seperti anak SD naik motor. Kaki kiri menjejak di footstep kiri dulu, baru naik.

Namun secara keseluruhan Byson merupakan partner terbaik yang saya punya untuk jadi ojol. Bawa penumpang berbadan kecil oke. Bawa penumpang dengan badan seukuran saya pun tidak masalah. Mengendarai Byson sebagai tunggangan ojek juga tidak terlalu membebani fisik. Paling cuma tulang ekor yang sakit karena berjam-jam duduk di atas motor.

Beban terbesar bagi motor ojol tentu saja ada di fast moving part seperti kampas rem yang cepat tipis. Selain itu supaya mesin tetap enak oli juga mesti diganti tiap bulan. Tapi kedua hal itu masih lumrah lah.

Baca Juga:  Curhat Sebuah Kursi DPR Tentang Artis yang Jadi Anggota Dewan

Tunggangan saya itu pun juga sudah berkali-kali diajak jalan-jalan lucu. Beberapa kali dia menjelajah aspal Malang-Bromo. Sang mesin lebih dari cukup untuk menapaki jalur naik turun Nongkojajar sampai view point Bromo. Ban-bannya juga enak untuk menjejak lautan pasir. Belum lagi perjalanan-perjalanan ke arah selatan untuk mencicipi pantai Kabupaten Malang satu per satu. Mulai dari Pantai Kondang Merak, Pantai Balekambang, Pantai Goa Cina, hingga Pantai Sendang Biru.

Sudah 3,5 tahun lebih saya lalui bersama dengan si Byson. Semenjak awal beli dari jarak tempuh di speedometernya baru belasan ribu sampai sekarang sudah puluhan ribu kilometer, tunggangan saya itu belum pernah rewel sekali pun. Tidak ada kisahnya dia minta turun mesin, minta ganti jeroan. Jatuh pun sudah berkali-kali. Mulai dari jatuh kerena main Pokemon Go, sampai jatuh karena menghindari kucing yang menyebrang sembarangan. Tidak ada luka berarti bagi Byson kecuali pada stangnya. Mungkin itu lah satu-satunya hal yang saya keluhkan dari dia. Meski berbadan besar dan terlihat gagah, tapi besi stangnya kurang tebal sehingga gampang bengkok ketika jatuh.

Sampai saat ini, pengeluaran terbesar yang pernah saya keluarkan untuk si kebo tunggangan adalah demi mengganti ban-bannya yang sudah benjol dan tipis. Jumlah yang dihabiskan sebesar setengah UMK Yogyakarta. Selain itu tidak ada pengeluaran berarti kecuali servis rutin yang sebenarnya tidak rutin-rutin amat karena biasanya setahun hanya saya lakukan dua atau tiga kali dan penggantian oli serta kampas rem secara berkala.

Di penghujung kisah, setelah kembali ke kota asal Bekasi saya menyadari bahwa Yamaha Byson bukan lah tunggangan terbaik untuk digunakan di kota yang macetnya konstan. Opsi untuk mengucapkan selamat tinggal pada kendaraan yang sudah membersamai saya selama bertahun-tahun ini terbuka makin lebar. Mungkin, lagi-lagi saya harus tunduk di hadapan kekuatan motor matic yang enak dipakai, lincah, relatif lebih irit, dan yang terpenting: bisa dibawa untuk beli galon.

BACA JUGA Tanpa Privilese Kita Tetap Bisa Sukses, Perbanyak Nongkrong Adalah Caranya! 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.