MOJOK.CO – Sudah 12 motor Honda Verza menemani saya menembus pegunungan Banjarnegara untuk mencari rezeki. Dan motor tua ini masih menolak untuk pensiun.
Pukul 5 subuh. Pasar Kota Banjarnegara masih gelap. Udara dingin menusuk tulang, jalanan naik-turun seperti grafik usaha UMKM.
Di antara gerobak sayur dan lapak tempe, terparkir motor Honda Verza 2013 warna merah. Plat R. 150cc. Ini bukan motor gaya, tapi alat kerja, dan motor ini selalu menolak pensiun.
Motor Honda Verza adalah alat kerja di kota pegunungan
Saya membeli Honda Verza ini bekas tahun 2018. Bukan karena mau koleksi. Alasannya sederhana. Ia murah, bandel, dan irit.
Di Banjarnegara, motor matik sering ngos-ngosan saat menanjak membawa muatan sayur. Justru Honda Verza tua seperti ini yang bertahan. Mesinnya sederhana, tapi tidak pernah rewel.
Kini, usianya sudah 12 tahun di tangan saya. STNK bukan atas nama saya. Status saya hanya pengendara, sopir, sekaligus mekanik dadakan. Namun, motor inilah saksi perjalanan saya dari titik nol.
Honda Verza ini mengantar saya pertama kali ke Kelurahan Sigaluh untuk mengurus NIB pelaku UMKM yang usahanya masih di teras rumah. Ia menemani saya kehujanan di depan Kantor DPMPTSP Banjarnegara karena antrean panjang dan server OSS sedang down.
Motor ini juga bisa menemani saya nongkrong sejak pukul 5 subuh di Pasar Kota, menunggu klien tanda tangan sambil menitipkan helm di lapak sayur dan menyeruput kopi 3 ribuan. Hilir-mudik ke Batur, Wanadadi, Madukara untuk sosialisasi OSS kepada petani kentang dan tembakau yang ponselnya masih Nokia jadul, motor ini juga ikut.
Motor Honda Verza ini pernah mogok sekali. Tepatnya di tanjakan Karangkobar pukul 5 sore. Bagasi penuh berkas, ditambah 2 karung dokumen dan jas hujan sobek. Penyebabnya kelalaian sendiri. Saya lupa ganti oli selama 8 bulan. Sibuk mengurus orang, lupa mengurus “karyawan”.
Setelah mendorongnya 1 kilometer ke bengkel dan ganti oli, besoknya motor ini kembali nanjak. Tanpa drama. Tanpa protes. Mirip warga Banjarnegara: dibentak, tetap bekerja. Minim gaya, tapi beres.
Kenapa saya nggak mau ganti?
Pertanyaan itu sering muncul di Pasar Kota. Dari pedagang, tukang ojek, sampai klien. “Pak, kok tidak ganti NMAX atau PCX saja? Kan jasa perizinannya sudah laris.”
Jawaban saya tetap sama: “Sayang, Mas.”
Bukan soal harga. Tapi karena motor Honda ini sudah hafal peta perjuangan di pegunungan. Motor ini hafal titik jalan berlubang rute Banjarnegara-Dieng. Tahu mana titik rawan longsor saat musim hujan.
Ia paham jam-jam macet Pasar Kota karena truk sayur dari Wonosobo datang. Mengerti kapan harus ngebut ke kecamatan demi deadline NIB 1×24 jam. Dan, tahu kapan harus pelan karena aspal licin habis hujan es di wilayah Batur.
Ada tetangga yang ganti NMAX. Dua bulan kemudian mengeluh cicilan. Sementara keluhan Honda Verza hanya bensin.
Mengganti motor baru berarti adaptasi dari awal. Sementara waktu tidak ada untuk itu. Yang saya butuhkan adalah teman yang langsung tancap gas.
Honda Verza 2013 memang teknologinya jadul. Belum LED. Belum USB. Spion standar. Speedometer masih jarum.
Tapi, ia punya fitur yang tidak ada di dalam brosur: torsi untuk menanjak, rangka yang tidak rewel, dan loyalitas menemani dari pasar hingga kantor kelurahan.
Ironi motor Honda tua di kota dingin
Secara spesifikasi, Honda Verza kalah telak. Kalah irit dari Beat. Kalah bagasi dari Vario. Dan nggak bakal bisa menyaingi gaya dan fitur PCX. Namun di Banjarnegara, secara mental, ia unggul.
Saya pernah melihat bapak-bapak dengan NMAX baru mogok di pom bensin karena aki tekor kedinginan. Sering saya melihat ibu-ibu mendorong Scoopy karena ban selip di tanjakan Pasar Kota saat hujan. Sementara Honda Verza saya cukup isi Pertalite Rp20 ribu, lalu langsung nanjak ke Dieng membawa map berisi 30 berkas.
Mungkin motor Honda tua ini paham. Jika berhenti, ada petani yang terlambat mengurus izin dan gagal panen. Jika rewel, ada UMKM di Pasar Kota yang gagal ikut tender karena berkas belum beres. Maka, pilihannya hanya satu: terus berjalan. Diam. Tanpa keluh. Tanpa menuntut bonus.
Enam tahun terakhir, odometer sudah menyentuh 70 ribu kilometer. Ini setara 10 kali PP Banjarnegara-Dieng. Ban belakang ganti 4 kali karena aspal kasar pegunungan. Kampas rem 3 kali karena turunan curam. Rantai 2 kali. Tapi mesin belum pernah turun. Tidak pernah menginap di bengkel lebih dari 1 hari.
Mentalitas orang pegunungan dan Honda Verza tua
Ada yang bilang, “Pakai motor tua itu malu. Tidak update.”
Saya jawab, “Lebih malu punya motor baru tapi tidak bisa membayar cicilan pupuk dan gaji tukang.”
Suatu pagi, Mbah penjual sayur bertanya: “Pak, kok motornya tidak ganti to? Isin ora?”
Saya menjawab: “Mbah, sing penting iso golek duit to mbah. Gengsi ora nggo tuku beras.”
Honda Verza mengajarkan filosofi orang Banjarnegara: jangan gengsi dengan alat kerja. Cangkul tua yang tajam lebih berguna daripada traktor yang menganggur karena menunggu solar subsidi. Ponsel jadul yang bisa WA lebih penting daripada iPhone untuk gaya-gayaan.
Jok motor Honda tua ini sekarang sobek di tengah dan saya tutup pakai lakban. Dulu malu. Sekarang bangga. Bodi Honda Verza saya lecet tersenggol gerobak sayur di Pasar Kota. Tangki penyok terkena ranting di halaman kecamatan. Spion kanan patah diserempet truk.
Meski begitu, mesin tetap halus. Setang lurus. Tarikan masih kuat untuk menanjak membawa 2 karung berkas dan semangat.
Motor Honda Verza tua adalah saksi
Honda Verza tua ini adalah saksi perjalanan dari nebeng sampai bisa membuka jasa dan membantu 200 UMKM Banjarnegara mengurus izin, dari warung kopi hingga pabrik tempe.
Motor tua ini menjadi saksi kehujanan di Pasar Kota, kepanasan di kantor kelurahan, kedinginan di Dieng sampai bibir membiru. Ia juga saksi mengeluh di pom karena uang tipis, makan nasi kucing, dan sujud syukur di masjid setelah cair.
Orang bilang motor tua itu beban. Boros. Memalukan.
Bagi saya, motor Honda tua ini adalah bukti. Bukti belum menyerah. Bukti bahwa di kota pegunungan, rezeki tidak butuh motor baru untuk datang.
Kesetiaan itu mahal. Kadang wujudnya bukan manusia. Wujudnya motor tua 150cc.
Terima kasih, Honda Verza. Kita lanjut sampai benar-benar tidak kuat. Pasar Kota Banjarnegara masih menunggu, berkas masih menumpuk, tanjakan masih panjang.
Jadi, motor Anda sudah berapa tahun menemani mencari rezeki?
Penulis: Kresnanto Sulistiyo Broto
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Honda Verza, Produk Gagal yang Justru Meningkatkan Kesombongan Saya dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.
