Alasan memilih bus Mila Sejahtera
Sebetulnya, jika memang harus naik bus dari Jogja ke Jember, saya lebih suka naik Sugeng Rahayu. Bus mereka punya formasi kursi 2-2. Jadi, tempat duduk mereka jadi lebih lega.
Untuk saya yang berpostur tinggi, seenggaknya kaki ini bisa bebas selonjoran tanpa mengganggu penumpang lain. Belum lagi kita bisa memiringkan sandaran kursi. Ini menambahkan kenikmatan lain saat naik Sugeng Rahayu.
Berbeda dengan bus Mila Sejahtera trayek Jogja-Banyuwangi yang akan kami tumpangi. Ia memiliki formasi tempat duduk tiga kanan, dua kiri, plus smoking area.
Ini membuat luas tempat duduk berkurang, sehingga kaki saya cenderung ketekuk dan tidak bisa diluruskan. Memang secara harga, bus Mila Sejahtera lebih murah Rp10 ribu. Tapi, sensasi kesemutan dan berdesakan dengan penumpang lain, akan menjadi derita tambahan yang mungkin sulit saya hindari.
Sebenarnya ada opsi lain. Kami bisa berangkat Surabaya dulu, lalu oper bus menuju Jember atau Banyuwangi di Terminal Bungurasih. Tapi, berhubung sudah pasrah dengan keadaan, saya dan Rosyid sepakat memilih bus Mila Sejahtera.
Belum lagi momen saat menunggu di terminal. Kami merasa akrab dengan para awak bus Mila Sejahtera. Mungkin karena masih satu rumpun bahasa daerah Tapal Kuda, Jawa Timuran.
Ada secercah tawaran kenyamanan dari mereka yang berasal dari daerah yang sama. Meskipun pada akhirnya, faktor tersebut tidak menjamin kebahagiaan di dalam perjalanan.
Perjalanan ke Jember
Setelah menunggu selama hampir empat jam, akhirnya bus Mila Sejahtera kami berangkat pukul 12:45 WIB. Kami duduk pas di belakang kursi kemudi sopir. Kabin terasa lengang karena belum banyak penumpang.
Sejak berangkat dari Jogja sampai Sragen, hanya ada lima penumpang. Saking kosongnya, kami bahkan sempat pecicilan, mondar-mandir, atau tidur-tiduran di smoking area. Kondisi mulai berubah saat bus Mila Sejahtera masuk Terminal Kertonegoro, Ngawi.
Serbuan penumpang untuk tujuan Lumajang, Jember, dan Banyuwangi membludak. Situasi ini membuat kami mulai meringkuk dan duduk manis di kursi penumpang.
Selama perjalanan, saya memaksa diri untuk tidur. Saya harus mengalihkan pikiran agar perjalanan bersama bus Mila Sejahtera ini tidak begitu menyiksa karena kaki saya mulai kesemutan.
Belum lagi, bus hanya lewat jalur bawah, tidak naik jalur tol. Ini membuat waktu perjalanan semakin panjang. Mungkin, kru bus Mila Sejahtera ingin menghemat ongkos perjalanan. Selain itu, kayaknya, mereka juga berburu penumpang.
Derita bersama bus Mila Sejahtera yang terus berlanjut
Singkat cerita, sekitar pukul 21:30, kami tiba di Pasuruan. Ini waktunya ishoma. Kami berhenti di depot makan dengan sajian menu model prasmanan.
Karena dalam perjalanan sudah kelaparan, kami mesti mengganjal raungan di perut. Sayangnya, tidak ada papan menu harga dan saya harus merogoh kocek sebesar Rp25.000 kepada kasir.
Padahal, komposisi menu makanan terbilang cukup minimalis. Cuma ada nasi, sayur sop, telur, tahu, dan sambal. Jujur, soal rasa, agak aneh menyebut sebagai ini makanan karena sangat hambar. Bonus teh hangat tidak mengubah apapun. Jatuhnya saya malah tidak ikhlas.
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Celakanya, saat menuju Probolinggo, salah satu komponen di ban belakang bus Mila Sejahtera mengalami kerusakan. Akhirnya, bus harus berhenti.
Setelah kondektur bus melakukan menjelaskan apa yang terjadi, mau tidak mau, kami harus oper bus. Paling tidak, kami mendapat jaminan tidak membayar lagi saat naik bus berikutnya.
Akhirnya, kami pindah bus di Probolinggo. Masih tetap nama yang sama, Mila Sejahtera. Awak bus tetap memaksa kami masuk, meskipun kursi penumpang sudah terisi penuh.
Untungnya, saya dan Rosyid masih mendapatkan jatah kursi meskipun kami duduk berjauhan. Di sisi lain, penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, akhirnya memakai tambahan kursi plastik pecel lele warna hijau lorong tengah.
Saya tidak bisa membayangkan betapa duduk mereka pasti tidak nyaman. Apalagi kalau sangat mengantuk dan ketiduran. Butuh skill mumpuni kalau mau tidur pakai kursi plastik. Belum lagi kalau kursinya tiba-tiba pecah. Derita banget.
Tiba di Terminal Tawangalun, Jember
Dengan sisa-sisa semangat dan masih mengantuk, alhamdulillah, bus Mila Sejahtera sukses mengantar kami sampai di Terminal Tawangalun, Jember. Waktu menunjukkan pukul 04:00 pagi.
Saya turun di terminal, sementara Rosyid turun di Jalan Sultan Agung. Dia akan lanjut naik bus antar-kota untuk sampai di dekat rumahnya.
Setelah mencari warung terdekat untuk menggenapi jiwa yang baru bangun tidur ini, saya meminum teh hangat dan memesan ojek online. Usut punya usut, ternyata perseteruan ojol dan opang di Jember hanya selesai tabayun di area stasiun, tidak di teritorial terminal.
Ini memaksa saya jalan kaki 500 meter ke arah luar terminal. Hanya untuk bisa naik ojek online. Sial.
Baca juga: Mila Sejahtera Banyuwangi-Jogja: Bus Ekonomi Paling Efektif dan Efisien, Juga Nggak Ugal-ugalan!
Demam tinggi dan penyesalan
Setelah sampai di rumah, saya hanya bisa terkapar dan menatap langit-langit kamar. Selanjutnya, selama tiga hari, saya mengalami demam, mual, dan diare parah di hari pertama.
Mungkin, ini akibat saya tidak ikhlas saat makan makanan hambar di Pasuruan. Sisanya, hanya membuat saya merinding, meringkuk lemas di ranjang kamar, dan harus izin tidak masuk kerja.
Ingin hemat ongkos Rp10 ribu dengan memilih bus Mila Sejahtera justru membuat saya menderita. Selama hampir 15 jam, bus Mila menyiksa saya. Saat demam tinggi masih menguasai, saya membuat ikrar untuk tidak lagi naik bus Mila Sejahtera. Kapok.
Penulis: Elmi Auliya Bayu Purna
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan dan kisah penderitaan lain di rubrik OTOMOJOK.













