Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

Elmi Auliya Bayu Purna oleh Elmi Auliya Bayu Purna
19 Februari 2026
A A
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Ilustrasi Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Alasan memilih bus Mila Sejahtera

Sebetulnya, jika memang harus naik bus dari Jogja ke Jember, saya lebih suka naik Sugeng Rahayu. Bus mereka punya formasi kursi 2-2. Jadi, tempat duduk mereka jadi lebih lega.

Untuk saya yang berpostur tinggi, seenggaknya kaki ini bisa bebas selonjoran tanpa mengganggu penumpang lain. Belum lagi kita bisa memiringkan sandaran kursi. Ini menambahkan kenikmatan lain saat naik Sugeng Rahayu. 

Berbeda dengan bus Mila Sejahtera trayek Jogja-Banyuwangi yang akan kami tumpangi. Ia memiliki formasi tempat duduk tiga kanan, dua kiri, plus smoking area. 

Ini membuat luas tempat duduk berkurang, sehingga kaki saya cenderung ketekuk dan tidak bisa diluruskan. Memang secara harga, bus Mila Sejahtera lebih murah Rp10 ribu. Tapi, sensasi kesemutan dan berdesakan dengan penumpang lain, akan menjadi derita tambahan yang mungkin sulit saya hindari.

Sebenarnya ada opsi lain. Kami bisa berangkat Surabaya dulu, lalu oper bus menuju Jember atau Banyuwangi di Terminal Bungurasih. Tapi, berhubung sudah pasrah dengan keadaan, saya dan Rosyid sepakat memilih bus Mila Sejahtera.

Belum lagi momen saat menunggu di terminal. Kami merasa akrab dengan para awak bus Mila Sejahtera. Mungkin karena masih satu rumpun bahasa daerah Tapal Kuda, Jawa Timuran. 

Ada secercah tawaran kenyamanan dari mereka yang berasal dari daerah yang sama. Meskipun pada akhirnya, faktor tersebut tidak menjamin kebahagiaan di dalam perjalanan.

Perjalanan ke Jember

Setelah menunggu selama hampir empat jam, akhirnya bus Mila Sejahtera kami berangkat pukul 12:45 WIB. Kami duduk pas di belakang kursi kemudi sopir. Kabin terasa lengang karena belum banyak penumpang.

Sejak berangkat dari Jogja sampai Sragen, hanya ada lima penumpang. Saking kosongnya, kami bahkan sempat pecicilan, mondar-mandir, atau tidur-tiduran di smoking area. Kondisi mulai berubah saat bus Mila Sejahtera masuk Terminal Kertonegoro, Ngawi. 

Serbuan penumpang untuk tujuan Lumajang, Jember, dan Banyuwangi membludak. Situasi ini membuat kami mulai meringkuk dan duduk manis di kursi penumpang.

Selama perjalanan, saya memaksa diri untuk tidur. Saya harus mengalihkan pikiran agar perjalanan bersama bus Mila Sejahtera ini tidak begitu menyiksa karena kaki saya mulai kesemutan.

Belum lagi, bus hanya lewat jalur bawah, tidak naik jalur tol. Ini membuat waktu perjalanan semakin panjang. Mungkin, kru bus Mila Sejahtera ingin menghemat ongkos perjalanan. Selain itu, kayaknya, mereka juga berburu penumpang.

Derita bersama bus Mila Sejahtera yang terus berlanjut

Singkat cerita, sekitar pukul 21:30, kami tiba di Pasuruan. Ini waktunya ishoma. Kami berhenti di depot makan dengan sajian menu model prasmanan. 

Karena dalam perjalanan sudah kelaparan, kami mesti mengganjal raungan di perut. Sayangnya, tidak ada papan menu harga dan saya harus merogoh kocek sebesar Rp25.000 kepada kasir. 

Iklan

Padahal, komposisi menu makanan terbilang cukup minimalis. Cuma ada nasi, sayur sop, telur, tahu, dan sambal. Jujur, soal rasa, agak aneh menyebut sebagai ini makanan karena sangat hambar. Bonus teh hangat tidak mengubah apapun. Jatuhnya saya malah tidak ikhlas. 

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Celakanya, saat menuju Probolinggo, salah satu komponen di ban belakang bus Mila Sejahtera mengalami kerusakan. Akhirnya, bus harus berhenti.

Setelah kondektur bus melakukan menjelaskan apa yang terjadi, mau tidak mau, kami harus oper bus. Paling tidak, kami mendapat jaminan tidak membayar lagi saat naik bus berikutnya.

Akhirnya, kami pindah bus di Probolinggo. Masih tetap nama yang sama, Mila Sejahtera. Awak bus tetap memaksa kami masuk, meskipun kursi penumpang sudah terisi penuh. 

Untungnya, saya dan Rosyid masih mendapatkan jatah kursi meskipun kami duduk berjauhan. Di sisi lain, penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, akhirnya memakai tambahan kursi plastik pecel lele warna hijau lorong tengah. 

Saya tidak bisa membayangkan betapa duduk mereka pasti tidak nyaman. Apalagi kalau sangat mengantuk dan ketiduran. Butuh skill mumpuni kalau mau tidur pakai kursi plastik. Belum lagi kalau kursinya tiba-tiba pecah. Derita banget.

Tiba di Terminal Tawangalun, Jember

Dengan sisa-sisa semangat dan masih mengantuk, alhamdulillah, bus Mila Sejahtera sukses mengantar kami sampai di Terminal Tawangalun, Jember. Waktu menunjukkan pukul 04:00 pagi. 

Saya turun di terminal, sementara Rosyid turun di Jalan Sultan Agung. Dia akan lanjut naik bus antar-kota untuk sampai di dekat rumahnya.

Setelah mencari warung terdekat untuk menggenapi jiwa yang baru bangun tidur ini, saya meminum teh hangat dan memesan ojek online. Usut punya usut, ternyata perseteruan ojol dan opang di Jember hanya selesai tabayun di area stasiun, tidak di teritorial terminal. 

Ini memaksa saya jalan kaki 500 meter ke arah luar terminal. Hanya untuk bisa naik ojek online. Sial.

Baca juga: Mila Sejahtera Banyuwangi-Jogja: Bus Ekonomi Paling Efektif dan Efisien, Juga Nggak Ugal-ugalan!

Demam tinggi dan penyesalan

Setelah sampai di rumah, saya hanya bisa terkapar dan menatap langit-langit kamar. Selanjutnya, selama tiga hari, saya mengalami demam, mual, dan diare parah di hari pertama. 

Mungkin, ini akibat saya tidak ikhlas saat makan makanan hambar di Pasuruan. Sisanya, hanya membuat saya merinding, meringkuk lemas di ranjang kamar, dan harus izin tidak masuk kerja. 

Ingin hemat ongkos Rp10 ribu dengan memilih bus Mila Sejahtera justru membuat saya menderita. Selama hampir 15 jam, bus Mila menyiksa saya. Saat demam tinggi masih menguasai, saya membuat ikrar untuk tidak lagi naik bus Mila Sejahtera. Kapok.

Penulis: Elmi Auliya Bayu Purna

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan dan kisah penderitaan lain di rubrik OTOMOJOK.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2026 oleh

Tags: bus mila sejahteracara memesan tiket mila sejahteraharga tiket mila sejahterajam berangkat bus mila sejahteraJemberJogjamila sejahteramila sejahtera jembermila sejahtera jogjamila sejahtera jogja banyuwangipasuruanterminal giwanganterminal tawangalun jember
Elmi Auliya Bayu Purna

Elmi Auliya Bayu Purna

Bertani visual di rumah. Mencari kesenangan untuk tidur siang dan berziarah sore bersama segelas teh hangat.

Artikel Terkait

KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Layung Senja: meditasi melepas kepenatan di kawasan wisata Candi Borobudur, Magelang MOJOK.CO

Layung Senja: Meditasi Lepas Penat di Kawasan Candi Borobudur, Mendengar Suara Alam yang Kerap Terabaikan

15 Februari 2026
Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026
GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan.MOJOK.CO

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.