Saat membaca artikel atau berita di jagat maya, rasa-rasanya kurang afdol jika tidak melirik kolom komentar. Apalagi kalau tulisan-tulisan tersebut mengangkat isu-isu “sensitif”, maka wajib rasanya menyimak respons pembaca lain lewat komentarnya.

Kolom komentar pada artikel atau berita-berita sensitif ini tidak pernah sepi peminat. Jumlahnya bisa puluhan sampai ratusan, bahkan untuk isu yang lebih sensitif daripada kulit bayi, jumlahnya mungkin bisa sampai ribuan. Saking ramainya, komentar-komentar tersebut terasa lebih seru ketimbang isi artikel atau beritanya itu sendiri.

Berdasarkan wangsit dari siluman rengginang yang bersemayam dalam bekas kaleng Khong Guan, saya disarankan untuk mengelompokkan jenis-jenis komentar tersebut dan membagikannya pada Anda. Apa manfaatnya? Ah, tak perlulah ditanya. Untuk ke depannya, semoga jenis-jenis komentar ini bisa segera saya patenkan juga saya tambahi logo halal. Doakan saja.

Daripada berlama-lama, mari kita bahas satu per satu.

1. Komentar kritis-analitis-berkepanjangan

Ciri utama dari komentar ini adalah jumlah katanya yang terhitung banyak. Tak tanggung-tanggung, isinya berupa paragraf-paragraf panjang yang hampir menyamai atau bahkan mengalahkan panjang tulisan yang sedang dikomentari.

Dalam komentar jenis ini, poin-poin utama pada tulisan yang dikomentari akan dibahas secara sistematis dan mendalam dengan menggunakan berbagai teori dan pendekatan ilmiah. Seumpama mau ditambahi latar belakang masalah dan daftar pustaka, maka bukan tidak mungkin, kemiripannya dengan sebuah skripsi tidak akan terelakan lagi.

Baik isinya menyetujui atau mengkritisi, komentar inilah yang terasa ada manfaatnya. Karena dari sini kita akan mendapat tambahan pemahaman, data, perspektif, juga tambahan rasa lieur alias jangar alias puyeng. Namun, untuk bisa merasakan betul manfaatnya, Anda haruslah sabar membacanya sampai akhir dan fokus.

Bagi Anda yang merasa masuk dalam golongan pelaku komentar ini, saya sarankan lebih baik Anda buat artikel sendiri saja. Atau, jika begitu kontra, ya buatlah saja semacam artikel tandingan. Karena amat disayangkan jikalau tulisan analitis ini hanya berakhir di dalam kolom komentar.

Akan tetapi, jika keukeuh ingin masuk dalam kolom komentar, mending buatlah komentar yang downloadable dalam format PDF. Insya Allah, Anda senang dan mata pembaca pun tidak sareukseuk serta jempolnya tidak pegal gara-gara kebanyakan scroll.

2. Komentar yang #komentargoals banget

BACA JUGA:  Sudahkah Kita Bersikap Adil Sebagai Makhluk Penafsir?

Inilah jenis komentar yang paling banyak mengisi kolom-kolom komentar pada tulisan yang – sekali lagi – mengangkat isu-isu sensitif. Kalau tidak ada jenis komentar ini, berita atau artikel-artikel itu tidak akan sedemikian heboh. Dan berkat jenis komentar ini pula lah kolom komentar menjadi semacam arena debat yang riuh nan bergemuruh.

Ciri khas komentar jenis ini adalah pengungkapan pro atau kontranya yang disampaikan dengan penuh gairah. Saking bergairahnya, terjadilah adu argumen yang melahirkan olok-olokan semacam bodoh, tolol, kafir, hingga “bunuh!” dan “bakar!” Di level lainnya, gaya penulisan komentar ini kadang menggunakan perbandingan ataupun silogisme bernalar tinggi yang biasanya akan dibalas dengan saran “belajar logika lagi ya, Mas” dari komentar seberangnya.

Para pelaku komentar jenis ini sepertinya punya energi berlebih yang jika disambungkan pada gawai atau perangkat elektronik, niscaya baterainya akan awet hingga berbulan-bulan. Mereka tidak lelah menclok sana-sini untuk “meluruskan” siapa saja yang komentarnya memuat pemikiran yang berseberangan – iya, sih, mungkin meluruskan pemikiran yang kadung bengkok juga termasuk jihad.

Kalau tidak ada komentar saingan, kadang pelaku komentar ini menjadikan admin sebagai sasarannya: admin disebut ngaco lah, bego lah, baru bangun tidur lah, dan lain sebaginya. Sungguh, inilah ujian yang nyata bagi profesi admin di akhir zaman.

3. Komentar selow nan menggemaskan

Di antara sekian banyak komentar saling menghujat, menyerang, dan menjatuhkan satu sama lain, komentar ini hadir dengan selownya. Isinya biasanya berupa celetukan-celetukan yang tak terjangkau nalar, seperti “Apa cuman gue di sini yang nunggu komen?” atau “Yang season 1 udah ada bluray-nya belum?” (saat mengomentari berita Jessica yang sempat kembali mencuat).

Hanya orang yang menganggap bahwa planet Namex benar-benar ada atau Hulk adalah titisan Dewa Go Green sajalah yang bisa merasakan serunya membaca komentar jenis ini. Dan saya rasa, sekali-kali kita perlu bergaul dengan pelaku komentar seperti ini, agar tidak melulu serius dalam menjalani “drama” kehidupan ini.

BACA JUGA:  Tere Liye yang Tertukar dengan Pelepah Pisang

4. Komentar netral, bijak, dan semi sufistik

Di tengah adu komentar yang makin memanas, komentar jenis ini hadir bak cendol Elizabeth di gurun pasir. Kehadirannya menyegarkan dan menenangkan. Isinya berupa rangkaian kalimat bijak yang tidak membela pihak tertentu, tidak menyudutkan, dan senantiasa mengajak umat pada kebaikan. Misalnya, “Jangan mudah terprovokasi. Ingat, kita harus tabayyun terlebih dahulu!” atau komentar berupa nukilan kata-kata mutiara Bunda Dorce: “Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Kesalahan milik kita (manusia).”

Sayang sekali, komentar jenis ini biasanya kurang laku. Kalau pun ada yang membalas komentar, sikap netral ini sering kali ditimpali dengan “Situ netral atau cari aman? Tentukan pilihan! Karena di akhirat kelak hanya akan ada dua golongan. Tidak akan ada yang netral”

Gustiiiiii… bahkan netral pun salah! Di situ kadang saya merasa ingin sekali meninggalkan Indonesia kemudian pindah ke Tasikmalaya sambil main kaleci dan moro langlayangan.

5. Komentar dalam hati

Jangan salah, ini juga termasuk komentar. Hanya saja tidak dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Di dalam hati inilah biasanya tersimpan berbagai jenis komentar campuran, mulai dari setuju atau tidak setuju, ikut mencemooh, ikut menghujat, atau ikut menertawakan orang lain. Bentuk nyatanya mungkin hanya sebatas berucap istighfar.

Namun perlu diingat wahai jamaah Mojokiyah yang tidak baperan: janganlah keseringan melakukan komentar dalam hati! Hal ini dipercaya dapat membahayakan nyawa. Apalagi kalau komentarnya dilakukan di tengah jalan ketika banyak truk berseliweran.

Akhir kata, apapun jenisnya, komentar itu sebenarnya adalah suatu bentuk perhatian yang patut diapresiasi, baik oleh yang empunya tulisan maupun oleh para admin yang bertugas mengunggah tulisan. Karena sesungguhnya seperti halnya cabe, perhatian pun mahal harganya.

Komentar
Add Friend
No more articles