Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hidup Denny Sakrie yang Penuh Arti: Sebuah Obituari

Nuran Wibisono oleh Nuran Wibisono
4 Januari 2015
A A
Hidup Denny Sakrie yang Penuh Arti: Sebuah Obituari

Hidup Denny Sakrie yang Penuh Arti: Sebuah Obituari

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kabar meninggalnya Denny Sakrie karena serangan jantung mengejutkan banyak orang. Saya jadi teringat “dosa-dosa” yang pernah saya buat kepada orang penting di dunia musik Indonesia itu, bertahun lampau.

Ceritanya, waktu itu, ada sebuah situs yang sedang hits. Kalau tak salah, namanya FuckYeahAlay. Admin situs itu menampilkan foto-foto norak orang Indonesia. Dengan berbagai pose dan gaya yang layak disebut sebagai alay.

Selain dari pencarian, admin situs itu juga menerima kiriman foto yang disertai caption. Saya dan seorang kawan, Ayos Purwoaji–saya tak mau menanggung dosa sendirian—di sebuah bilik warnet di Jember, sambil tertawa geli mengirimkan foto Denny Sakrie yang sedang duduk di sebelah tumpukan piringan hitam, dengan pandangan yang seakan  sangat songong.

Sumpah, itu sama sekali bukan ekspresi kebencian. Sekadar keisengan dan keangkuhan anak muda yang sering membuat olok-olok pada orang tua yang sudah mapan. Sama seperti anak muda umur 20-30 tahun yang ingin unjuk gigi dan adu kemampuan dengan Goenawan Mohammad, misalkan. Kami sangat menghormati reputasi Denny Sakrie.

Belakangan, setelah ada twitter, saya baru tahu kalau bukan cuma saya yang suka mengisengi Densak, panggilan akrabnya. Beberapa anak muda, rata-rata seumuran saya, kerap menjadikan beliau sebagai guyonan. Sampai-sampai Densak memblokir mereka.

Saya ingat benar, seorang kawan, Manan Rasudi, menulis: “Denny Sakrie menonton post-rock? Ini baru progres!” Beberapa hari kemudian, Denny Sakrie langsung membuat tulisan balasan. Ia menulis, mungkin dengan kesal karena diremehkan, bahwa ia sudah lama mendengarkan musik post-rock.

Pria bernama asli Hamdan Syukrie itu sudah mulai menulis musik sejak 1979, saat dia masih duduk di sekolah menengah pertama. Ia juga pernah menjadi penyiar di beberapa radio. Belakangan, kesukaannya pada musik membuat ia juga dikenal sebagai pemerhati, pengarsip, hingga kolektor musik.

Denny Sakrie bukan jenis pengamat musik yang hanya sibuk mengglorifikasi nostalgia zaman keemasan musik masa lalu. Ia tak berhenti pada The Beatles, Led Zeppelin, atau Pink Floyd saja. Ia, dengan ketekunan yang mengharukan, turut mendengarkan musik-musik baru yang muncul belakangan.

Tak salah kalau Elevation Records, label yang merilis album band Semakbelukar, mendedikasikan sebuah penghargaan untuk Denny Sakrie. Karena Denny adalah salah satu orang pertama yang memberikan dukungan pada Semakbelukar, band asal Palembang yang memainkan musik Melayu yang notabene tidak populer.

Dukungannya untuk Semakbelukar sebenarnya bukan hal yang mengherankan. Denny sudah lama dikenal sebagai pecinta musik Indonesia. Di twitter, ia giat mempopulerkan tagar BanggaMusikIndonesia. Ia memposting cuitan, atau menduplikasi cuitan, yang berkaitan dengan musik Indonesia. Entah itu berkaitan dengan event, arsip, bahkan band-band baru yang sedang berjuang untuk jadi besar.

Denny Sakrie punya ketahanan luar biasa dalam menulis musik. Ia punya blog yang diperbaruinya secara rutin. Soal intensitas menulis, ia bisa membuat penulis-penulis atau blogger muda merasa malu. Densak menulis hampir tiap hari untuk blognya. Giat sekali. Bahkan tak jarang dalam satu hari ia bisa menulis dua atau tiga postingan panjang. Tahun 2014, terhitung ada 155 postingan. Ini artinya, tiap bulan ia menulis 12-13 artikel. Setiap minggu ia bisa menulis 3-4 artikel.

Blog Denny juga menampilkan sisi lain seorang Denny Sakrie yang kerap dilupakan orang. Denny adalah pengarsip musik yang luar biasa tekun. Ia mengingatkan saya pada Gus Muh, alias Muhidin M. Dahlan, pengarsip dari Radio Buku. Juga Pramoedya Ananta Toer yang rajin mengkliping. Berapa banyak orang yang rela duduk berlama-lama di perpustakaan penuh debu hanya untuk mencari arsip lama? Para pengarsip adalah orang-orang terpilih. Hormat patut kita berikan dengan penuh seluruh pada orang-orang seperti mereka.

Karena itu, dari blog Denny Sakrie, juga twitternya, kita kerap menemukan cerita-cerita dan foto-foto unik dari dunia musik Indonesia yang mungkin sudah tak ada lagi di media masa kini. Di blognya, kamu bisa mendapat harta karun, benar-benar harta karun, musik Indonesia.

Di postingan terakhirnya yang diunggah pada 2 Januari 2015, sehari sebelum ia wafat, Densak menulis untuk memperingati hari ulang tahun Fariz RM. Di tulisan itu, selain menceritakan sisi lain Fariz yang tak banyak diketahui orang, Denny juga mengunggah foto-foto lama Fariz yang mungkin belum pernah dilihat di manapun.

Iklan

Kepergian Denny membuat banyak orang yang merasa kehilangan. Entah itu musisi, pemilik label, sesama penyiar, bahkan banyak penulis dan pengamat musik yang berusaha mengejar ilmu dan kemampuannya. Akan ada banyak orang yang merindukan cerita-cerita musiknya. Atau kuis-kuis iseng tentang musik Indonesia yang kerap ia bikin di twitter.

Tapi saya pikir, Densak berpulang dengan tenang dan bahagia. Sebab di laman keterangan diri dalam blognya, pria kelahiran 1963 ini menuliskan, “…karena saya yakin tanpa musik, hidup ini tidak ada arti sama sekali.”

Dan kita sama-sama tahu, Denny Sakrie telah menjalani hidup yang penuh arti.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: Denny SakrieMusikMusik IndonesiaObituari
Nuran Wibisono

Nuran Wibisono

Suka menulis dan memasak. Bekerja di tirto.id.

Artikel Terkait

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO
Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut

3 April 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan dan Vita Rilis Video Klip "Rayuanmu" yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!.MOJOK.CO
Hiburan

Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!

9 Februari 2026
down for life.MOJOK.CO
Panggung

“Wall of Love”, Merayakan Lebaran Metal dengan Berpelukan di Tengah Moshpit Down For Life

25 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Na Willa, film anak yang obati inner child

‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

27 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM

Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan

1 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.