Dalam Al-Quran Nabi Ayyub dikisahkan dengan cara yang unik. Jika cerita para nabi lainnya dikisahkan dengan dakwah dan perjuangannya menghadapi penolakan kaumnya, maka pada Nabi Ayyub kisahnya lebih bersifat personal.

Kisah Nabi Ayyub diletakkan sesudah Nabi Sulaiman, seolah untuk menunjukkan sebuah kontras. Di satu sisi Sulaiman adalah seorang nabi yang dianugerahi dengan kekayaan, pangkat dan kesehatan. Sementara di sisi lainnya Ayyub adalah seorang nabi yang diuji dengan sakit yang lama.

Tidak ada penjelasan tentang jenis penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub. Mayoritas pendapat menyebut penyakit kulit yang menyerang sekujur tubuh Nabi Ayyub, kecuali lidah dan hatinya. Begitu juga tentang lama sakit yang dijalani. Satu riwayat menyebut tiga tahun, tujuh tahun, bahkan ada juga hadis Nabi saw. yang mengatakan 18 tahun.

Sakit merupakan ujian yang berat. Tubuh yang tak berdaya dan aktivitas yang mendadak terhenti mudah membuat seseorang kehilangan kesabaran dan harapan. Tidak mudah bagi seseorang untuk bersabar dan tetap tekun serta tulus menjalani ibadah ketika ia dilanda penyakit yang berkepanjangan.

Pada awalnya seseorang mungkin bisa bersabar dan menjadi begitu dekat dengan Allah. Namun ketika penyakit itu menyerang begitu lama, kesabaran akan berganti menjadi frustasi.

Orang merasa tidak berguna dan mulai ragu dengan Tuhan, lalu kehilangan gairah untuk beribadah, kemudian berpikir buruk tentang Tuhan dan akhirnya kehilangan harapan.

Baca juga:  Sabar itu Nggak Ada Batasnya, Kalau Ada Batasnya itu Kebelet Namanya

Tapi Nabi Ayyub menjalani semua ujian dengan sabar. Ia tidak mengomel atau mengeluh meski karena sakitnya itu harta bendanya ludes, sanak keluarganya dan teman-temannya menjauh, dan ia harus dikarantina ke luar kampungnya.

Nabi Ayyub tetap memuji Allah dan beribadah. Bahkan konon, ketika ada belatung yang jatuh dari tubuhnya, diceritakan Ayyub mengatakan, “Kembalilah ke tempat Tuhanmu menciptakan.”

Ada satu kisah bahwa istri Nabi Ayyub, satu-satunya orang yang menemaninya, meminta agar suaminya berdoa meminta kesembuhan kepada Allah. Nabi Ayyub tahu bahwa istrinya pasti letih merawat dan melayaninya. Tapi Ayyub menjawab dengan kalem, “Berapa lama aku sakit?”

“Delapan belas tahun,” jawab istrinya.

“Lalu berapa lama aku diberi kesehatan dan kekayaan?”

“Delapan puluh tahun.”

“Kalau begitu pantaskah aku mengeluh jika anugerah yang diberikan kepadaku lebih banyak dari ujiannya?”

Menurut sejumlah riwayat Nabi Ayyub mengalami sakit di usia yang tidak lagi muda. Sebelumnya ia adalah orang kaya dengan tanah, budak, dan binatang ternak yang melimpah. Anak dan keluarganya banyak. Ayyub juga dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, dan selalu memuji Allah.

Ketika kemudian satu persatu harta kekayaannya diambil Nabi Ayyub tidak ada yang berubah dalam hati dan perilaku beliau. Ia tetap pribadi yang penuh sabar dan syukur. Ada satu ungkapan terkenal yang disandarkan kepada Ayyub menyikapi karunia Allah, “Tuhan memberi, Tuhan mengambil.”

Baca juga:  Perang Ucapan sepanjang Ramadan

Dengan prinsip ini hubungan Nabi Ayyub dengan Allah tidak tergantung pada karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ia tetap beribadah baik di saat bahagia maupun menderita. Toh hakikatnya semua berawal dan berakhir pada Allah.

Bahkan ketika sakitnya kian parah, hatinya tetap memuji Allah. Al-Quran mencatat ratapan Nabi Ayyub, anni massaniya dhurru wa anta arhamur rahimin, Sungguh aku tertimpa penyakit padahal Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang. (QS. al-Anbiya: 83)

Tidak terbesit keluhan, kekecewaan, atau perasaan putus asa dalam ungkapan tersebut. Secara etimologis, kata massa berarti tertimpa atau tersentuh sesuatu yang ringan. Jadi, penderitaan bertahun-tahun yang dialami oleh Nabi Ayyub itu dirasakan sebagai sesuatu yang ringan saja.

Dalam doa tersebut bahkan tidak ada permohonan agar disembuhkan. Nabi Ayyub hanya menyebut pujian kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Penyayang. Al-Quran kemudian menceritakan Allah menyembuhkan penyakit tersebut dengan air yang memancar dari hentakan kakinya. Dan Allah memuji kesabarannya.

Dalam hadis, Nabi saw. menceritakan bahwa setelah mandi, Allah mendatangkan banyak belalang emas kepadanya. Dengan itu Allah mengembalikan kekayaan dan mengumpulkan kembali Nabi Ayyub dengan keluarganya.

Nabi Ayyub mengajarkan tentang pentingnya kesabaran dalam dalam segala keadaan. Sabar adalah menerima apa saja yang datang dari Allah, sekalipun berupa pukulan paling keras. Sabar adalah ketangguhan mental, sikap tidak mudah menyerah, dan penolakan atas rasa putus asa.

Baca juga:  Sulitnya Menjawab dan Menanyakan Agama Teroris

Kesabaran dalam pengertian inilah yang sering disebut sebagai ujung tombak dari keberhasilan, seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Sabar itu ibarat kepala dari sebuah tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Begitu juga jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.”

Para ahli mistik dan penyair, seperti dikutip Annimarie Schimmel, menulis bahwa hanya karena kesabaran benih dapat mengatasi musim dingin yang panjang dan berkembang menjadi butir gandum, yang lalu memberi tenaga kepada manusia yang penuh kesabaran menunggu hingga butir-butir itu dijadikan tepung dan kemudian dijadikan roti.

Kisah Nabi Ayyub mengabarkan bahwa kesabaran akan membawa kepada kebahagiaan. Dengan kesabaran semua akan jadi indah pada waktunya.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.