Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Bagi Banyak Orang, Yogya Memang Kota yang Romantis

Puthut EA oleh Puthut EA
26 April 2021
A A
kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co

kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah satu implikasi dari media sosial, setiap percakapan kehilangan semesta dan konteksnya. Medan tafsir meluber ke mana-mana, bahkan cenderung sengkarut dan semrawut.

Kalau Anda mengunggah makanan, mungkin maksud Anda adalah berbagi informasi tentang makanan tersebut. Mungkin juga hanya ekspresi suka-suka saja. Toh akun akun Anda sendiri. Suka-sukalah. 

Iklan

Tapi bagi netizen, bisa saja mereka senang, dalam kadar yang tidak bisa Anda bayangkan. Tapi mungkin juga banyak yang akan memberi tafsir bahwa Anda tidak sensitif, di saat pandemi, saat banyak orang sedang tidak punya uang, Anda malah pamer makanan.

Tidak heran, jika kita simak komentar dan perdebatan di media sosial, semesta konteksnya amburadul. Hanya ada orang yang kangen dengan Yogya atau bilang Yogya kota yang romantis, eh diseret ke persoalan UMR murah. 

Hal seperti itu, mirip dengan ada pengemis meminta Anda uang, keputusan Anda adalah memberi atau tidak. Tidak juga tak apa-apa. Memberi juga tak apa-apa. Begitu Anda memberi, Anda bisa saja dicap sebagai orang yang tidak tahu problem struktural. 

Bahwa pengemis itu ada karena ketimpangan pendapatan, dan terlalu banyak uang yang dicuri di negeri ini oleh elite politiknya. Sehingga aksi memberi, dianggap tidak cukup. Anda harus secara radikal mengubah supaya tidak ada lagi pengemis bergentayangan di jalanan.

Kebayang kalau kita pas mau membeli sayuran di kios tetangga, Anda mencecar kepada pedagang tersebut, apakah sudah adil dengan pemasoknya, apakah pemasoknya sudah menjalankan transaksi berkeadilan dengan petani sayurnya, apakah sayurnya ditanam dengan organik atau tidak, jika iya mengapa dan jika tidak juga mengapa. Terus saja begitu sehingga hari-hari Anda tidak akan makan sayuran.

Saya percaya dengan problem struktural. Sangat percaya bahkan. Tapi memperbincangkan itu di sembarang konteks, tentu hal yang tidak perlu. 

Kalau sedang membedah fenomena sosial, sedang menyusun penelitian, sedang menggalang laku advokasi, ya tentu saja itu perlu. Tapi ketika mau membeli sate ayam di pinggir jalan saja mesti memikirkan apakah bisnis itu sudah sesuai dengan persoalan sosial yang ada di pikiran kita, itu juga berlebihan.

Sebagai manusia, siapapun berhak punya pengalaman personal. Bagi saya misalnya, juga mungkin bagi jutaan orang yang pernah melewatkan waktu di Yogya, wajar saja kalau berpikir bahwa Yogya itu kota yang romantis. Bikin kangen. Sangat indah untuk dikenang. 

Itu tidak harus berhubungan dengan seolah setuju UMR murah, dan sederet persoalan sosial lain yang ada di Yogya. Ya suka-suka yang punya kenangan dan persepsi soal Yogya.

Sampai sekarang misalnya, salah satu hal paling syahdu di hidup saya adalah jika malam habis hujan, saya menyusuri Jalan Kaliurang. Kenapa? Ya karena di Jalan Kaliurang itu, banyak hal telah saya lalui. Entah bersama kekasih saya, atau dengan teman-teman saya. Banyak hal romantis dan konyol terjadi di sana. 

Saya juga tahu di sepanjang jalan itu ada banyak problem sosial yang bermuara pada problem struktural. Saya ingin mengenangnya saja, menikmatinya. Terus apa masalahnya?

Itu mirip sama ketika ada orang miskin dilarang merokok. Karena merokok itu mengganggu kesehatan, memperkaya orang yang sudah kaya, dan lain-lain. 

Iklan

Lho orang miskin beli rokok itu dengan duit mereka sendiri. Suka-suka mereka mau dipakai apa, asal bukan untuk hal yang melanggar aturan. 

Kedua, orang miskin juga berhak gembira. Orang kaya bergembira dengan piknik ke luar negeri, minum anggur yang mahal, atau menonton konser musik. Orang miskin ya biar saja menikmati apa yang mereka pikir bisa menyenangkan. Terus kenapa?

Terkadang memang sikap kritis yang tidak pada tempatnya, punya kecenderungan untuk terlalu cerewet mengurusi orang lain. 

Balik lagi ke soal Yogya. Jutaan orang pernah melewatkan waktu penting mereka di Yogya. Kebanyakan dari mereka adalah saat kuliah. Dan saat kuliah, adalah saat-saat penuh dinamika hidup. Segala hal tampak menyala terang. 

Banyak hal yang mereka alami di Yogya. Mulai dari pacaran sampai mungkin belajar mabuk-mabukan. Mulai dari greget belajar sampai rasa putus asa karena tak bisa melawan kemalasan mengerjakan skripsi. 

Ketika kemudian mereka tidak lagi tinggal di Yogya, lalu kangen dengan Yogya, lalu memandang dengan rasa romantis, ya wajar. 

Sebetulnya hal seperti ini mirip dengan kampung halaman kita. Saya juga sering memandang kampung halaman saya dengan rasa kangen yang luar biasa. Bedanya, kampung saya adalah kota kecamatan kecil. Mungkin tidak lebih dari 10.000 orang yang melewatkan masa remaja di sana. Jadi ekspresi kangen itu tidak masif. Berbeda dengan Yogya. 

Tapi saya juga tahu bahwa di kampung saya ada persoalan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, lalu mulai muncul persoalan penumpukan lahan pada segelintir orang, modal sosial yang mulai terus tergerus. Saya tahu. 

Tapi kangen bermain hujan di kampung waktu kecil, masak harus diinterupsi dengan persoalan serius macam itu. Masak sih, saya tidak boleh sejenak memberi tempat bertamasya bagi kenangan saya?

Kalau hanya orang ingin bernostalgia dengan Yogya lalu selalu dihalau dengan soal UMR, klitih, ketimpangan sosial, dll, mendadak saya lalu ingat kepada beberapa orang yang dikit-dikit bilang kafir, haram, hijrah, dll. Apa bedanya? Sungguh tidak asyik.

Berjuang ya berjuang, nggak mesti sebegitunya. Beribadah ya beribadah, nggak perlu telunjuk selalu mengarah ke orang lain. Tetap tenang, dan biarkan orang memberi porsi kepada kenangan mereka. 

Sebab banyak hal yang sudah dirampas dalam hidup ini, dari sedikit yang masih tersisa itu, salah satunya adalah kenangan.

BACA JUGA Jogja Berhati Mantan dan esai Puthut EA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 26 April 2021 oleh

Tags: jalan kaliurangkenangan yogyaKonser MusikMusikpengemisYogya
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO
Kabar

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO
Panggung

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO
Panggung

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026

6 Juli 2026
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO
Esai

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.