Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kisah Nabi Ayyub: Merasa Tak Pantas Minta Doa Kesembuhan Meski Sakit Kulit Bertahun-tahun

Muhammad Zaid Sudi oleh Muhammad Zaid Sudi
26 April 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam Al-Quran Nabi Ayyub dikisahkan dengan cara yang unik. Jika cerita para nabi lainnya dikisahkan dengan dakwah dan perjuangannya menghadapi penolakan kaumnya, maka pada Nabi Ayyub kisahnya lebih bersifat personal.

Kisah Nabi Ayyub diletakkan sesudah Nabi Sulaiman, seolah untuk menunjukkan sebuah kontras. Di satu sisi Sulaiman adalah seorang nabi yang dianugerahi dengan kekayaan, pangkat dan kesehatan. Sementara di sisi lainnya Ayyub adalah seorang nabi yang diuji dengan sakit yang lama.

Iklan

Tidak ada penjelasan tentang jenis penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub. Mayoritas pendapat menyebut penyakit kulit yang menyerang sekujur tubuh Nabi Ayyub, kecuali lidah dan hatinya. Begitu juga tentang lama sakit yang dijalani. Satu riwayat menyebut tiga tahun, tujuh tahun, bahkan ada juga hadis Nabi saw. yang mengatakan 18 tahun.

Sakit merupakan ujian yang berat. Tubuh yang tak berdaya dan aktivitas yang mendadak terhenti mudah membuat seseorang kehilangan kesabaran dan harapan. Tidak mudah bagi seseorang untuk bersabar dan tetap tekun serta tulus menjalani ibadah ketika ia dilanda penyakit yang berkepanjangan.

Pada awalnya seseorang mungkin bisa bersabar dan menjadi begitu dekat dengan Allah. Namun ketika penyakit itu menyerang begitu lama, kesabaran akan berganti menjadi frustasi.

Orang merasa tidak berguna dan mulai ragu dengan Tuhan, lalu kehilangan gairah untuk beribadah, kemudian berpikir buruk tentang Tuhan dan akhirnya kehilangan harapan.

Tapi Nabi Ayyub menjalani semua ujian dengan sabar. Ia tidak mengomel atau mengeluh meski karena sakitnya itu harta bendanya ludes, sanak keluarganya dan teman-temannya menjauh, dan ia harus dikarantina ke luar kampungnya.

Nabi Ayyub tetap memuji Allah dan beribadah. Bahkan konon, ketika ada belatung yang jatuh dari tubuhnya, diceritakan Ayyub mengatakan, “Kembalilah ke tempat Tuhanmu menciptakan.”

Ada satu kisah bahwa istri Nabi Ayyub, satu-satunya orang yang menemaninya, meminta agar suaminya berdoa meminta kesembuhan kepada Allah. Nabi Ayyub tahu bahwa istrinya pasti letih merawat dan melayaninya. Tapi Ayyub menjawab dengan kalem, “Berapa lama aku sakit?”

“Delapan belas tahun,” jawab istrinya.

“Lalu berapa lama aku diberi kesehatan dan kekayaan?”

“Delapan puluh tahun.”

“Kalau begitu pantaskah aku mengeluh jika anugerah yang diberikan kepadaku lebih banyak dari ujiannya?”

Menurut sejumlah riwayat Nabi Ayyub mengalami sakit di usia yang tidak lagi muda. Sebelumnya ia adalah orang kaya dengan tanah, budak, dan binatang ternak yang melimpah. Anak dan keluarganya banyak. Ayyub juga dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, dan selalu memuji Allah.

Ketika kemudian satu persatu harta kekayaannya diambil Nabi Ayyub tidak ada yang berubah dalam hati dan perilaku beliau. Ia tetap pribadi yang penuh sabar dan syukur. Ada satu ungkapan terkenal yang disandarkan kepada Ayyub menyikapi karunia Allah, “Tuhan memberi, Tuhan mengambil.”

Dengan prinsip ini hubungan Nabi Ayyub dengan Allah tidak tergantung pada karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya. Ia tetap beribadah baik di saat bahagia maupun menderita. Toh hakikatnya semua berawal dan berakhir pada Allah.

Bahkan ketika sakitnya kian parah, hatinya tetap memuji Allah. Al-Quran mencatat ratapan Nabi Ayyub, anni massaniya dhurru wa anta arhamur rahimin, Sungguh aku tertimpa penyakit padahal Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang. (QS. al-Anbiya: 83)

Tidak terbesit keluhan, kekecewaan, atau perasaan putus asa dalam ungkapan tersebut. Secara etimologis, kata massa berarti tertimpa atau tersentuh sesuatu yang ringan. Jadi, penderitaan bertahun-tahun yang dialami oleh Nabi Ayyub itu dirasakan sebagai sesuatu yang ringan saja.

Iklan

Dalam doa tersebut bahkan tidak ada permohonan agar disembuhkan. Nabi Ayyub hanya menyebut pujian kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Penyayang. Al-Quran kemudian menceritakan Allah menyembuhkan penyakit tersebut dengan air yang memancar dari hentakan kakinya. Dan Allah memuji kesabarannya.

Dalam hadis, Nabi saw. menceritakan bahwa setelah mandi, Allah mendatangkan banyak belalang emas kepadanya. Dengan itu Allah mengembalikan kekayaan dan mengumpulkan kembali Nabi Ayyub dengan keluarganya.

Nabi Ayyub mengajarkan tentang pentingnya kesabaran dalam dalam segala keadaan. Sabar adalah menerima apa saja yang datang dari Allah, sekalipun berupa pukulan paling keras. Sabar adalah ketangguhan mental, sikap tidak mudah menyerah, dan penolakan atas rasa putus asa.

Kesabaran dalam pengertian inilah yang sering disebut sebagai ujung tombak dari keberhasilan, seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, “Sabar itu ibarat kepala dari sebuah tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Begitu juga jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.”

Para ahli mistik dan penyair, seperti dikutip Annimarie Schimmel, menulis bahwa hanya karena kesabaran benih dapat mengatasi musim dingin yang panjang dan berkembang menjadi butir gandum, yang lalu memberi tenaga kepada manusia yang penuh kesabaran menunggu hingga butir-butir itu dijadikan tepung dan kemudian dijadikan roti.

Kisah Nabi Ayyub mengabarkan bahwa kesabaran akan membawa kepada kebahagiaan. Dengan kesabaran semua akan jadi indah pada waktunya.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin Faiz, Muh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.

Terakhir diperbarui pada 25 April 2021 oleh

Tags: ayyubCerita NabiKolom Ramadannabinabi sulaimansabar
Muhammad Zaid Sudi

Muhammad Zaid Sudi

Kadang penulis, kadang penerjemah, kadang guru ngaji. Tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Suara TOA Masjid Harus Pelan, Suara TOA Masjid Harus Keras

Suara TOA Masjid Harus Pelan, Suara TOA Masjid Harus Keras

19 November 2021
Yang Luput dari Pertanyaan: Kalau Maulid Nabi Boleh, Kenapa Nabi Tak Melakukannya?

Yang Luput dari Pertanyaan: Kalau Maulid Nabi Boleh, Kenapa Nabi Tak Melakukannya?

19 Oktober 2021
AL MAKIN: REKTOR MUDA YANG SERING NGOBROL DENGAN PARA "NABI" - PutCast

Al Makin: Rektor Muda yang Sering Ngobrol dengan Para “Nabi”

13 September 2021
Doa Anak Saleh Bukan Satu-satunya Tiket Masuk Surga, Rahmat Tuhan Itu Banyak

Doa Anak Saleh Bukan Satu-satunya Tiket Masuk Surga, Rahmat Tuhan Itu Banyak

27 Agustus 2021
Kenapa Slank Dipaksa untuk Mengkritik Jokowi? cara mengontrol rasa marah MOJOK.CO

Cara Unik Mengontrol Rasa Marah

30 Mei 2021

Nabi Muhammad dan Riwayat soal Malaikat di Sekitar Kita

10 Mei 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli MOJOK.CO

Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar

27 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.