Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berlebaran bersama Central Comite Partai Komunis Indonesia

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
19 Juli 2015
A A
Berlebaran bersama Central Comite Partai Komunis Indonesia

Berlebaran bersama Central Comite Partai Komunis Indonesia

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

ABAIKAN sejenak bahwa jelang Lebaran, La Ode Ida, senator berpengalaman dan cendekiawan Muslim asal Sulawesi Tenggara, memaki-maki kominis karena terusik berita entah siapa yang bikin tentang Presiden Yang Terhormat Jokowi bakal meminta maaf kepada keluarga PKI.

Lantaran kominis itu atheis. Karena atheis, maka keluarga Indonesia yang saleh-salehah akan terguncang dengan ritus pemaafan.

Abaikan juga bahwa, di tengah-tengah kaum muslim sedang khusyuk berpuasa, PSSI yang sedang terlunta-lunta rezeki legalitasnya ujug-ujug marah besar kepada pelatih Indra Sjafri karena mereka jatuh perbawa disejajarkan dengan kominis. PSSI sepertinya ingin bilang, wujud mereka lebih berlian ketimbang kominis terkutuk itu.

Di Hari Lebaran, lebarkan hati, jernihkan pikiran dari segala godaan hoax dan segala kusut-faham. Sebab seburuk-buruknya kaum dan manusia yang berdiam, di dalamnya pastilah memiliki amal baik; bahkan seorang manusia bejat pun rindu pendamping hidup, kata Romo Mangunwijaya. Begitu pula kaum kominis ini: segolongan manusia yang terus-menerus jadi tumbal hoax, yang terus-terusan jadi sasaran gempuran kusut-faham. Gak kenal-kenal waktu, gak peduli tempat. Di bulan Ramadan, hayo, sikat!

Karena keinginan kuat mengingat amal baik dari sebuah kaum paling terkutuk di NKRI inilah, tulisan ini menemui Anda. Dakwah bilhikmah ini berpretensi bahwa, di tengah kegelapan pikir memandang kominis dalam segala aspeknya, kominis adalah selapisan kaum politikon yang melihat Lebaran sebagai bulan kemenangan; bulan perdamaian.

Kok bisa? Mana dokumennya? Jangan tanya ke Kanda Taufiqk Ismail atau Kanda Fadli Zon, ya. Bisa-bisa Anda diceramahi lagi, lagi, lagi, dan lagi (sudah dua dekade) mengenai jumlah statistik berapa juta manusia beriman yang digorok kominis internasyenel. Dan tak ada satu angka pun disebutkan dalam rilis daftar statistik yang sudah berusia dua dekade itu berapa ratus ribu orang kominis digorok di Nusantara secara lehal. Tiba-tiba kok jadi jual-beli golok.

Ayo, kembali fokes ke soal yang lebih soft, ke soal kefitrian, melongok sebalik dada yang jembar, ke Hari Lebaran.

Pada suatu hari yang jauh; tepatnya tahun 1955, Hari Raya Idul Fitri jatuh pada tanggal 23 Mei. Artinya, Hari Raya Lebaran berada di hari tayang yang sama dengan Ulang Tahun PKI ke 35. Dan saya guntingkan kliping sikap politik Lebaran kominis di hari itu, yang saya temukan dari Editorial Harian Rakjat sehari sebelum pesta Lebaran dirayakan dengan suka dan cita:

“Lebaran ini djatuh pada suatu saat, dimana tidak hanja Asia-Afrika, tetapi seluruh dunia diliputi kumandang hasil2 Konferensi Bandung; lebaran ini malahan djatuh bersamaan dengan ulangtahun PKI … sedemikian rupa, sehingga ia tidak hanja mendjadi pesta umat Islam, tetapi pesta seluruh Rakjat. Kita ingin menekankan arti lebaran ini bagi umat Islam, jang seperti halnja umat jang berkepertjajaan dan berkejakinan lain, djuga berkepentingan sekali akan terselamatkannja perdamaian dunia.”

Karena pertumbukan total antara Hari(an) Rakjat dan Hari Lebaran 23 Mei, jangan heran kemudian jika ada yang pagi-pagi keluar rumah hendak salat ‘Id sambil bawa bendera palu arit. Atau sejak subuh hari, pemuda-pemuda sudah berada di luar rumah memasang spanduk dan umbul-umbul merah. Mereka merayakan pipa empat dim pemaafan di Hari Lebaran, sekaligus sebagai perjuangan berdarah Rakjat untuk mendongkel kolonialisme.

Lho, berarti di malam Lebaran orang-orang kominis ini gelar pawai akbar keliling kota, putar-putar kampung bawa obor, bawa toa pentungan, bawa petasan tjanwe? Nggak dong. Khusus Lebaran 55, nyaris seluruh orang kominis justru menghadiri tirakatan di tempat-tempat pertemuan yang sudah ditentukan.

Di pusat, misalnya, malam Lebaran diisi ceramah mimbar chotbah dinamit oleh Ketua Politbiro D.N. Aidit di Gedung Sarekat Buruh Keretapi (SBKA), Jakarta. Si ketua datang bersama kompatriotnya: Sakirman, Sudisman, Lukman, Pardede, Timbul, dan Sumardi. Njoto ke mana? Berpikir positif saja, mungkin si doi lagi ditugaskan CC mengisi ceramah resepsi Lebaran/Ultah PKI di tempat lain.

Sepekan sebelum Lebaran, kominis ngapain saja? Seperti kamu, mereka juga mengejar malam seribu bulan dengan melakukan amal baik, yaitu berjuang agar perusahaan-perusahaan dan kantor-kantor membayar THR kepada buruh dan pegawainya. Kalau soal ini, hampir setiap jelang Lebaran, kominis disibukkan dengan isu THR.

Orang kominis ini tahu, massanya banyak dan militan. Kekuatan riil itu digunakan secara maksimum untuk hal yang positif, yakni dengan menekan lembaga/perusahaan komoditi agar segera mengucurkan THR. Untuk apa? Kominis tak ingin Rakjat bermuka masam di Hari Lebaran karena soal THR. Kominis tak ingin melihat Rakjat loyo bersilaturahim di Hari Lebaran karena persoalan THR.

Iklan

Pendek kata, bagi kominis, THR adalah kunci kesenangan Rakjat dalam perayaan pesta Lebaran.

Jika THR terpenuhi, zakat-zakat dibayar, kredit lunas, suasana seperti ini yang didapat:

Di samping orang bergembira dan senang2  karena Lebaran, djuga penduduk ikut bergembira dan senang2 karna PKI umur 35 tahun.

Di mana2 disamping orang jg mondar-mandir dengan pakaian barunja, djuga banjak kelihatan gapura2 dan gerbang2 indah2 jang didirikan Rakjat untuk menjambut ultah PKI.

Di banjak tempat diadakan resepsi2 dan pesta air atau pertemuan2 gembira. Lampu2 Palu Arit bergantung dibanjak gang dan djalan2 diseluruh Djakarta. Kebon binatang Tjikini penuh.

Pedagang2 es dan gado2 terang sadja gembira. Ada di antara mereka untungnja sampai Rp 150. Pengemudi betjak mendapat penghasilan sampai Rp 90. 

Rakjat senang sebab mereka tahu bahwa menjambut ulangtahun ke 35 PKI ini sama sadja dengan menjambut dan menjongsong Hari lebaran jang lebih baik lagi, di mana harga2 barang murah, dan semuanja (tidak ada ketjualinja) bisa ikut merajakannja.

Akhirul kalam, “djika nafsu mengobarkan perang dan fitnah serta nyebarin hoax tidak kita kendalikan, lebaran2 jang akan datang berarti KUBURAN”. Dan dari kuburan massal, saya persilahkan Anda membaca spanduk relijiyes dari Central Komite, untuk mereka yang merayakan Lebaran di Ibukota yang lengang, di kota kabupaten, dan di kampung yang masih tersambung dengan internet:

Central Comite Partai Komunis Indonesia (P.K.I.)

mengutjapkan: SELAMAT HARI RAYA IDULFITRI 1374 H

Kepada Semua Rakjat Indonesia jang Beragama Islam, Semoga Idulfitri Tahun ini Menghikmati Perdjoangan Rakjat Indonesia untuk Persatuan, Kemerdekaan dan Perdamaian.

Central Comite Partai Komunis Indonesia

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2018 oleh

Tags: Commitee CentralKomunisPKI
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah
Video

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah MOJOK.CO
Esai

Seputar Peristiwa 65 yang Tak Mungkin Ada di Buku Sejarah

30 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.