Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kutipan Pramoedya Ananta Toer untuk Para Jomblo

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
7 Februari 2017
A A
pramoedya ananta toer.MOJOK.CO

Ilustrasi - Ini yang Terjadi Seandainya Pramoedya Ananta Toer Menjadi Guru Sastra Indonesia (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mari kita bicara tahi. Atau, pinjam kata dari Pramoedya Ananta Toer, berak. Tentu kamu selalu ingat kata berak itu karena diucapkan Pram dengan suara yang berat dan penuh penekanan di film dokumenter buatan Yayasan Lontar: “Kau tidak menulis Pram. Kauberak!”

Pram mengingat betul kata-kata prosais Idrus yang ditujukan untuknya itu. Dan, berak pun menjadi bagian dari memori dan memoir prosais kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 ini. Berak tak hanya ada di ingatan saat ia menjadi pekerja buku di Balai Pustaka, tapi juga terus menguntit ke mana pantat Pram berpindah dan bergerak.

Iklan

Bacalah roman Di Tepi Kali Bekasi. Di roman yang merupakan “memoir” Pram di kancah revolusi yang membakar Jakarta dan kota-kota sekitarnya itu, soal tahi masuk dalam salah satu skena cerita. Kamu bisa bayangkan, saat perut kelaparan dan kamu menyerbu di dapur, di belanga nasi kau temukan tahi. Nasi kemudian bukan lagi seperti ta(h)i, sebagaimana metafora yang dipopulerkan film Istirahatlah Kata-kata, tapi setahi-tahinya tahi. Saya kadang bergumam, para laskar revolusi ini kalau bercanda enggak hitungan betul.

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi sebetulnya hubungan antara Pram dengan tahi. Tapi, saya kira ini soal serius. Sangat serius malahan.

Saya lama tertegun membaca cerita Koesalah Toer di buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006). Terutama soal tahi ini.

Pram, cerita Koesalah, selalu menyalakan alarm untuk dirinya sendiri untuk tak berlama-lama di rumah orang lain. Di rumah siapa pun, bahkan kerabatnya sendiri. Nyaris menjadi “panduan moral”-nya untuk selalu mempercepat jam bertamu.

Untuk menghormati si tamu? Mungkin. Tapi, ada alasan lebih darurat dari semua itu, yakni Pram takut cepirit. Pram sadar kerap saluran pencernaannya tak bisa ia kontrol jadwal keluarnya. Soal waduk ambrol di tempat yang salah ini yang membuat heran Koesalah pada suatu hari saat Pram gelisah dalam duduknya dan meminta cepat-cepat balik kiri untuk kembali. Pram rupanya sudah tak tahan. Ia sudah basah kuyup.

Itu kejadian di Jakarta. Cerita yang sama terjadi dalam lawatan Pram ke Amerika Serikat dan Kanada pada 1999. Di New York City semua aman-aman saja. Semua terkontrol dengan baik. Tapi, tidak ketika di Kanada. Kisah ini saya tahu dari buku Alfred Ticoalu berjudul Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer (2017). Saat itu “panitia” yang mengantar Pram mengagendakan kunjungan di rumah seorang tokoh. Mereka mengendarai mobil dalam waktu yang tak bisa dibilang sebentar. Tiba-tiba saja mobil berbelok masuk ke pom bensin terdekat pada kesempatan pertama.

Rupanya, Pram sudah gelisah luar biasa. Dan, si pengantar baru bertanya apakah Pram butuh ke toilet saat benteng pertahanan sang pujangga sudah retak. Mereka yang punya pengalaman kebelet dan sedang dalam bus-tanpa-toilet pasti bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Pram itu. Terutama saat keringat dingin yang bergumpal-gumpal.

Masalah belum selesai walau sudah berhenti. Sebab satu-satunya WC di pom bensin itu sedang terisi. Dan, Pram mesti menunggu lagi. Kamu tahu apa yang terjadi? Pintu WC digedor-gedor si pengantar yang memang berwajah sangar. Nyaris terjadi duel dengan si bule pemakai WC yang merasa diperlakukan dengan tak baik.

Singkat kata, Pram menyelesaikan hajat yang tak biasa itu. Tapi, masalah belum selesai juga. Pram rupanya tidak mau turun dari mobil saat perjalanan berjam-jam itu sudah sampai di lokasi tujuan. Dan, kamu tahu sebabnya. Pram basah. Rombongan balik langsung ke penginapan.

Demikianlah, Pram dan berak memang bukan sekadar soal ungkapan dan kutipan yang layak dicuitkan di Twitter atau dibuatkan dinding foto lengkap dengan untaian kata-kata di Instagram. Termasuk ketika ia mengibaratkan perkawinan dengan tahi. Berkatalah Pram, sebagaimana diriwayatkan Koesalah: “Kawin itu seperti orang berak!”

Nah, bayangkanlah bagaimana perkawinan yang selalu dimpi-impikan lajang-perawan (baca: jomblo) itu di hadapan Pram tak lebih tak kurang seperti berak saja.

Moral cerita ini sederhana saja: bersyukurlah kamu yang dianugerahi sistem pencernaan yang baik dan bisa mengontrol jadwal tutup buka bendungan secara normal. Namun, bila kehidupan pencernaanmu tak jauh beda dengan Pram, hanya satu yang saya sampaikan: kamu potensial menjadi prosais nasional. Bekerja yang keras saja.

Akur!

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2021 oleh

Tags: berakfeaturedidrusjomblokawinNikahPramoedya Ananta Toer
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Ujian Sejarah dan Sastra dari Dosen Pramoedya Ananta Toer MOJOK.CO

Ujian Lisan Sejarah Nasional dan Sastra dari Dosen Pramoedya Ananta Toer untuk Mahasiswa Tingkat 1 dan 2. Yang Master dan Doktor Nggak Usah Jawab

21 Mei 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.