Pada sebongkah biji mangga, saya menemukan sejarah. Tidak, ini bukan sekadar ingatan—seperti yang biasa Anda temukan di kolom ini. Pada biji mangga, memang ada sejarah. Bahkan peradaban.

Sayangnya itu peradaban yang mulai menghilang.

***

Saya jarang membeli buah. Tapi karena sedikit termakan kampanye kehidupan urban bahwa buah-buahan baik untuk kesehatan, saya sesekali mengecoh keajegan saya tersebut. Kalau sedang ingat, saya mungkin akan membeli barang setengah kilo pir atau apel atau anggur. (Kenapa buah-buahan itu, saya kira karena mereka adalah buah yang di masa kecil sangat tak terjangkau, dan mumpung sekarang bisa membelinya, saya membawa mereka pulang dan memasukkan ke lemari es sebagai semacam balas dendam kecil.) Sesekali saya membeli sekepok pisang. Mungkin karena pisang adalah buah paling mudah didapat, yang bisa ditemukan di antara unggunan ketela dan sawi dan tempe di lapak-lapak pedagang sayur. Tapi di antara yang jarang itu, saya nyaris tak akan menyentuh tiga buah-buahan: pepaya, semangka, dan mangga.

Bagi saya membeli pepaya tetaplah sesuatu yang janggal. Pepaya hanya bisa didapat dengan dua cara, yaitu diminta dengan izin atau dicuri, dan saya sulit melihat opsi lain. Hidup dan tumbuh di tengah kebun dengan pohon pepaya tumbuh sesukanya, saya tak bisa menerima transaksi bisnis atas namanya. “Kates kok tuku!” saya akan mencibir demikian jika menemukan seseorang melakukannya.

Semangka adalah buah yang penuh melankolia. Ia mewakili masa-masa kanak-kanak yang ingin saya lupakan, keengganan bangun pagi dan pergi ke pasar dengan memikul dua keranjang berat di pundak, tangis ibu saya, dan hal-hal tak mengenakkan lain. (Dari semangkalah saya mendapatkan gugatan filsafat pertama saya: “Kenapa buah semangka yang lebih manis, lebih merah, tak ada kecut-kecutnya, jauh lebih murah dari jeruk?”) Saya tentu saja tetap bisa memakannya, tapi saya tak bisa membeli buah yang membuat saya mengingat hal-hal tak mengenakkan itu.

Lalu ada apa dengan mangga? Sepertinya lebih kompleks dari itu semua.

Pada suatu hari, sepulang dari sebuah kuliah yang sulit diingat tentang apa, saya mendapat pesan berantai: seorang keluarga mencari saya di kantor tempat saya berkegiatan, dan dari beberapa teman saya mendapat pesan agar segera pulang kampung. Tak ada tambahan informasi apa pun.

Itu awal tahun 2000-an. Hanya seorang di antara puluhan dari kami yang memiliki ponsel. Jadi, jelas, tak ada telepon, tak ada SMS. Saya pernah mengalami kehilangan seorang kakek dari pihak ayah dan baru tahu perihal kematiannya setelah nyaris sebulan. Maka, demi mendengar pesan genting tersebut, saya mengingat nenek dari pihak ibu, satu-satunya yang masih tersisa dari galur saya.

Ia, nenek saya, adalah perempuan cantik berlidah tajam, terutama karena ia kehilangan pendengarannya sejak muda. Kami sering bertengkar karena persoalan pendengarannya itu, tapi terutama karena ia tak menyukai kesukaan saya dengan sekolah, membaca, atau hal-hal semacam itu, yang menurutnya sia-sia. Tapi saya menghabiskan banyak waktu bersamanya di masa kanak-kanak; saya bahkan tinggal berdua saja dengannya saat saya remaja. Saya bergegas ke terminal dengan hati gemuruh. Dan saya bahkan tak bisa meredakan gemuruh itu selama delapan jam perjalanan Jogja-Lamongan.

Sesampainya di rumah, saya menemukan orang-orang berkerumun. Tapi saya tak melihat ada kegawatan. Ibu saya muncul di antara kerumunan itu dan wajahnya begitu ceria menemukan anaknya berdiri di depannya. Tentu saja saya bingung.

“Ada apa?” tanya saya setengah berbisik kepadanya.

“Tidak, tak ada apa-apa,” ia menggeleng dengan entengnya. “Ini musim mangga. Mangga melimpah di mana-mana dan dari mana-mana. Ibu memikirkan dirimu, ‘Kasihan, di Jogja ia pasti tak makan apa-apa’.”

Saya nyaris mengumpat—atas kerusuhan hati yang saya alami nyaris selama sehari semalam. Tapi mana bisa kamu mengumpat untuk hal semanis itu? Di depan ibumu pula.

Sejak itu, saya tak pernah bisa makan mangga tanpa mengingat peristiwa itu.

Tapi mangga bukan semata soal ingatan itu.

***

Soal mangga, pertama-tama saya akan mengingat Pak Tilam, salah satu pedagang mangga di desa saya. Ia bukan salah satu yang terpenting, bukan juga yang terkaya. Hanya yang paling saya kenal.

Wajahnya ramah, selalu terlihat tersenyum. Di jalanan desa atau di pematang tegalan, ia akan selalu tampak menaiki atau menuntun sepeda dengan dua keranjang rengkek di boncengannya. Ia biasa bersama cucunya yang juga teman sekolah saya, Sabikin. Sabikin akan nangkring di atas keranjang jika keranjang itu kosong, dan akan mengiring atau mendorongnya di belakang bila dua keranjang itu penuh mangga. Karena keakrabannya dengan sepeda kakeknya, Sabikin adalah teman sebaya yang paling awal bisa naik sepeda.

Berteman dengan Sabikin banyak untungnya. Di rumah Pak Tilam ada televisi. Pada satu waktu, itu adalah televisi satu-satunya di kampung kami. Saya bisa pura-pura mencari Sabikin untuk tahu apakah televisi sedang diputar atau tidak. Atau, bahkan lewat Sabikin kami bisa mengusulkan agar televisinya dinyalakan. Tapi bukan hanya itu. Sesekali Pak Tilam akan menawari teman cucunya sebutir-dua butir mangga matang pohon atau mangga sisa codot. Dan itu bukan hal yang sepele untuk kami.

Pak Tilam dan para pedagang mangga lain di desa bisa mendatangkan kesenangan-kesenangan kecil macam itu. Tapi ia juga menjadi penanda musim mangga berakhir lebih cepat. Ia dan rekan-rekan seprofesinya biasanya “menebas” (mengijon, membeli keseluruhan) pohon-pohon mangga jauh sebelum mangga siap panen. Dan itu bisa saja mangga punyamu. Artinya, jika pohon mangga di ladangmu sudah ditebas Pak Tilam dkk., hakmu atas manggamu sendiri sudah selesai. Kamu hanya bisa mengambil beberapa butir, itu pun atas kemurahan hati si penebas.

Mungkin karena keberadaan Pak Tilam dkk., para kanak-kanak menyiasatinya dengan memulai pesta musim mangga jauh lebih awal. Kami berkeliaran di tegalan saat mangga masih sangat muda, berlomba menjadi pemakan mangga pertama di dunia pada musim tahun itu. Tapi ketika musim mangga sedang di puncaknya, kami bukannya berhenti. Kelayapan di ladang semakin diintensifkan, tapi kali ini lebih malam atau bahkan jauh di tengah malam. Dari pencurian mangga di malam hari inilah sebagian besar anekdot-anekdot paling konyol dan cerita-cerita hantu paling seram muncul.

Ujung musim mangga biasanya ditandai dengan munculnya banyak lalat. Orang makan mangga di mana-mana dan kapan saja. Tempat sampah dan selokan, bahkan jalanan, penuh dengan kulit dan biji mangga atau mangga busuk. Tapi pesta masih jauh dari berakhir. Para kanak-kanak tak akan semudah itu menyudahinya. Di antara tumpukan sampah mangga, di antara rubungan lalat-lalat hijau, kami menemukan pesta berikutnya.

Kami menyebutnya rek-rekan (saya khawatir kita tak akan menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia tercinta). Disebut demikian karena permainan ini menimbulkan bunyi “rek-rek-rek” jika dimainkan. Bunyi itu, juga putarannya yang konstan, memberi kepuasan yang aneh untuk semua anak yang memainkannya. Cara buatnya gampang. Ambillah dua buah biji mangga. Upayakan bentukannya berbeda. Biji pertama gemuk dan kulit luar bijinya keras, bisa karena sudah cukup kering atau karena berasal dari mangga jenis tertentu. Biji satunya lebih kecil dan lebih pipih. Biji yang gemuk dipotong tiga perempat, lalu keluarkan isinya. Pastikan kulitnya cukup kuat sehingga ketika kita melubanginya sebesar batang paku tepat di salah satu sisi kulitnya, biji mangga yang sudah kopong itu tidak pecah. Biji mangga kedua yang lebih kecil dibiarkan utuh. Lubangi pas di tengah, lalu masukkan pasak bambu sepanjang jari. Pastikan ia menancap dengan baik. Pada pasak itu ikatkan benang, lalu lilitkan. Masukkan biji mangga berpasak ke rongga biji mangga pertama yang telah dipotong. Ujung benang yang masih bebas masukkan (atau keluarkan) ke lubang yang tersedia di biji mangga pertama. Beri ia pasak yang lebih kecil sebagai tuas tarikan. Lalu tuas itu ditarik. Dan biji mangga yang nangkring dengan pasak terlilit itu mulai berputar seperti baling-baling. Nikmati suara rek-rek-nya. Itulah rek-rekan.

Tapi, bahkan sampai sini, mangga masih terlalu sedikit terjelaskan.

***

Orang-orang tua bercerita, di masa pendudukan militer Jepang mereka dipaksa untuk memakan isi biji mangga. Isi biji itu dikeluarkan dari kulitnya, ditumbuk, dijadikan bubur. Ini mungkin terdengar menggiurkan bagi para pemakan sayuran atau para pejabat yang menganjurkan kemandirian pangan. Tapi, kalau kalian lihat wajah kakek-kakek kami saat menceritakannya, kalian akan tahu betapa masa-masa mereka memakan bubur biji mangga itu begitu traumatis.

Meski terkesan tak berbelas kasih, dan oleh karena itu ia meninggalkan luka yang dalam bagi para kakek moyang kami, harus diakui bahwa instruksi itu memang sebentuk diversifikasi pangan yang sangat tepat. Kami, orang-orang Jawa di Pantai Utara yang mendiami area sempit berbukit yang terimpit pantai di utara dan hutan jati di selatan, dikaruniai berbagai macam varietas mangga, dengan berbagai nama, bentuk, dan rasa.

Di ladang kakek saya saja ada setidaknya lima jenis mangga dengan rasa dan penampakan yang sangat berbeda satu sama lain. Ada mangga santok, dengan bentuk yang cantik seperti di gambar-gambar, yang punya rasa kecut segar saat matang. Ada mangga putih, yang lonjong tanggung dan tak menarik karena dari masih muda hingga paling matang warnanya tak berubah, tetap saja hijau pucat. Ada mangga kopyor, yang bentuknya bulat dan kecil macam apel, baunya harum sekali, ia kecut bukan main kalau masih muda, namun manisnya luar biasa saat sudah matang. Ada mangga nanas yang langka, dengan warnanya yang merah darah bahkan sejak masih muda, dengan daging buah yang punya warna dan tekstur persis seperti nanas, termasuk seratnya yang besar-besar, dan oleh karena itu ia tak begitu disukai anak-anak karena pasti tersangkut di gigi saat dimakan. Satu pohon mangga lagi tak diketahui namanya, bahkan kakek saya tak tahu ia berasal dari mana, tapi bentuk dan rasanya berbeda dari semua jenis mangga yang sudah saya sebut sebelumnya.

Dan tentu saja itu hanya lima dari puluhan jenis mangga di ladang-ladang kami. Mangga santok dan mangga putih adalah yang paling banyak, tapi mereka juga punya variannya sendiri lagi, yang bisa dibedakan dari ukuran, warna daging buahnya, dan rasanya. Dan di sini saya bahkan belum menyebut mangga golek, yang bentuknya lonjong memanjang seperti boneka dan warna merah-kuningnya sangat mencolok itu. Juga belum saya sebut mangga jiwo, yang pohonnya biasanya rimbun besar namun buahnya sangat kecil dan berwarna gelap nyaris hitam dan rasanya manis sekali; ia jenis mangga yang sering dianggap keramat, konon pohonnya dihuni genderuwo, dan oleh karena itu tak ditanam oleh sembarang orang di sembarang tempat.

Karena banyaknya jenis mangga, kami selalu punya alasan untuk mencuri mangga orang lain—sebab kami tak ingin di musim itu makan satu-dua jenis mangga saja. Karena jenis mangga yang berbeda juga, saya kira, kami bisa mendapatkan biji mangga yang punya bentuk dan ukuran berbeda dan dengan demikian permainan rek-rekan bisa diciptakan.

Kini saya tak melihat lagi rek-rekan dimainkan—sebagaimana juga dialami oleh puluhan permainan di masa kecil saya. (Anak-anak saat ini menemukan dan disibukkan oleh lebih banyak permainan yang lebih mudah dan lebih menyenangkan untuk dimainkan; jadi, tentu saja ia bukan fenomena yang istimewa benar.) Mungkin juga tak ada lagi anak-anak yang kelayapan di tegalan, siang atau malam, hanya untuk sebutir mangga. Toh di lemari es mereka, mangga dari supermarket yang mulus dan dingin-segar, dan biasanya bermerek, sudah siap-sedia. Dan seharusnya tak ada yang perlu diratapi.

Tapi, dasar otak melankolis, saya sering tak bisa sekalem itu menyikapinya. Sebagaimana semua hal kecil dan tak berarti yang hilang dan dilupakan, saya selalu mendapati hal yang sama ketika menemukan sebuah permainan hilang: bukan semata hilangnya ingatan, ia juga menandai hilangnya sejenis peradaban. Bahkan jika itu cuma rek-rekan, biji mangga yang berputar karena ditarik benang.

Pada hilangnya rek-rekan, saya melihat hilangnya musim mangga. Mangga tak pernah benar-benar hilang sebenarnya dari desa saya karena saya masih menemukan satu-dua jenis mangga dari masa kecil saya—dan saya masih memakannya beberapa jam sebelum menulis kolom ini. Tapi masuknya varietas unggul seperti gadung dan manalagi membuat semua varietas kampung mesti minggir dan tergerus, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk diremehkan kemudian ditebang. Ironisnya, mangga-mangga unggulan ini tampaknya tak pernah benar-benar bisa menggantikan yang lama. Tidak hasil ekonominya, tidak pula efek sosial-budayanya.

Tak ada Pak Tilam baru di kampung; orang-orang yang masih menanam mangga di ladang hanya menikmatinya untuk kudapan keluarga, sementara yang tak punya bisa membelinya di toserba terdekat, tanpa perlu tahu itu mangga jenis apa dan ditanam di mana, dan profesi pedagang pengijon seperti Pak Tilam pun amblas dilindas masa.

Tak juga muncul semacam varian baru rek-rekan. Tentu saja, rek-rekan bukan lawan sepadan di hadapan game online, tapi ia jelas menghilang bersama jenis biji mangga yang semakin sama satu sama lain, juga yang semakin kecil. Biji mangga yang besar dan/atau gemuk adalah masalah yang biasanya dienyahkan oleh para perekayasa tumbuhan, seperti juga padi yang panennya lama, dan oleh karena itu ia mesti dibasmi.

Dan coba cermati mangga yang masih tersisa dan merajai lapak-lapak buah: manalagi. Namanya yang ke-Indonesia-indonesia-an menunjukkan sisi kemajuannya, meskipun pada saat yang sama juga menggambarkan karakter asingnya. Dan apa yang bisa kita bayangkan dari kata “manalagi”? Bukankah itu dengan sangat jelas menggambarkan ketakpuasan yang tak ada habisnya, keinginan untuk terus mengonsumsi. Dengan kata yang lebih singkat: … (isilah titik-titik di samping).

Dengan sepenuh takzim untuk siapa pun yang menemukan dan mengembangkan jenis mangga ini, ia telah memberi nama yang tak bisa lebih tepat lagi.

BACA JUGA Khawatir dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN

Baca juga:  Kolom: Populer