Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Ekspedisi Alas Purwo: Lembut Suara Gamelan Menjadi Tabir Rahasia Gelap Alas Purwo (Bagian 4)

Satu hal yang tersisa adalah bunyi gamelan, alunan musik syahdu yang selalu menyapa saya ketika menginjakkan kaki di lantai dua rumah Uncle Jack.

Agnes Putri Widiasari oleh Agnes Putri Widiasari
11 November 2022
A A
Lembut Suara Gamelan Menjadi Tabir Rahasia Gelap Alas Purwo MOJOK.CO

Ilustrasi Lembut Suara Gamelan Menjadi Tabir Rahasia Gelap Alas Purwo. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Alas Purwo tidak banyak menyisakan cerita. Namun, meski tidak banyak, kelanjutan kisah itu sepertinya belum akan berakhir. Semua soal waktu saja.

Baca dulu bagian tiga di sini: Ekspedisi Alas Purwo: Menuju Jantung Hutan Tertua di Pulau Jawa (Bagian 3)

“Hati-hati, kamu….”

Saya memejamkan mata ketika suara bisikan itu terdengar. Campuran antara kaget dan rasa takut. Saya menoleh ke segala arah. Namun, saya tidak bisa menemukan satu manusia yang sedang berbisik ke telinga kiri saya. Satu hal janggal saya rasakan: ketika suara itu terdengar, suara-suara di sekitar saya menjadi tidak terdengar, seperti teredam.

Tepat pada saat itu, kalimat Mbah Kuncen bergaung di kepala saya:

“Apa saja yang akan dilihat dan yang akan terjadi, jangan lupa tujuan dan niatmu datang ke tempat ini. Berpegang teguh pada keyakinan yang ada di hati. “Mereka” akan mencoba merasuk ke dalam hati dan pikiranmu. Maka, jagalah hati dan pikiranmu dari hal-hal negatif.”

Sebenarnya saya agak ragu untuk menceritakan bagian akhir ekspedisi Alas Purwo ini. Apa yang terjadi dan yang kami hadapi saat hendak menyelamatkan Dinda dan Uncle Jack itu benar-benar berada di luar batas nalar manusia. Percaya atau tidak percaya, saya mengembalikan lagi semua kepada para pembaca.

Menyelamatkan Dinda dan Uncle Jack

Jadi, perjalanan kami untuk menyelamatkan Dinda dan Paman dimulai pada hari ketiga menjelajahi Alas Purwo. Untuk tujuan penelitian sendiri sudah hampir setengah dari daftar sampel yang harus kami ambil. Untungnya, paman mempercepat pengambilan sampel 

Saat itu, saya masih ingat betul kami melewati Gua Istana dan berjalan menyusuri jalanan setapak memasuki pepohonan lebat yang menjulang tinggi. Kepala regu yang berada di depan sibuk menebang daun dan batang pohon yang menghalangi jalan. Melihat banyaknya pohon dan dedaunan yang menghalangi, berarti memang sangat jarang manusia masuk ke wilayah ini.

Saya yang berada di tengah, berjalan sembari melihat kanan dan kiri. Vegetasinya cukup rapat, jalan setapaknya juga. Berjalan saja sudah agak susah ditambah semak belukarnya yang tumbuh subur. Dalam hati, saya berharap semoga saja tidak ada ular atau hewan berbahaya yang mendekati kami.

Pohon beringin besar di tengah hutan Alas Purwo

Selama perjalanan, kami menemukan banyak jejak hewan buas. Beberapa kali kami juga melihat burung yang mungkin agak langka. Saya tidak tahu jenisnya, tapi memang burung itu terlihat berbeda saja. 

Kami juga banyak melewati pepohonan yang bentuknya aneh. Salah satunya adalah  pohon beringin besar. Akarnya besar-besar, sulurnya sudah menyatu dengan tanah. Mungkin usianya sudah ratusan tahun. Kami dibuat takjub akan “kehadiran” pohon itu: indah, megah, dan kesan angkernya juga terasa. 

Tim beristirahat di pohon beringin ini. Ethan dan Damian langsung mengambil peran untuk memeriksa keadaan sekitar. Sementara saya duduk menyandarkan punggung di salah satu akarnya yang besar. Ketegangan yang terasa dan rasa lelah yang belum hilang, ditambah angin sepoi-sepoi membuat saya mengantuk. Sialnya, saya memang terlalu mudah tertidur.

Mimpi yang sama

Secara samar, saya masih bisa mengingat mimpi yang sama.

Iklan

Saya berada di tengah hutan yang berkabut, sendirian. Tapi, di mimpi kali ini, entah kenapa, saya malah mengikuti suara-suara musik gamelan yang terdengar dari kejauhan. Makin dalam memasuki hutan di dalam mimpi, entah kenapa mimpi itu lama-lama terasa semakin nyata. 

Saya masih bisa merasakan sensasi merinding dan takut ketika mengingat di dalam mimpi saya sampai di sebuah pura berukuran besar. Mungkin besarnya dua kali lipat Pura Giri Salaka. Pura itu dikelilingi tembok-tembok yang menjulang tinggi. 

Suara gamelan semakin lama semakin terdengar jelas dan saya bisa mendengar pikuk keramaian dari dalam bangunan. Rasa penasaran saya mulai mengalahkan suara hati yang sedari tadi menghalangi saya untuk tidak mencari tahu kenyataan di balik tembok pura. Selangkah, dua langkah… hingga langkah ketiga, saya dikagetkan dengan suara perempuan yang terasa tidak asing.

“Kamu sedang ada apa, nduk?” 

Perempuan itu tiba-tiba saja sudah berdiri sekitar satu meter di belakang saya. Sangat dekat. Saya yang kaget setengah mati sedikit berterian dan mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.

Lagi-lagi perempuan yang sama

Perempuan yang menurut saya sangat cantik dan anggun itu menatap saya. Setelah itu, dia tersenyum kecil. Sorot matanya tajam dan seolah bisa menembus isi hati dan pikiran saya. Mulut saya langsung terkunci. Tidak sanggup berkata-kata. Terkunci rapat. 

Dia seperti bisa memahami keresahan saya. Ketika berjalan pelan mendekati saya, selendangnya menyapu permukaan tanah. Setelah semakin dekat, wangi kembang menyapa indra penciuman saya.

“Kamu seharusnya tidak berada disini, nduk.” 

Tutur katanya sangat Indah dan terasa damai, meski sorot matanya sungguh mengintimidasi. Saya mencoba menjelaskan bahwa tadi sepertinya saya tertidur di bawah pohon beringin. Tapi, bibir ini terasa kelu sehingga dia hanya tersenyum dan sepertinya mengerti maksud saya. 

Ia mewanti-wanti saya untuk tidak memasuki pura itu. Selain itu, dia juga menyarankan saya untuk segera pulang. Perempuan itu melewati saya dan tetap berbicara sambil membelakangi saya. Teringat kata-kata Ajay, saya memberanikan diri untuk bertanya perihal Dinda dan Uncle Jack.

Perempuan itu membalikan badannya lagi. Kami saling beradu pandang. Dia menjelaskan bahwa Dinda dan paman saya itu masih selamat. Tapi, dia tidak menjelaskan lokasi mereka berada. 

Lagi-lagi, dia meminta saya untuk segera pulang saja. “Jangan terlalu lama di sini,” katanya. 

Sebuah petunjuk

Sedetik kemudian, suara gamelan yang sedari tadi menjadi latar suara tiba-tiba menghilang. Pemandangan langsung berubah. Saya seperti berada di tengah gelapnya hutan dan yang tersisa di sana hanya cahaya api yang berpendar-pendar. 

Saya masih bisa menangkap perubahan ekspresi di wajah perempuan itu. Dia seperti merasa terganggu ketika suara gamelan menghilang. Sebelum meninggalkan saya, dia menunjukkan jalan yang harus saya lalui. Jalan setapak yang disesaki oleh kabut.

Setelah itu, dia mengingatkan saya untuk tidak menoleh ke kanan dan kiri, apalagi menengok ke belakang ketika berjalan. Saya menurut saja dengan petunjuk yang perempuan itu berikan. Saya segera berlari ke arah jalan setapak yang dimaksud. Walaupun tidak menengok ke berbagai arah, tapi ekor mata saya masih bisa menangkap samar-samar ada banyak orang di samping kanan dan kiri saya.

Setelah itu saya tidak ingat. Saya tahu-tahu sudah terbangun di tempat yang sama. Ketika bangun, saya melihat hari masih siang. Saya terlelap sekitar 25 menit. Saat itu, kepala saya terasa berputar dan pusing, hingga akhirnya muntah. Melihat kejadian itu, Ajay langsung berlari ke arah saya dan membantu.

Baca halaman selanjutnya….

Cincin merah

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 11 November 2022 oleh

Tags: Alas Purwobanyuwangicerita seramJawa TimurMalam Jumatmerah delimaTangerang
Agnes Putri Widiasari

Agnes Putri Widiasari

Sosok pengembara di dunia tipu-tipu.

Artikel Terkait

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO
Esai

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Warung Bakso Horor di Selatan Jogja MOJOK.CO
Malam Jumat

Warung Bakso Horor di Selatan Jogja: Teror Gaib yang Tak Kunjung dan Belum akan Berhenti

22 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO
Malam Jumat

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Gen Z rela sise hustle

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.