Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Hantu Kepala Buntung Pemetik Cabai Setan

Windi Aulia Pratiwi oleh Windi Aulia Pratiwi
2 Juli 2020
A A
Hantu Kepala Buntung Pemetik Cabai Setan

Hantu Kepala Buntung Pemetik Cabai Setan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tadinya saya pikir itu wadah buat panen cabai setan. Tapi saya baru sadar yang sedang dipegang pakdhe itu berrambut dan mendesis.

Sungguh ini adalah pengalaman saya dan adik saya yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun karena melihat hantu kepala buntung. Hmmm ini saja saya mengetik dengan bulu kuduk yang berdiri.

Semuanya berawal pada suatu sore menjelang Maghrib ketika bapak saya mendapat undangan kenduri oleh salah satu tetangga dekat rumah. Setiap sore sampai pagi bapak saya bekerja menjaga puluhan ribu ayam di kandang dekat perbatasan desa yang berada disamping sungai terbesar didesa saya, tapi dikarenakan ini undangan dari tetangga yang notabennya juga temen deket bapak akhirnya ibu saya menyuruh saya dan adik saya untuk memberi tahu undangan kenduri tersebut.

Jika kalian bertanya Kenapa kita tidak menghubungi bapak lewat ponsel? Jawabannya adalah bapak saya tidak memiliki ponsel pada saat itu.

Saya segera mengeluarkan motor dan melaju ke arah kandang tersebut. Kandang yang dijaga bapak sengaja dibangun di tempat terpencil karena dikhawatirkan baunya akan mengganggu warga. Bapak juga menanam cabai setan di sekitaran kandang untuk memanfaatkan tanah subur hasil pupuk tahi ayam.

Perjalanan menuju kandang melalui jalan setapak sempit, dengan pemandangan kanan kiri berupa semak belukar, perkebunan sengon laut, durian, dan jati yang sangat luas. Sepanjang jalan ini sudah terkenal dengan cerita angkernya.

Beberapa orang kadang dihantui suara durian jatuh padahal setelah dicek ternyata pohon durian tersebut belum berbuah sama sekali. Hingga sekarang tidak ada yang tahu persis bunyi durian jatuh itu dihasilkan oleh apa.

Maka sepanjang perjalanan, saya dan adik saya yang sama-sama penakut hanya bisa merapalkan doa dalam hati sambil sebisa mungkin bercanda untuk membunuh gelap dan sepi.

Sesampainya kami di area kandang, kami langsung disuguhkan dengan kebun cabai setan yang sangat luas. Disebut cabai setan karena memang pedas dan banyak peminatnya. Saya lalu meletakkan motor di dekat kebun cabai setan supaya memudahkan ketika pulang, jalanan dekat kandang tergolong terjal dan sulit.

Sebelum kami masuk kepondok tempat istirahat bapak dikandang, kami melihat ada seorang laki-laki. Jika dilihat dari dari belakang, laki-laki ini seperti sedang memetik cabai dengan kepala membungkuk. Awalnya saya kira itu bapak saya jika mengingat kebun itu adalah milik bapak saya, tapi saya ingat-ingat kembali bapak saya tidak memiliki baju seperti itu.

Lalu saya berinisiatif bertanya kepada pakdhe itu terkait keberadaan bapak saya dan sekalian ingin tahu siapa laki-laki itu kenapa kok memetik cabai dikebun bapak.

“Pakdhe mau tanya, pakdhe lihat bapak saya?”

Namun pakdhe tersebut tidak menyahut. Sementara adik saya langsung memegang tangan saya erat lalu berbisik,

“Mbak, sepertinya itu bukan orang deh mbak. Ayo kita langsung masuk ke pondok saja.” ucap adik saya sembari menarik-narik ujung baju saya.

Iklan

“Hush ngawur kamu la ngomongnya.” ucap saya sembari terus mendekat kepada pakdhe tersebut.

Saya pikir, mungkin saya dan adik dianggap tidak sopan karena berteriak saat bertanya kepada pakdhe tersebut. Jarak kami dipisahkan oleh dua banjar tanaman cabai setan saat bertanya tadi. Lalu saat sudah hampir dekat dengan pakdhe tersebut saya bertanya lagi,

“Pakdhe lihat Pak Yanto bapak saya?”

Pakdhe tersebut masih diam. Saya kembali mendekat. Saat sudah hampir dekat yang pertama saya lihat justru sesuatu yang dia pegang.

Tadinya saya pikir itu wadah cabai. Namun saat saya lihat lebih jelas lagi kok ada rambutnya banyak dan saat itu saya baru sadar yang sedang dipegang pakdhe itu adalah sebuah kepala dengan mata yang melotot kepada saya dengan desisan samar dari mulut itu. Kemudian saya melihat kearah lehernya dan langsung berteriak sambil lari terbirit-birit menuju pondok.

Yang saya lihat tadi adalah hantu berkepala buntung, pakdhe tersebut tidak memiliki kepala. Eh ralat, pakdhe tersebut memiliki kepala tapi kepalanya berada digenggaman tangannya.

Sungguh jantung saya rasanya loncat ke bawah kaki. Sementara adik saya sudah lebih dulu berlari kencang menuju pondok meninggalkan saya yang masih berusaha menghindar dari si hantu kepala buntung pemetik cabai setan.

Dengan nafas terengah adik saya bilang, “Tuh kan, Mbak. Bener apa yang aku bilang kalau dia tuh bukan orang”. Aku cepat-cepat mengiyakan lalu kami saling bertatapan “Kamu juga lihat la?” Adik saya yang bernama Ella mengangguk tegas lalu dengan suara lirih bilang, “Pakdhe itu ndak punya kepala mbak”.

Saat saya dan adik saya sudah hampir mati ketakutan tiba-tiba bapak saya datang dari pintu samping sembari memegang pakan ayam ditangannya, “Loh kalian kok ada disini kenapa?” tanya bapak saya sembari membersihkan sandalnya yang kotor.

Saya menelan ludah dan mencoba menetralkan napas “Itu Pak, bapak dapat undangan kenduri dari Pak Ali nanti habis maghrib.”

Bapak lalu memberi tahu Pak Kadi yang juga ikut bekerja disitu bahwa malam ini izin menghadiri kenduri. Selanjutnya bapak mengajak kami pulang. Melihat saya dan adik saya yang jalan berdempetan dia bertanya,

“Kenapa kok kalian ini jalannya kayak gitu?”

Sebelum adik saya sempat menjawab, saya dengan cepat bilang “Hehehe nggak kenapa-kenapa, Pak.” sambil nyengir. Saya ingin agar hanya saya, adik saya, Tuhan, dan hantu tersebut saja yang tahu. Bapak saya masih bekerja disitu saya tidak ingin membuat bapak saya takut.

Sekarang sudah hampir tiga tahun sejak peristiwa itu dan bapak saya sudah tidak bekerja di kandang tersebut. Jadi saya memutuskan bercerita kepada bapak. Respons bapak justru membuat merinding,

“Oh ternyata hantu kepala buntung itu memang benar adanya toh? Kan memang sebelum bapak bekerja disitu udah ada penjaga kandang yang keluar di hari pertama kerja karena melihat hantu kepala buntung sedang memasak di dapur pondok.”

Waktu ketemu saya, si hantu kepala buntung sedang memetik cabai setan. Lalu pas ketemu penjaga kandang, hantu itu sedang memasak. Terus nanti kalau ketemu orang lain kira-kira dia bakal ngapain ya?

BACA JUGA Karma: Ketika Kunci Disembunyikan Sosok Cantik Penunggu Ruang Osis atau artikel lainnya di MALAM JUMAT.

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2020 oleh

Tags: cerita misterihantu kepala buntung
Windi Aulia Pratiwi

Windi Aulia Pratiwi

Artikel Terkait

mobil nyasar di hutan mojok.co
Sosial

4 Kisah Mobil Nyasar secara Misterius, Terbaru di Hutan Pati

16 Februari 2023
Jerinx SID, Cerita Misteri, Hingga Sabdo Palon: Tentang Identitas dan Cara Mengatasi Kegelisahan
Pojokan

Jerinx SID, Cerita Misteri, Hingga Sabdo Palon: Tentang Identitas dan Cara Mengatasi Kegelisahan

30 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.