Sebelum tren olahraga kalcer menjangkiti masyarakat, aktivitas olahraga rasa-rasanya sangat inklusif: bisa dilakukan siapa saja. Namun, kini, untuk sekadar olahraga saja rasanya malu. Olahraga—seperti gowes (bersepeda)—tidak lagi sebatas mencari keringat, tapi seolah menjadi ruang penghakiman yang bikin ciut mental orang.
***
Tinggal di sebuah kampung di Kaliurang, Sleman, belakangan ini Drajat (24) punya hasrat untuk membeli sepeda. Ia membayangkan, setiap pagi sebelum berangkat kerja atau tiap akhir pekan, ia bisa mengayuh sepedanya di jalanan kampung berhawa sejuk dengan hamparan persawahan dan sesekali berlatar belakang Gunung Merapi.
Tujuannya sesederhana itu: hanya untuk mencari keringat di pagi hari, hanya untuk keliling jalanan kampung. Maka, ia pun mencoba mencari-cari sepeda dengan harga murah. Tidak peduli mereknya apa, pokoknya asal murah dan bisa dikayuh.
Namun, tren olahraga kalcer—yang salah satunya menyasar sektor bersepeda—membuat dirinya urung membeli.
Tren olahraga kalcer bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius
Suatu kali di kantor, Drajat nimbrung obrolan rekan-rekan kerja yang baru/hendak membeli sepeda. Di dalam sirkel tersebut memang ada satu-dua orang yang sudah lebih lama menggeluti olahraga sepeda.
Rekomendasi merek, spesifikasi, dan harga sepeda pun bermunculan. Rata-rata berada di angka Rp3 jutaan ke atas.
Di tengah-tengah obrolan tersebut, Drajat dengan “tanpa dosa” nyeplos kalau ia baru saja akan membeli sepeda di harga Rp1 jutaan. Syukur kalau dapat di bawahnya dari jual-beli sepeda bekas di Facebook.
“Sepeda apa, Ndes, segitu itu, mana bisa buat gowes,” sambar salah seorang rekan kerja. Beberapa yang lain langsung tertawa. Drajat pun bingung.
Baru ia sadar kemudian, tren olahraga kalcer yang membuat banyak orang FOMO ternyata menciptakan standard baru dunia olahraga. Bersepeda bukan lagi soal mencari keringat, tapi ada ambisi tertentu yang harus dipenuhi.
“Urusannya adalah, seberapa mahal sepeda yang bisa dibeli. Walaupun aku tahu maksudnya adalah: semakin mahal, maka semakin bagus pula kualitasnya,” ungkap Drajat belakangan ini.
Bagi Drajat, pertimbangan tersebut sepenuhnya benar. Akan tetapi, menjadi agak mengganggu ketika akhirnya orang-orang seperti Drajat justru dikerdilkan hanya karena sekadarnya. Ya karena hanya segitu yang ia mampu.
Jauh-jauhan jadi standard yang disamaratakan
Belum lagi soal outfit dan segala instrumen yang harus melekat pada tubuh pesepeda. Harus benar-benar pakai standard outfit khusus bersepeda, sepatu khusus, kacamata berharga agak mahal, dan macam-macam.
Kebutuhannya tidak hanya perkara safety. Tapi juga bagaimana agar nantinya konten-able: kalau direkam, diedit, lalu diunggah di media sosial bisa terlihat “kalcer”.
Di lingkung rekan-rekan kerja Drajat, menurutnya, bahkan terjadi monopoli olahraga. “Mereka mengartikan, namanya gowes itu ya harus bisa mengayuh dengan rute-rute jauh. Gowes, pit-pitan, malah jadi disamaratakan artinya: kayak event sepeda jarak jauh resmi atau kelompok profesional. Jadi kalau ada ajakan gowes atau pit-pitan, maka harus benar-benar sanggup mengayuh rute-rute jauh,” beber Drajat.
Ini misalnya dialami oleh salah seorang teman kuliah Drajat yang berbeda kantor dengannya. Di kantor teman Drajat pun sama halanya: sedang marak tren olahraga kalcer, khususnya lari dan bersepeda.
Pernah suatu kali, dengan sepeda agak mahal yang dipunya, teman Drajat ikut gowes. Teman Drajat kira, situasinya adalah mengayuh sembari menikmati pemandangan sekitar, tapi ternyata tidak sesederhana itu.
“Benar-benar berlomba-lomba buat kuat-kuatan mengayuh. Banter-banteran. Temanku kan kewalahan mengikuti, karena lebih terbiasa gowes santai. Karena dia ngos-ngosan, dibilang cupu dan nggak cocok buat olahraga sepeda. Katanya, mending jalan kaki aja sambil ditertawakan,” ucap Drajat menceritakan ulang keluhan sang teman.
Gowes (bersepeda): rekreasi jadi kompetisi
Kenapa ambisi jauh-jauhan tersebut penting? Karena semakin jauh, maka semakin diakui.
Sebab, gowes harus dilengkapi aplikasi pelacak jarak seperti Strava. Di kalangan pesepeda kalcer di lingkungan Drajat, jarak menjadi krusial karena nantinya akan diunggah di media sosial.
Tidak pelak jika orang seperti teman Drajat merasa teralienasi. Karena ia hanya ingin bersepeda untuk rekreasi, bukan untuk kompetisi kejar-kejaran validasi.
“Kalau di teman kantorku, ada ambisi misalnya sehari di hari Minggu harus berapa kilometer. Bukan semata target sehat dan berkeringat ya, tapi target gengsi,” beber Drajat.
“Pit-pitan” jadi tidak menyenangkan gara-gara tren dan standard olahraga kalcer
Pada akhirnya teman Drajat enggan bersepeda bersama lagi. Ia memilih bersepeda sendiri di sekitar kos dengan jarak pendek-pendek dan jalan santai.
Di titik ini, Drajat merasa kangen dengan masa kanak-kanak dulu. Semasa kanak-kanak, jika ada ajakan “pit-pitan” dari sejawat artinya bersepeda riang gembira. Tidak ada adu jauh, adu merek, atau adu outfit. Pokoknya bersepeda saja. Sesederhana itu, tanpa penghakiman.
Kini, ketika dewasa dan berhadapan dengan tren olahraga kalcer haus validasi, ajakan “pit-pitan” bisa berarti berbeda sama sekali dengan bayangan masa kanak-kanak tersebut.
“Maksudku begini, kalau memang mau yang gowes jauh-jauhan, nggak apa-apa juga. Tapi dengan memberi label cupu pada orang yang cuma pengin pit-pitan biasa, apalagi menyebutnya nggak cocok berolahraga sepeda, nggak fair aja menurutku,” ujar Drajat. Karena esensi olahraga kan tidak sebatas mahal-mahalan atau jauh-jauhan.
“Kalau mau jauh-jauhan, ikut kompetisi atau event resmi. Dan tolok-ukur dalam level tersebut nggak bisa dipakai ke semua orang, karena ada orang sepertiku dan temanku, gowes untuk cari keringat sambil senang-senang, tanpa khawatir kena mental,” pungkasnya.
Di situlah masalahnya bagi Drajat. Setelah tren olahraga kalcer merebak, ada standard yang perlahan-lahan dipaksakan. Olahraga terasa dimonopoli kelompok tertentu saja. Tidak inklusif lagi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
