Meneruskan usaha warteg keluarga bukanlah hal memalukan. Lulusan S1 Manajemen ini berhasil membuktikan bahwa usaha tersebut tak lebih mentereng dari pegawai kantoran.
***
Tak perlu waktu lama bagi Nazeela Nichlaturrizqiyah (25) untuk menemukan keasyikan dalam suatu bidang yang awalnya tidak dia cita-citakan. Semasa kuliah dulu, Nazeela mengira akan sibuk melamar kerja sebagai pegawai kantoran usai lulus.
Namun, rencana tersebut perlahan berubah saat ia memutuskan untuk menerima tantangan dari orang tuanya. Saat teman-temannya sibuk mencari lowongan kerja, Nazeela sibuk membuktikan ke orang tuanya untuk melanjutkan usaha warung tegal (warteg) milik keluarga.
Tawaran itu tak datang secara cuma-cuma, Nazeela harus membuktikan diri ke orang tuanya, bahkan mengembangkan bisnis itu agar tetap hidup untuk menopang ekonomi keluarga mereka.
Belajar jualan sejak remaja meski orang tua melarang
Nazeela merasa darah pedagang telah mengalir dalam dirinya. Buktinya waktu SMK dulu, ia sudah merasakan sensasi kesenangan saat berjualan daring, seperti berjualan make up, skincare, kerudung, hingga pakaian.
Namun, orang tua Nazeela sempat melarang karena mereka berpikir keluarganya tidak bakat dalam menjual barang semacam itu, kecuali sukses saat menjual makanan.
“Setiap jualan selain makanan tuh selalu disuruh berhenti, tapi saya nggak nyerah dan diam-diam tetap berjualan walaupun sering ketahuan juga pada akhirnya,” kata Nazeela saat dihubungi Mojok, Selasa (27/10/2026).
Saat Covid-19 melanda, Nazeela bahkan tetap melanjutkan aktivitasnya sembari kuliah virtual. Dengan begitu, ia merasa lebih produktif. Melihat kegigihan Nazeela berjualan daring, orang tuanya pun menantang dia untuk berjualan di jalur yang mereka kuasai, yakni merintis cabang baru dari usaha warteg milik keluarganya.

“Dari sana saya bisa membuktikan ke orang tua saya bahwa saya bisa berjualan dan bisa dipercaya,” tegas Nazeela.
Melihat peluang menjanjikan dari usaha warteg milik keluarga
Padahal saat kuliah dulu, Nazeela punya bayangan bisa kerja sebagai pegawai kantoran di sebuah ruangan ber-AC. Namun, mimpi itu perlahan memudar usai Nazeela mencoba berpikir dengan logis.
“Warteg kami itu ada di Jl. Kemakmuran No.50A, Margajaya, Bekasi Selatan, karena berada di lingkungan perkantoran, perkampungan, dan rumah sakit, lokasinya sangat menguntungkan. Ada banyak pegawai kantor, masyarakat rumahan, hingga dokter, staf, pengunjung rumah sakit yang makan di warteg kami,” jelasnya.
Nazeela yang saat itu masih duduk di bangku kuliah semester 3 mengaku tak terlalu menjumpai tantangan yang berarti, malahan kegiatan tersebut membantunya untuk memahami materi di dunia perkuliahan.
Seiring berjalanannya waktu, Nazeela berpikir bahwa meneruskan usaha warteg milik keluarga bukanlah pilihan buruk, justru privilage yang sayang jika tidak dilanjutkan. Bahkan setelah lulus, ia tak perlu lagi pusing mencari kerja.
“Saya sudah merasa yakin dengan profit usaha warteg ini, angkanya cukup bagus. Terlebih, saya bisa membantu orang lain dapat lapangan pekerjaan,” kata Nazeela.
Keluarga mendukung saat mengelola usaha warteg sendiri
Saat orang lain biasanya menjumpai tantangan antar generasi, Nazeela justru merasa bersyukur karena orang tuanya cukup open minded untuk memaklumi caranya berdagang.
Terlebih, Nazeela memang sudah punya kemampuan dasar untuk menjalankan bisnis berkat ilmunya di perkuliahan dulu. Misalnya, dengan menentukan lokasi kios, merekrut karyawan, hingga mengatur waktu buka dan tutup.
“Aku belajar memanajemen usaha warteg, mulai dari belanja bahan baku, stock bahan baku, hingga keuangannya. Alhamdulillah nggak diomelin dan nggak ada konflik juga, karena secara garis besar, cara berjualan pun masih tetap sama,” jelas Nazeela.

Namun, ada syarat pasti yang harus dipenuhi Nazeela yakni tidak mengubah merk kios milik orang tuanya, mengingat itu adalah bisnis keluarga.
“Orang tua saya sudah membangun usaha warteg sejak tahun 1979 dan sekarang sudah punya beberapa cabang, sampai rumah makan prasmanan. Namanya Warteg Mba Enok & RM Prasmanan Mbak Enok. Sementara saya jualan di warteg sendiri tapi merknya tetap sama,” kata Nazeela.
Kunci bertahan dalam mengelola usaha warteg
Meski terlihat sukses meneruskan warteg keluarganya, Nazeela tak terhindar dari pandangan sinis orang-orang di sekitarnya. Ada banyak yang mendukung, tapi tak sedikit juga yang mencibirnya.
“Beberapa orang menyayangkan ijazah dan gelar S1 Manajemen ku,” kata Nazeela.
Padahal tanpa mereka sadari, ilmu dari perkuliahan mampu membuat Nazeela mengatasi ragam masalah saat meneruskan usaha warteg keluarga, misalnya mengatasi omzet yang naik-turun setiap harinya.
Kini, ia pun lebih bisa menghadapi berbagai jenis perilaku pembeli, menghadapi siklus naik turunnya harga bahan baku dengan kondisi harga jual menu warteg tetap sama, hingga menghadapi drama karyawan yang harus dijaga dengan baik.
“Saya cuma bisa berterima kasih kepada orang yang telah mendukung saya, dan untuk yang kurang mendukung, saya tetap berpikir positif dan bersikap baik, meningkatkan rasa percaya diri, optimis, konsisten terhadap usaha saya dan tidak memikirkan pernyataan negatif orang lain,” ujar Nazeela.
Yang jelas, Nazeela ingin fokus mengembangkan usaha warteg milik keluarganya. Ia berharap dapat memiliki rumah makan dan terjun ke dunia bisnis lainnya.
“Dengan adanya bisnis ini saya bisa membiayai kuliah saya hingga lulus, setelah lulus kuliah saya sudah memiliki income dan tidak bingung lagi jadi pengangguran, saya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, beberapa impian saya bisa terpenuhi berkat adanya usaha ini,” kata Nazeela.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 4 Keunggulan Menu Warteg yang Bisa Menyisihkan Warmindo di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan