Di balik citra punya pergaulan luas, seorang social butterfly sering kelelahan menghadapi relasi yang sifatnya transaksional. Memang ada banyak teman, tetapi masih saja merasa kesepian.
***
Akhir pekan lalu, kawan saya mengeluh. Namanya Ahmad (31), seorang pekerja kreatif di Jogja. Di hari libur yang semestinya dipakai untuk rebahan, ia justru masih sibuk, bersiap menghadiri sebuah acara komunitas lokal di luar kota.
Tidak ada uang lembur yang menantinya di sana, sebab itu bukan penugasan resmi dari kantornya. Ia datang karena kalah oleh perasaan “nggak enak“. Pengundangnya adalah kolega yang pernah satu proyek event dengannya beberapa bulan silam.
“Kalau mau jujur, hubungan kami ya sebatas saling berbalas komentar di IG Stories. Aslinya tidak dekat-dekat amat,” ujarnya, Sabtu (19/9/2026) lalu.
Namun, menolak undangan adalah pantangan besar bagi Ahmad. Ia akhirnya tetap berangkat dengan sisa tenaga yang sudah dikuras habis dari Senin sampai Jumat.
Social butterfly dianggap sosok sempurna di lingkungan pertemanan
Bagi orang-orang yang mengenalnya, Ahmad adalah prototipe anak muda yang melakoni peran social butterfly dengan sangat sempurna. Lingkaran pertemanannya merentang dari ujung ke ujung.
Kelihaiannya merawat pergaulan ini terbentuk dan terasah tajam selama tiga tahun masa rantanya di Jakarta. Sebagai mantan wartawan yang merangkap tim kreatif YouTube di ibu kota, ritme kerjanya memaksanya bertemu puluhan orang baru setiap minggu.
Kebiasaan berjejaring, membuka obrolan dengan orang asing, hingga memetakan profil narasumber itu akhirnya mendarah daging. Saat ia memutuskan menikah dan menetap di Jogja, kemampuan itu terbawa.
Ahmad sangat luwes, gampang akrab, dan tahu persis celah obrolan saat berhadapan dengan pejabat pemerintahan lokal hingga anak-anak skena. Tak heran, saat kantornya butuh pitching sponsor atau menembus klien baru, namanya Ahmad selalu disodorkan ke garis depan.
Social butterfly jadi “si paling diandalkan”
Di mata teman-teman tongkrongannya, kehidupan Ahmad tampak memukau, bahkan kerap memancing rasa iri. Ia seolah memegang kunci buat membuka banyak pintu yang bagi orang biasa terasa tertutup rapat.
Saya sendiri termasuk yang kagum dengan “bakat” social butterfly tersebut.
Misalnya, suatu malam di kedai kopi, seorang kawan kami kebingungan mencari akses ke manajer salah satu penampil lokal untuk urusan kolaborasi bisnis. Tanpa banyak berjanji, Ahmad mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat, dan urusan selesai dalam hitungan menit.
Begitu pula dengan kawan-kawan lamanya di media yang masih sering mengandalkan jaringannya. Terutama urusan meminta bantuan menembus narasumber yang sulit dimintai wawancara.
Dari luar, hidup dengan privilese jaringan seluas itu terlihat sangat mudah. Semua masalah terkesan bisa dibereskan hanya lewat obrolan santai di WhatsApp. Urusan apa pun terasa lebih lancar.
Namun, menguras energi fisik dan mental
Namun, apa yang tampak sebagai kekuatan super dari luar nyatanya pelan-pelan menggerogoti kewarasan di dalam. Belakangan ini, linimasa media sosial seperti Threads sering diramaikan oleh keluhan orang-orang beraliran pergaulan luas ini.
Mereka menjerit lelah. Menjadi social butterfly berarti harus siap menjadikan waktu istirahat dan me time sebagai tumbal. Waktu mereka habis untuk orang lain.
Ahmad merasakan betul fase menyiksa ini. Bertemu banyak orang dan menuntut diri sendiri untuk selalu terlihat energik, ramah, dan asyik adalah pekerjaan yang menyedot habis social battery-nya.
Ia tidak berani seenaknya menolak undangan nongkrong, perayaan launching produk teman, atau kopdar komunitas karena dihantui ketakutan akan dianggap sombong, berubah, atau memutus tali silaturahmi.
“Kalau nggak ngetok (kelihatan di acara), takut dikira nggak menghargai,” ujarnya.
Tawa basa-basi dan kewajiban merespons topik obrolan yang terkadang tidak ia pedulikan sama sekali membuat tubuhnya remuk. Akhir pekan yang seharusnya menjadi me time dan bersantai bersama keluarga, berubah menjadi panggung sandiwara.
Banyak teman tetap merasa kesepian
Di titik kepenatan inilah, realitas paling pahit menjadi social butterfly akhirnya menampar Ahmad. Dari ratusan kontak yang tersimpan di memori ponselnya dan puluhan grup WhatsApp yang tak pernah sepi dari notifikasi, ia menyadari bahwa mayoritas pertemanannya sangat superfisial.
Hubungan yang terjalin selama ini dipelihara sebatas transaksional dan profesional. Ia mengaku, jika diperhatikan, deretan pesan yang masuk ke ponselnya lebih banyak berisi permintaan tolong bernada template.
“’Bro, punya kenalan di dinas ini nggak?’, ‘Bisa bantu tembusin proposal ke si A?’, ‘Lagi sibuk nggak? Minta tolong kontaknya si ini dong’, ya kebanyakan begitu aja,” jelasnya, yang jujur bikin saya agak tersindir karena saya kerap meminta bantuannya.
Bagi Ahmad, benar bahwa relasinya ini menyenangkan untuk diajak tertawa bersama, meramaikan acara, dan merayakan keberhasilan sebuah event. Namun, ketika ia berada di titik terendah–entah karena tekanan mental, masalah finansial, atau beban domestik rumah tangga–tak satu pun dari nama-nama di layar ponselnya itu yang bisa ia hubungi.
“Pait-paitnya kalau ada masalah, ya kuselesaiin sendiri,” kata dia.
Relasi yang kelewat lebar ternyata membuat kedalaman pertemanannya menjadi sangat dangkal. Ia akhirnya sadar, memiliki ratusan teman untuk bersenang-senang nyatanya tidak menjamin keberadaan satu teman tulus yang mau mendengarkan curhatannya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan