ADVERTISEMENT

Slow Morning di Jogja Cuma Mitos yang Dibesar-besarkan Orang Jakarta, Pagi di Jogja Selalu Dimulai dengan Mumet

Slow Morning di Jogja itu Cuma Mitos, Kelas Pekerja juga Mumet! MOJOK.CO

Slow morning di Jogja itu hanya mitos yang dibesar-besarkan orang Jakarta. Nyatanya, di Jogja pagi hari diisi kelas pekerja yang mumet memikirkan tagihan dan pekerjaan.

***

ADVERTISEMENT

Sebagian orang Jakarta merasa pagi di Jogja terlihat seperti kemewahan yang sulit ditemukan di kota asalnya. Namun, di sebuah angkringan pinggir Ringroad Barat, secangkir kopi dan sepiring nasi kucing justru menjadi teman orang-orang yang sedang berusaha bertahan menghadapi pekerjaan.

Doni (26), seorang pekerja asal Jakarta, punya pandangan tersendiri tentang kehidupan pagi di Jogja. Menurutnya, orang-orang di kota ini seolah tidak pernah benar-benar terburu-buru ketika memulai hari. Mereka masih sempat duduk di angkringan, menyeruput kopi, makan nasi kucing, dan merokok sebelum berangkat bekerja.

“Kayaknya kalau di Jogja itu orang-orangnya tidak terburu-buru, masih bisa santai merokok di angkringan, ngopi, sarapan nasi kucing, pokoknya santai deh, slow morning banget,” ujarnya ketika saya ajak berbincang pada Selasa (3/11/2026).

Pemandangan semacam itu, bagi Doni, menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ia membayangkan kehidupan di Jogja menawarkan kesempatan untuk menikmati pagi tanpa harus selalu dikejar waktu, kemacetan, dan rutinitas pekerjaan seperti yang dirasakannya di Jakarta.

Keinginannya untuk tinggal di Jogja pun sempat muncul karena narasi slow morning tersebut. Namun, ada satu pertimbangan yang membuatnya belum bisa mewujudkan keinginan tersebut.

“Pengen sih, tapi gajinya Jakarta ya hahaha,” katanya.

Lucunya, anggapan Doni tentang slow morning di Jogja justru berbanding terbalik dengan kehidupan orang-orang yang setiap pagi memenuhi sebuah angkringan di pinggir Ringroad Barat.

Angkringan pagi, tempat berkumpulnya manusia-manusia mumet

Babe Isno (52), atau yang akrab dipanggil Babe, sudah membuka angkringannya sejak pukul 06.30. Sekitar pukul 07.30, dagangannya sudah siap melayani pelanggan yang mulai berdatangan sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing.

ADVERTISEMENT

Alih-alih menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menikmati waktu luang, angkringan milik Babe justru lebih sering didatangi pekerja yang hendak memulai hari dengan segudang urusan.

“Kaum-kaum mumet kelas pekerja begini mas contohnya,” ujarnya sambil menunjuk Pras (34), salah satu pelanggan yang sedang berada di angkringannya.

Menurut Babe, pengunjungnya berasal dari berbagai pekerjaan. Ada sales rokok, kuli bangunan, pekerja ritel, hingga pegawai kantoran. Sebagian besar datang untuk sarapan sebelum bekerja atau sekadar mengobrol dengan sesama pekerja.

“Bukan rata-rata lagi sih mas, tapi memang pekerja semua. Jarang banget ada yang datang ke sini dalam keadaan santai dan tidak ada beban. Tidak ada tu yang kayak mas cerita tadi soal slow morning Isinya orang tergesa dan tertekan pekerjaan hahaha,” katanya.

Babe bahkan sudah terbiasa mendengarkan keluhan pelanggan. Baginya, angkringan bukan sekadar tempat menjual makanan dan minuman, melainkan tempat orang-orang singgah untuk mengeluarkan unek-unek sebelum kembali menghadapi pekerjaan.

Sarapan murah sambil sambat soal kekerjaan

Pras merupakan salah satu pelanggan setia yang dimaksud Babe. Ia bekerja sebagai pegawai koperasi swasta bagian simpan pinjam. Rutinitasnya memperlihatkan bahwa duduk di angkringan pada pagi hari tidak selalu berarti seseorang sedang menikmati waktu senggang.

Pras biasanya meninggalkan rumah sekitar pukul 07.30 untuk menuju kantor dan melakukan presensi menggunakan sidik jari. Setelah itu, ia keluar sebentar untuk sarapan di angkringan Babe sebelum kembali masuk kantor pukul 09.00.

Baginya, angkringan menjadi pilihan karena harga makanan lebih terjangkau dan pilihan menunya beragam. Namun, ada alasan lain yang membuatnya betah berlama-lama di sana: bertemu orang-orang dengan persoalan pekerjaan yang kurang lebih sama.

“Jelas memilih angkringan karena memang lebih murah, lebih variatif, juga bertemu orang-orang sama mumetnya begini,” ungkapnya.

Obrolan di angkringan pun tidak jauh dari urusan pekerjaan. Mereka saling bercanda, bertukar cerita, hingga mengeluhkan masalah yang dihadapi selama bekerja.

“Kami sih biasanya hanya bercandaan saja ya mas, tapi lebih seringnya saling sambat dan berkeluh kesah seperti ini. Kayak njenengan tadi mengeluh soal pekerjaan, kami juga kalau kumpul gini juga mengeluh soal pekerjaan. Bedanya kami bisa misuh-misuh saja kalau di luar kantor begini,” katanya.

Bagi Pras, menikmati pagi bukan perkara sederhana seperti konsep slow morning. Pekerjaan sebagai pegawai koperasi simpan pinjam membuatnya harus berhadapan dengan urusan nasabah, terutama ketika tenggat pembayaran sudah tiba.

Ada nasabah yang mangkir membayar cicilan, ada pula yang menyampaikan berbagai alasan dan cerita kesulitan hidup. Sementara itu, kantor tetap mengharapkan uang pinjaman terkumpul sesuai target.

“Nasabah yang mangkir, nasabah yang jual cerita sedih. Sedangkan kantor maunya uang harus kekumpul, ya repotnya kalau harus nombokin dulu gitu mas, melelahkan jiwa raga, mumet juga,” tuturnya.

Dalam situasi semacam itu, waktu sarapan tidak serta-merta membuat pikirannya terbebas dari pekerjaan. Bahkan, pagi hari bisa menjadi waktu ketika ia dan rekan-rekannya mulai berkeliling menagih pembayaran nasabah.

“Slow morning di Jogja itu cuma akal-akalan orang Jakarta yang nggak tahu kalau di Jogja itu isinya orang mumet hahaha,” celetuknya.

Data ketenagakerjaan tidak selalu sejalan dengan romantisme slow morning

Dalam kajian psikologi kehidupan sehari-hari, konsep slow morning dapat dipahami sebagai kebiasaan memulai hari tanpa terburu-buru, dengan memberikan ruang bagi aktivitas personal seperti menikmati sarapan, minum kopi, membaca, atau sekadar menenangkan pikiran sebelum menjalani rutinitas.

Penelitian Samantha J. Heintzelman dan Laura A. King (2019) dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin menjelaskan bahwa rutinitas sehari-hari yang dilakukan secara konsisten dapat berkaitan dengan meningkatnya perasaan bahwa hidup memiliki makna. Meski demikian, pengalaman menikmati pagi tidak bisa dilepaskan dari kondisi dan tuntutan masing-masing individu, sebab aktivitas yang terlihat santai belum tentu menunjukkan seseorang terbebas dari tekanan pekerjaan.

Cerita Pras dan pelanggan Babe lainnya memperlihatkan sisi kehidupan pekerja yang sering luput dari pengamatan orang luar. Pemandangan orang duduk di angkringan memang terlihat santai, tetapi aktivitas tersebut tidak bisa dijadikan ukuran bahwa mereka memiliki beban pekerjaan yang ringan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY melalui rilis keadaan ketenagakerjaan Mei 2026 mencatat terdapat sekitar 2,20 juta penduduk bekerja di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,05 juta orang atau 47,59 persen bekerja dalam kegiatan formal. Sementara itu, 66,90 persen merupakan pekerja penuh waktu, 27,69 persen pekerja paruh waktu, dan 5,41 persen termasuk setengah penganggur.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan ketenagakerjaan di Jogja cukup beragam. Di balik citra kota yang dianggap memiliki ritme santai dan slow morning, ada jutaan orang yang tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Data itu memang tidak secara langsung mengukur tingkat stres pekerja, tetapi cukup menunjukkan bahwa Jogja bukan kota yang seluruh penduduknya memiliki kemewahan untuk bersantai pada pagi hari.

Pada akhirnya, angkringan Babe menjadi gambaran kecil tentang kehidupan tersebut. Ada orang yang datang untuk sarapan, ada yang mengejar waktu sebelum kembali bekerja, dan ada pula yang memanfaatkan beberapa menit untuk mengeluhkan pekerjaan kepada sesama pelanggan.

Bagi Doni, suasana semacam itu mungkin terlihat seperti slow morning yang menyenangkan. Namun, bagi Pras dan orang-orang yang setiap pagi datang ke angkringan Babe, duduk sambil menyeruput kopi hanyalah jeda singkat sebelum kembali menghadapi pekerjaan.

Jogja memang punya pagi yang terlihat tenang. Namun, ketenangan sebuah kota tidak selalu berarti ketenangan hidup orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Berhenti Menceramahi Pekerja Gaji UMR Soal Frugal Living, Karena “Berhemat” Hanyalah Privilese Orang Mapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 November 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.