Menjadi penjual angkringan di satu sisi memang pintar mengelola diri. Sebab, ia harus berhadapan dengan beragam model manusia yang menjadi pembeli.
***
Di kalangan sejumlah di teman tongkrongan saya di Jogja, ada adagium seperti ini: Angkringan adalah representasi dari ragam nasib dan karakter manusia. Pasalnya, angkringan memang menjadi persinggungan orang-orang dari latar belakang sosial maupun ekonomi yang berbeda, yang datang untuk ngaso dari nasib masing-masing.
Sebagaimana juga diamini oleh banyak teman di Jogja, penjual di angkringan di Jogja adalah salah satu tempat terbaik untuk ngobrol maupun bercerita. Apalagi jika menjaga adalah bapak-bapak atau ibu-ibu berumur. Tidak hanya mendengar, mereka acap kali juga memberi wejangan-wejangan kehidupan.
Dari sekian angkringan di Jogja yang pernah saya singgahi, salah satu angkringan yang penjualnya sering berperan seperti itu adalah angkringan langganan saya di Ngaglik, Sleman: seorang perempuan menjelang 40-an tahun.
Ia sebenarnya menjaga angkringannya—yang buka dari pagi hingga sore—bersama suaminya. Namun, dibanding sang suami, justru perempuan yang mengaku asal Klaten, Jawa Tengah, tersebut lah yang lebih sering mengajak pembeli berbincang. “Kalau saya ini ya saya akui, Mas, memang ceriwis orangnya,” ungkap perempuan tersebut saat kami berbincang pada Jumat (30/10/2026) pagi. Sehingga ia lhos saja berbincang dengan oang-orang yang mampir di angkringannya, kenal atau tidak kenal.
Pagi itu, usai obrolan ngalor-ngidul soal harga-harga kebutuhan pokok yang naik hingga persoalan jaringan internet dari providernya yang lemot, ia lantas bercerita bahwa selama menjadi penjual angkringan di Jogja ia sudah sering berhadapan dengan ragam model pembeli.
Penjual angkringan di Jogja: jadi tempat curhat perkara perselingkuhan dan rumah tangga
Penjual angkringan saya tersebut mengaku pernah menjadi tempat curhat seorang pelanggan perempuan yang usianya jauh lebih muda darinya.
Suatu pagi, pembeli perempuan—dengan penampilan yang mengindikasikannya sebagai orang berada—singgah dengan wajah lesu. Gurat wajahnya menunjukkan amarah dan kesedihan yang campur aduk.
Semula pembeli perempuan itu hanya diam saja. Sampai akhirnya penjual angkringan itu memancing pertanyaan yang membuat pembeli tersebut mencurahkan keresahan hatinya.
“Biasanya saya juga sering mendengar cerita perempuan dari koperasi swasta. Kalau mereka pasti curhat sambil kesel karena dimarahi bos. Nah, kalau pembeli perempuan yang satu ini, dia cerita kalau suaminya ketahuan selingkuh, tapi dia bimbang kalau harus mengakhiri rumah tangga,” ujar penjual angkringan.
Sebagai orang yang di masa lalu pernah menjadi korban perselingkuhan dan rumah tangga toksik, si penjual angkringan langsung nyambung dengan cerita tersebut. Di banyak hal, ia bahkan memberikan sejumlah saran agar pembeli perempuan itu bisa keluar dari jeratan tidak sehat tersebut.
Berhadapan dengan “pasangan menggelikan” juga pernah
Dalam kesempatan lain, si penjual angkringan di Jogja itu mengaku pernah bertemu cerita sebaliknya: bukan rumah tangga toksik, tapi pasangan romantis dan tampak harmonis. Setidaknya dari yang kasat mata saat pasangan tersebut mampir di angkringan.
“Yang perempuan itu sudah berumur lah, lebih tua dariku. Nah, pasangannya itu masih laki-laki muda,” ujar si penjual angkringan. Pasangan tersebut tidak sungkan menunjukkan kemesraan di angkringan. Saling panggil “sayang” dengan nada manja satu sama lain pun tidak canggung.
Malah si penjual angkringan yang merasa geli. Sebab, awalnya ia mengira bahwa si laki-laki adalah anak dari si emak-emak. Namun, setelah dipastikan, ternyata keduanya adalah sepasang kekasih (belum menjadi suami-istri). Keduanya tampak mesra sekali, seolah di angkringan itu hanya ada mereka berdua. Si penjual angkringan dan pembeli lain seolah tidak ada di sana.
Tentu si penjual angkringan tidak mempermasalahkan hubungan beda umur tersebut. Namanya juga cinta. Syukur-syukur jodoh.
Ia mengaku geli karena dua hal. Satu, selama ini ia hanya tahu ada pasangan beda umur semacam itu (emak-emak dengan laki-laki muda) dari televisi. Sehingga ia agak “tidak siap” saat melihat langsung fenomena tersebut di depan mata sendiri. Apalagi, dua, pasangan tersebut lepas saja bermesraan layaknya pasangan muda.
“Lebih karena, saya sama pasangan muda yang bermesraan tidak tahu tempat saja geli kok. Maksud saya, kalau bermesraan itu tahu tempat,” ujar si penjual angkringan.
Harus sabar hadapi mbah-mbah nipu: habis makan dan ngopi tapi tidak bayar
Sebenarnya, di kalangan penjual angkringan di Jogja sudah ada pengetahuan umum: pasti akan menemui pembeli tidak jujur. Paling sering: makan gorengan tiga tapi pas bayar ngakunya hanya makan satu atau bahkan tidak menghitung sama sekali.
Penjual angkringan langganan saya di Jogja itu pun mengalaminya. Pelakunya bahkan simbah-simbah. “Tapi namanya mbah-mbah. Mungkin lupa. Kalau nggak lupa, batin saya, sudah sepuh, mbok nggak usah aneh-aneh di hidup ini, mbok kurang-kurangin nipu-nipu begitu,” ujar si penjual angkringan.
Meski begitu, ia dan suami sebenarnya memang sudah di titik: kalau ditipu orang (makan tapi tidak dihitung saat bayar), mereka pasrah saja. Tidak mau marah. Toh Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur).
“Tapi kalau saya ya, Mas, kalau memang nggak punya duit, mending bilang saja. Malah saya kasih gratis. Nggak usah bohong-bohong, malah merugikan diri sendiri. Dosa,” tuturnya.
“Sudah miskin, malah judol!”
Akan tetapi, di antara sekian jenis pembeli di atas, penjual angkringan langganan saya paling tidak habis pikir dengan jenis pembeli satu ini: kelompok laki-laki yang kecanduan judi online alias judol.
Tidak jarang angkringannya menjadi jujukan laki-laki jenis ini. Rata-rata laki-laki dewasa (sudah menjadi suami dan bapak). Rata-rata pekerja informal: driver ojek online (ojol), kuli, penjual peralatan dapur keliling, dan pekerja serabutan lain.
“Maksud saya, kalau makan saja masih di angkringan, kalau miskin, nggak usah judol-judol. Kasihan keluarga di rumah,” ujar si penjual angkringan ketus.
“Saya itu pengalaman dengan mantan suami saya yang dulu. Judol itu kan awalnya saja jackpot. Habis itu cuma menguras duit. Mantan suami saya dulu saking gilanya sama judol, sampai nyolong duit yang saya kumpulkan dari kerja saya sendiri. Kasihan, Mas, laki-laki yang terjerat judol itu pasti anak dan istrinya yang sengsara.” tutupnya, sebelum beranjak ke penggorengan: menggoreng tahu, tempe, dan bakwan, usai melihat sejumlah gorengan di meja sudah tandas dibungkus pembeli.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kebaikan-kebaikan Kecil di Angkringan Jogja yang Selalu bikin Terenyuh Pelanggan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan