Angkringan di Jogja memang kerap menyuguhkan hal-hal baik yang selalu berhasil membuat terenyuh, setidaknya bagi saya pribadi. Tidak perlu saling kenal untuk saling berbagi hal-hal baik.
***
Ketika jam sudah menunjukkan setengah 10 pagi, saya yang hendak berangkat ke kantor lantas mentotal apa yang saya santap pagi itu, Rabu (28/10/202) sekaligus membayar kasbon hari kemarin.
“Yang kemarin sudah dibayar sama bapak-bapak yang kemarin, Mas,” ujar mas-mas penjaga angkringan langganan saya di Ngaglik, Sleman, Jogja.
Bapak-bapak kemarin? Saya terdiam sejenak, lalu teringat dengan bapak-bapak penjual tampah yang pagi kemarin sempat berbincang dengan saya.
Angkringan langganan di Jogja tempat transit sebelum kerja
Beberapa bulan terakhir, saya memang menjadi salah satu pelanggan angkringan yang tidak jauh dari kos saya tersebut. Memang tidak setiap hari, tapi sebelum berangkat ke kantor saya cukup sering mampir di angkringan tersebut. Sekadar untuk pesan kopi agar mata lebih melek, atau mengganjal perut keroncongan dengan gorengan yang selalu hangat.
Karena sudah langganan, dan si penjual angkringan sudah familiar dengan saya, simpul-simpul keakraban pun lambat laun terjalin. Kadang kalau saya lama tidak mampir, sekali mampir lagi pasti ia akan bertanya: Kok lama nggak kelihatan? Atau jika saya terkesan buru-buru (baru duduk lalu cepat-cepat menandaskan kopi dan bergegas berangkat), ia pun nyeletuk: Kok tumben buru-buru?
Saking sudah familiarnya, sudah beberapa kali saya kasbon. Bukan karena tidak punya uang. Begini, belakangan saya memang agak malas memegang uang tunai alias cashless. Lebih nyaman dengan metode transaksi digital.
Masalahnya, angkringan langganan saya tersebut tidak menyediakan QRIS. Harus tunai. Sementara, kadang kala uang tunai yang saya temukan di saku atau tas hanya sisa-sisa. Kadang cukup, kadang tidak.
Kalau tidak cukup, maka kekurangannya saya bayar di hari berikutnya setelah saya ambil beberapa lembar uang tunai dari ATM.
Termasuk pada Selasa (27/10/2026). Saya sebenarnya harus membayar Rp7 ribu atas kopi dan gorengan yang saya lahap. Tapi ternyata saya salah hitung, uang di saku saya hanya Rp6 ribu. Maka seperti biasa, kekurangan Rp1 ribu itu saya janjikan bayar di hari berikutnya. “Alah, Mas, gampang. Seperti biasanya saja,” ujar si pedagang angkringan di Jogja tersebut.
Kebaikan kecil dari orang asing yang bikin terenyuh
Pagi ketika saya kasbon itu, saya duduk bersama seorang bapak-bapak penjual tampah keliling. Perbincangan kami bermula kala si bapak-bapak yang baru saja makan dua bungkus nasi kucing bertanya: Nggak ada rokok eceran ya?
Kepada penjual angkringan langganan saya bapak-bapak itu mengaku, sudah jarang membeli rokok satu bungkus. Ia lebih sering beli eceran. In this economy. Ia hanya bisa merokok seperlunya.
Maka saya sodorkan sebatang rokok kepada si bapak-bapak itu. Motif saya sederhana saja sebenarnya: Habis makan nggak merokok, bagi sebagian laki-laki perokok, memang agak sepa (hambar).
Lalu kami terlibat obrolan cukup panjang. Si bapak-bapak mencurahkan keresahan perihal beban-beban yang ia pikul sebagai kepala keluarga. Saya tentu hanya bisa menyimak dan sesekali melempar tanya.
Bapak-bapak itu sepertinya melihat ketika saya bilang ke penjual angkringan kalau uang saya kurang. Dari situlah, kata si penjual angkringan langganan saya, bapak-bapak itu melunasi sekalian tidak lama setelah saya pamit berangkat ke kantor.
Rp1 ribu, bagi saya bukan angka remeh. Justru kebaikan sekecil itu lah yang selalu berhasil membuat saya terenyuh. Kebaikan-kebaikan kecil semacam itu kerap saya jumpai setiap mampir di beberapa angkringan di Jogja.
Penjual angkringan di Jogja sebagai pendengar yang tabah
Jauh sebelum itu, pada awal kepindahan saya ke Jogja pada 2024, saya pernah memiliki langganan angkringan tidak jauh dari basecamp di Sukoharjo, Sleman. Penjualnya adalah mas-mas asal Kebumen, Jawa Tengah.
Penjual itu akrab dengan banyak pelanggan. Meski ia pun tidak pernah tahu nama dari banyak dari pelanggannya itu. Termasuk akrab dengan saya.
Saya kerap mampir di jam-jam menjelang tengah malam, saat tiba-tiba perut keroncongan. Di sana, kami bisa berbincang panjang, dari hal-hal sederhana hingga hal-hal sentimentil.
Si penjual angkringan selalu menyimak cerita saya dengan tekun. Sama sekali tidak terdistraksi ponsel. Sesekali ia menimpali dengan melempar pertanyaan atau sering juga memberi nasihat-nasihat bijak sebagai sesama “wong cilik”. Hal serupa juga ia lakukan terhadap pelanggan-pelanggan yang lain.
Karena hubungan baik itu, kalau ia hendak tutup sementara masih ada sisa gorengan, ia tidak segan memberikannya secara cuma-cuma kepada pelanggan terakhir. Tidak perlu bayar. Saya pun pernah diminta membungkus sisa gorengannya untuk saya bawa ke basecamp.
Makanya, baru-baru ini, ketika ada gebrakan “Nasihat Bapak-bapak” di Jakarta (layanan ngobrol dengan bapak-bapak) yang disesaki oleh anak-anak muda, seorang teman di Jogja nyeletuk: Kalau di Jogja kayaknya cukup ke angkringan, ngobrol sama penjualnya yang bapak-bapak kan. Nasihat-nasihat tua (bijak) pasti keluar semua itu.
Ah, sampai penjual angkringan dekat basecamp itu tutup pada pertengahan 2025 lalu, kami bahkan masih saling tidak tahu nama satu sama lain.
Energi positif yang menular
Tidak hanya dari bapak-bapak penjual angkringan, energi positif pun bisa menular dari orang-orang yang duduk di bangku kayu di sebelah kita.
Jika sedang sendirian (tidak nongkrong bareng teman), saya biasanya bisa langsung cair dengan orang random, entah sesama anak muda maupun bapak-bapak. Dari mereka, saya menerima dua hal tidak terhindarkan: keluh kesan dan cara pandang hidup.
Pada mulanya mereka memang sambat atas situasi hidup yang mereka jalani. Namun, banyak dari mereka yang saya temui di angkringan, kerap menutup obrolan dengan insight cara pandang yang mereka pegang teguh, yang bermuara pada ketatagan (menikmati hidup bagaimana pun situasinya). Misalnya dalam cerita seorang penjual angkringan di Parangkusumo yang ceritanya saya catat dalam tulisan, “Angkringan Penuh Cerita di Parangtritis Jogja: Tertipu, Kemalingan Gorengan, hingga Menolong LC Kelaparan dan Kucing-kucing Liar“.
Sering juga saya mendapat insight perihal bersyukur dan berdamai dengan takdir. Dua pegangan spiritual yang ternyata terbukti membukakan jalan rezeki dan ketenangan hidup, sebagaimana cerita ibu-ibu angkringan dalam tulisan, “Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy“.
Energi-energi positif seperti itu lah yang menular, yang kemudian memberi sumbangan alasan—setidaknya bagi saya—untuk tidak luput melihat makna dari hidup yang sudah “terlanjur” saya jalani. Kalau kata seorang teman: Kita memang tidak meminta dilahirkan. Tapi karena kita sudah terlanjur hidup, jalani saja sebagaimana mestinya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Angkringan Pasinaon Mbah Gun: Dari Masa Kecil Penuh Ejekan hingga Berjasa untuk Minat Baca dan Seni Tari di Sleman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan