Mengagungkan frugal living kepada pekerja bergaji UMR adalah omong kosong. Nyatanya, berhemat hanyalah privilese orang mapan, bukan solusi kemiskinan.
***
Sebuah utas yang berisi keluhan tentang tingginya biaya hidup belakangan, ini justru menjadi bumerang bagi Alvin (26). Alih-alih mendapatkan ruang berdiskusi di media sosial Threads, ia malah menerima serangan dari berbagai pihak.
Akun-akun anonim, pihak yang tampak membela kebijakan pemerintah, hingga mutualnya sendiri secara bergantian menghakimi pekerja asal Sleman tersebut.
Alvin diminta untuk tidak menyalahkan keadaan, disuruh bekerja lebih keras, hingga dikritik agar segera menurunkan gaya hidup.
Dari sekian banyak komentar, ada satu petuah yang paling membekas sekaligus mengganggu pikirannya. Ia diceramahi untuk mulai menerapkan frugal living, alias gaya hidup hemat agar tidak terus-menerus hidup susah.
Ceramah nyuruh orang miskin ngirit itu cuma omon-omon
Bagi Alvin, rentetan nasihat tersebut terdengar jauh dari realitas kelas pekerja. Kata dia, “cuma omon-omon”. Ceramah soal frugal living itu terasa tidak relevan karena selama ini ia sudah mempraktikkannya, bahkan tanpa perlu melabelinya dengan istilah keren kiwari.
Setiap hari, ia menekan pengeluaran semaksimal mungkin, memangkas anggaran yang tidak perlu, dan menahan diri dari berbagai keinginan.
Bagi kelas pekerja bergaji pas-pasan sepertinya, hidup berhemat bukanlah sebuah pilihan gaya hidup yang bisa dipamerkan di media sosial, tetapi sebuah tuntutan. Jika ia tidak berhemat, ia tidak akan bisa makan sampai akhir bulan.
“Frugal living itu bagi orang seperti kami bukan pilihan. Apalagi gaya hidup. Itu sudah jadi tuntutan,” kata Alvin, Senin (26/10/2026). “Tanpa perlu disuruh frugal (ngirit), kami sudah frugal.”
Bagaimana bisa frugal living kalau gaji tak seberapa sementara biaya hidup terus naik?
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sekuat apa pun Alvin ngirit, ia tetap kesulitan mencapai kestabilan finansial. Menurutnya, akar masalahnya tidak terletak pada gaya hidup, tetapi pada angka pendapatan yang memang terlalu kecil untuk mengimbangi kebutuhan.
Sebagai pekerja di Jogja, gajinya mentok di kisaran Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) yang nilainya sedikit di bawah tiga juta rupiah.
Angka UMK Jogja ini termasuk salah satu yang terendah di Pulau Jawa. Ironisnya, hal tersebut berbenturan dengan lonjakan harga kebutuhan hidup, biaya sewa tempat tinggal, hingga melambungnya harga tanah dan properti di kawasan tersebut.
Berdasarkan perhitungan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), seorang individu mandiri atau keluarga di kawasan perkotaan saat ini membutuhkan dana sekitar Rp4,6 juta per bulan untuk bisa memenuhi standar hidup layak.
Ketimpangan antara pendapatan dan biaya hidup ini menjadi sorotan para akademisi. Pakar Ekonomi Pembangunan Wilayah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dessy Rachmawatie, menilai bahwa kesenjangan tersebut merupakan persoalan struktural yang serius.
Kenaikan upah pekerja yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir terbukti belum mampu mengimbangi lonjakan harga kebutuhan pokok, perumahan, serta biaya hidup lainnya di perkotaan. Akibatnya, daya beli masyarakat terus tergerus.
Sudah frugal living pun tetap nggak akan bisa nabung
Selain disuruh berhemat, Alvin juga sering disalahkan karena dianggap tidak memiliki tabungan. Ia dilabeli sebagai orang yang tidak pandai mengatur uang sehingga hidupnya semakin sulit.
Asumsi semacam ini nyatanya terbantahkan oleh data nasional yang merekam memburuknya kondisi keuangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), saldo rata-rata rekening simpanan masyarakat dengan nominal di bawah Rp100 juta tercatat anjlok hingga 61,52 persen dalam 13 tahun terakhir.
Sebagai perbandingan, saldo rata-rata kelompok ini pada Juli 2013 masih berada di angka Rp4,34 juta. Namun, pada Juli 2026, angkanya menyusut drastis dan hanya tersisa Rp1,67 juta.
Menanggapi fenomena ini, Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menjelaskan bahwa menurunnya kemampuan menabung masyarakat bukan disebabkan oleh kebiasaan boros. Hal ini terjadi murni karena kenaikan biaya hidup jauh melampaui kenaikan penghasilan.
Menurut Sandy, ketika pendapatan bulanan tidak lagi cukup, masyarakat terpaksa menguras sisa tabungan mereka atau bahkan menambah utang hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan dan operasional sehari-hari. Penurunan saldo rekening ini menjadi indikator jelas betapa beratnya tekanan ekonomi yang dialami rumah tangga saat ini.
Cuma jadi privilese orang mapan
Alhasil, Alvin pun sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat miskin tanpa disuruh pun akan menjalani frugal living secara otomatis. Masalahnya, sengirit apa pun mereka memutar uang, angkanya tetap tidak akan pernah bisa mengejar laju inflasi dan melambungnya biaya hidup.
“Sekarang misal nih, gaji cuma 3 juta, nabung 500 ribu. Udah makan susah, jumlah tabungan setahun pun juga masih nggak seberapa buat mencukupi kebutuhan hidup,” katanya.
Keresahan ini ternyata bukan hanya milik Alvin seorang. Di media sosial seperti Threads, banyak pekerja yang menyuarakan keputusasaan serupa.
Seorang pengguna bernama Renaldi, misalnya, menceritakan bahwa ia sudah berusaha hidup sangat hemat. Namun, tabungan yang ia kumpulkan susah payah selama setahun langsung habis tak bersisa hanya untuk menambal satu kebutuhan insidental, yakni membantu biaya persalinan kakaknya.
Pengalaman senada juga dibagikan oleh Dira. Ia mengaku sudah setahun terakhir “memenjarakan” semua keinginannya. Ia tidak pernah menonton konser dan menahan diri dari membeli barang-barang yang ia sukai.
Meski sudah bekerja keras dan hidup sangat hemat, ia merasa kondisi finansialnya tidak banyak berubah dan tetap dihantui kesulitan.
“Makanya, kalau bagiku, frugal living cuma jadi privilese bagi mereka yang memang sudah mapan, bukan solusi bagi mereka yang gajinya sudah habis untuk bertahan hidup,” pungkas Alvin.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan