Tidak ada yang tidak mau slow living. Bahkan, generasi Z (gen Z) yang dicap sebagai generasi yang cukup berbeda dari generasi-generasi sebelumnya pun bercita-cita hidup tenang dan santai. Sayangnya, realitas hidup justru memaksa gen Z untuk bekerja keras dan side hustle sampai setidaknya mencapai usia pensiun.
Dalam kalimat lain, belum sampai usia pensiun, artinya masih harus bekerja.
Mempersiapkan slow living dari usia 20-an
Sebagaimana slow living menjadi cita-cita hampir sebagian besar orang, begitu pula dengan Jatayu (22). Perempuan yang berstatus sebagai mahasiswa ini mengaku, dirinya tengah mempersiapkan untuk slow living.
“Aku sedang mempersiapkan untuk slow living,” kata dia kepada Mojok, Selasa (7/4/2026).
Salah satu kota yang berada dalam daftar teratas Jatayu untuk slow living berlokasi di Kediri, Jawa Timur. Menurutnya, kehidupan di Kediri tidak merogoh koceknya terlalu besar. Ia bisa hidup dengan tenang, serta menghabiskan tidak banyak uang di Kediri.
Dibandingkan dengan kehidupan di Jogja yang ramai, Kediri jauh lebih tenang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penduduk Jogja telah mencapai sekitar 4,1 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduk Kediri bahkan kurang dari setengahnya, yakni 1,6 juta jiwa.
Memang, perbedaan jumlah penduduk juga dipengaruhi luas wilayah Jogja yang mencapai 3.185,80 kilometer persegi, sedangkan Kediri hanya 1.449,45 kilometer persegi.
Namun tak masalah, bagi Jatayu, biaya hidup di Kediri yang lebih murah sudah cukup menjadi alasan utama.
“Kalau realistis ya di Indonesia, di Kediri sih lebih murah,” kata dia.
Berdasarkan penilaian 8 komponen slow living yang salah satunya menyangkut ekonomi, Kediri termasuk kawasan paling ideal peringkat ke-6 untuk slow living. Harga kebutuhan dasar di wilayah Kediri lebih terjangkau sehingga dapat mengurangi tekanan untuk mencari uang lebih.

Dihantam realitas harus side hustle
Namun, kata Jatayu, sampai hari ini dirinya bahkan tidak bisa melakukan salah satu wujud slow living. Sebagai contoh, sekalipun berada di rumah, Jatayu tetap tidak bisa lepas dari laptop untuk bekerja.
Ia setidaknya memiliki tujuh pekerjaan yang harus dilakukan dalam satu waktu, membuatnya tergolong melakukan side hustle dalam pekerjaan.
“Aku di rumah tetap bekerja,” kata dia.
Jatayu menyadari, salah satu kesulitan generasinya, gen Z, untuk dapat mencapai taraf slow living adalah adanya banyak keinginan yang harus dikejar. Sementara itu, slow living berarti menikmati hidup dengan tenang sebagaimana adanya.
“Mungkin [slow living] lebih ke hidup tapi nggak ngejar apa-apa,” kata dia.
“Sekarang kita nggak slow living karena banyak yang dikejar,” tambahnya.
Gen Z, menurut dia, ditempatkan dalam kondisi harus melakukan banyak hal. Keharusan ini membuat gen Z merasa harus mencapai hal-hal tersebut dalam satu waktu, bahkan dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan keterbatasan usia apabila memungkinkan.
Sebuah riset yang dilakukan Stanford mengungkap gen Z memiliki pandangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Perbedaan ini, salah satunya, membuat gen Z menghadapi tantangan yang berbeda, serta ekspektasi yang lebih berat dengan karena “keunikan” mereka.
“Kita dibikin harus ini itu. Kayak sebenarnya siapa sih yang nyuruh kita ini cepat-cepat?”
Berbicara soal gen Z yang dituntut selangkah lebih cepat, generasi ini menunjukkan bahwa mereka tidak tanggung-tanggung dalam pekerjaan. Tidak cukup dengan satu gaji, mereka mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus atau dikenal dengan istilah side hustle. Mengacu pada Harris Poll, 6 dari 10 pekerja gen Z setidaknya dinyatakan memiliki side hustle. Pekerja gen Z menjadi mayoritas pekerja side hustle dengan persentase 57 persen, meninggalkan milenial di 48 persen, gen X 31 persen, dan boomers 21 persen.
Gen Z tidak hanya menganggap side hustle sebagai tambahan penghasilan. Banyaknya pekerjaan sampingan yang mereka lakoni justru mencerminkan strategi karier yang berbeda untuk dapat mencapai tujuan.
Slow living hanya mimpi, paling memungkinkan terwujud setelah pensiun
Dengan berbagai tuntutan hidup, Jatayu bilang, paling memungkinkan dirinya akan slow living ketika mencapai usia pensiun.
“Di tengah ekonomi sekarang, kayaknya baru possible di usia pensiun,” kata dia.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2015, usia pensiun adalah 59 tahun. Artinya, slow living baru memungkinkan untuk diwujudkan pada usia tersebut.
Perempuan ini juga memungkiri kemungkinan akan pensiun dini. Artinya, kesempatan untuk hidup tenang lebih dulu dari usia tersebut tidak ada. Ia masih akan bekerja untuk waktu yang lama.
“Nggak mungkin pensiun dini,” kata dia.
Namun demikian, Jatayu tidak muluk-muluk kalau usia pensiun sekalipun tidak menjamin dirinya sudah mengumpulkan cukup bekal untuk slow living. Bisa jadi, usia pensiunnya masih dihabiskan untuk bekerja karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Jadilah, ia memilih untuk tetap akan bekerja.
“Kayaknya kalau nggak bisa slow living, aku akan tetap kerja dan ya sudah,” kata dia.
Kalaupun memungkinkan, dirinya bilang, bukan tidak mungkin tidak akan berhenti bekerja. Pasalnya, sebagai gen Z yang sudah terbiasa side hustle, berhenti dari pekerjaan bukan perkara mudah. Malahan, kondisi tidak bekerja bisa membuat diri merasa kebingungan dan kehilangan arah.
“Tapi kayaknya kalau slow living, aku akan tetap bekerja, karena gabut kalau nggak kerja,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan