Sering kali karena tingginya ego sebagai konsumen maupun ego personal, pengunjung rumah makan/restoran kerap mengabaikan sikap-sikap sederhana yang seharusnya menjadi kewajaran. Padahal dari hal-hal sederhana tersebut lahirlah sebuah relasi indah: saling memanusiakan.
Tak jadikan salah pesanan jadi gegeran
Saat makan di rumah makan/restoran maupun melihat konten di media sosial, saya kerap mendapati bagaimana pembeli bisa berubah tantrum karena pelayan salah menyuguhkan pesanan. Dan sering kali hanya kesalahan-kesalahan minor.
Misalnya, pesan es tape tapi yang datang es teh. Intinya pesannya apa, yang datang apa.
Bagian ini sangat bisa diperdebatkan. Tapi saya pribadi sejak kecil dididik ibu agar tidak membesar-besarkan kesalahan pesanan yang sifatnya se-minor itu. Bagi kami pesan es tape tapi yang datang es jeruk sebenarnya masih bisa diwajari.
Contoh paling dekat adalah pada Selasa (18/8/2026) sore lalu saat saya mengajak ibu, adik, dan istri saya yang tengah berkumpul di Jogja untuk makan di sebuah warung sate legend di Ngaglik, Sleman.
Di meja pemesanan jelas-jelas saya memesan tiga es timun serut dan satu es jeruk. Tapi yang datang sebaliknya. Tapi belum juga saya memprotes pesanan yang salah itu, ibu dan istri saya menyergah, “Udah, nggak apa-apa. Pesanan lagi banyak, maklum kalau ketuker-tuker. Toh masih bisa diminum.”
Loh bukankah hak konsumen protes jika ada pesanan yang keliru? Iya kalau kelirunya minor, kalau fatal?
Suatu kali saya pernah iseng menanyakan hal tersebut pada ibu, saat di sebuah rumah makan di Rembang, Jawa Tengah, kami melihat ada ibu-ibu marah-marah karena pesanannya sudahlah datangnya lama, eh salah pula. Kata ibu, sah-sah saja mengajukan ganti atas kekeliuran, tapi alangkah lebih baik jika tidak menjadikannya gegeran.
“Karena kita tidak tahu. Gara-gara bikin konsumen marah, bisa jadi dia (pelayan) bakal potong gaji atau malah dipecat. Kasihan. Kalau caranya baik-baik, pastinya penyelesaiannya juga baik-baik,” begitu keyakinan ibu yang entah kenapa saya pegang betul sampai sekarang.
Menumpuk piring setelah makan, memanusiakan pelayan rumah makan/restoran
Tidak jauh berbeda, Zamratus (24), seorang pekerja swasta, juga mengaku mendapat pelajaran berharga dari orang tuanya perihal mewajarkan hal-hal sederhana tapi bernilai memanusiakan manusia dari orang tuanya. Yakni dari sesederhana membiasakan menumpuk piring bekas makan setelah menandaskan isinya.
Saat masih kuliah di Jogja, Zamratus yang memang kuliah di sebuah PTN terkenal berteman dengan sejumlah cewek dari keluarga kaya dan manja. Sering kali tiap habis makan di rumah makan/restoran, teman-teman cewek Zamratus membiarkan piring-piringnya berserakan begitu saja.
Zamratus memang tidak mengimbau mereka agar menumpuk piring-piring tersebut. Ia dengan kesadaran penuh dan tanpa berisik berinisiatif menumpuk piring-piring kotor menjadi satu tumpukan.
“Mereka heran, ngapain sih, itu kan tugas pelayan. Jadi cara mikirnya memang begitu. Nggak sepenuhnya salah. Tapi kalau kata bapak dan ibuku, itu untuk memudahkan si pelayan,” ujar Zamratus.
“Ibuku lebih sentimentil, baginya pelayan tetap manusia. Ada capeknya juga. Jadi kalau kita terbiasa ringan tangan membantu orang lain, memanusiakan si pelayan, insyaallah kita juga akan dimanusiakan orang lain. Keluarga kami percaya hukum karma itu,” sambungnya.
Tapi memang begitu yang dirasakan oleh Indra (24), seorang pelayan di sebuah rumah makan olahan daging sapi di Jogja. Sebagai pelayan, Indra kerap merasa miris karena seolah-olah ia adalah babu hina saat harus membereskan piring-piring kotor berserakan di meja, sementara si konsumen sibuk bercanda-canda dan bahkan menyuruh-nyuruh dengan lagak seperti juragan.
Maka dari itu, ketika ada orang yang dengan ringan tangan menumpukkan piring-piring kotor menjadi satu tumpukan, Indra merasa benar-benar dimanusiakan. Ia pun bisa sangat terharu saat tubuhnya merasakan lelah luar bisa usai sepanjang shift mengantarkan pesanan, membereskan meja, hingga mendapat komplain jahat dari konsumen.
Mengucapkan terima kasih ke pelayan, hal sederhana tapi ternyata memberi makna
Dari kacamata pelayan rumah makan/restoran seperti Indra, bahkan ada satu sikap konsumen yang sebenarnya sangat berharga tapi memberi makna besar bagi Indra: mengucapkan terimakasih.
“Misalnya aku waktu lagi nganter pesanan, atau membereskan meja, terus ada orang yang bilang, ‘Makasih ya, Mas,’ wah itu rasanya hangat sekali di hati,” ucap Indra.
Semula Indra yang sudah kepayahan dengan ritme kerja cepat dan melelahkan di rumah makan, mendadak memiliki semangat lagi untuk memberi pelayanan terbaik. Lebih dari itu, ia merasa sangat dimanusiakan, bukan sebatas orang yang bisa disuruh-suruh dengan sembarangan.
“Sikap sederhana itu juga membuatku masih percaya, masih ada orang baik kok, di antara konsumen-konsumen lain yang jutek, jahat, dan sering kali berlagak sok juragan, utamanya kalau si konsumen adalah orang kaya yang selalu merasa berhak menginjak orang karena mereka pegang uang,” pungkasnya.
Dampak serius jika mengabaikan
Ya, sikap-sikap sederhana saja memang. Tapi menurut Zamratus dan Indra, sangat patut diwajarkan. Sebab ternyata bisa sangat berdampak bagi hidup seseorang.
Bertemu dengan orang-orang yang mewajarkan sikap-sikap sederhana tadi membuat Indra menemukan semangat lagi. Sementara sebaliknya, ketika ia berhadapan dengan konsumen yang komplain dengan amat jahat, Indra bisa merasa jatuh dan tidak berharga.
Masalahnya, jika situasi batin itu berlanjut, pikiran Indra bisa ngglambyar ke mana-mana: membuat ia semakin putus asa dengan hidup yang ia jalani karena terasa begitu berat. Ujung dari keputusasaan itu adalah bayangan mengakhiri hidup.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Melarisi Pedagang Lansia Sepi Pembeli meski Tak Selera: Harga Recehan Tak bikin Saya Rugi tapi Bagi Mereka Sangat Berarti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
