Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Februari 2026
A A
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

ilustrasi - tinggal di Jakarta (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pekerja asal Jawa Tengah memutuskan untuk meninggalkan “kehidupan enak” di kampung halaman cuma demi ego merantau. Keputusan ini berujung sesal karena nyatanya, kerja di Jakarta tak seenak yang dibicarakan orang. Tak sesuai ekspektasi.

***

Jika waktu bisa diputar ulang, Pras (20) mungkin akan memilih untuk tetap tinggal di kampung halamannya di Jawa Tengah. Setahun yang lalu, hidupnya sebenarnya sudah sangat nyaman. Bahkan, bisa dibilang makmur untuk ukuran pemuda seusianya di desa.

Mari kita bedah hitung-hitungannya.

Saat itu, Pras bekerja sebagai tukang potong ayam di sebuah pabrik lokal. Pekerjaannya memang terlihat kasar dan kotor. Namun, hasilnya tidak main-main. 

Ia dibayar harian sebesar Rp150 ribu. Bekerja enam hari dalam seminggu. Jika diakumulasikan, dalam seminggu ia mengantongi Rp900 ribu, atau mencapai Rp3,6 juta per bulan.

Angka ini jelas fantastis. Sebagai perbandingan, Upah Minimum Regional (UMR) di kota asalnya hanya sekitar Rp2,04 juta. Artinya, pendapatan Pras hampir dua kali lipat dari standar gaji di daerahnya.

“Bahkan di tempatku banyak yang kerja diupah di bawah UMR, makanya banyak yang pilih merantau. Tapi di pabrikku berani bayar lumayan,” kata dia, saat dihubungi Mojok, Selasa (10/2/2026).

Yang membuat angka itu makin bernilai adalah statusnya sebagai “gaji bersih“. Karena tinggal di rumah orang tua, Pras tidak perlu memikirkan uang sewa kamar atau biaya listrik. Urusan makan pun aman, masakan ibu selalu tersedia di meja. Uang bensin motor juga irit karena jarak pabrik sangat dekat dari rumah. Tak sampai 10 menit.

Praktis, uang Rp3,6 juta itu hampir utuh menjadi miliknya. Saat itu, menyisihkan uang Rp500 ribu hingga Rp1 juta untuk ditabung adalah perkara mudah. Sisanya masih sangat cukup untuk menuruti hobi, jajan, atau sekadar nongkrong.

“Tiap bulan masih nabung malah,” tegasnya.

Ego merantau disenggol tetangga

Sayangnya, kenyamanan itu terusik oleh gengsi dan omongan tetangga. Di desanya, ada standar tak tertulis bahwa pemuda yang sukses adalah mereka yang berani merantau ke kota besar, khususnya Jakarta. 

Pras mulai gerah setiap kali mendengar tetangganya membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.

“Pras, coba lihat si A itu. Dia merantau ke Jakarta, sekarang sudah bisa bantu renovasi rumah orang tuanya. Kamu mbok ya coba cari pengalaman di luar, masa di kandang terus,” begitu kira-kira sindiran yang kerap mampir ke telinganya.

Iklan

Kalimat-kalimat seperti itu, ditambah cerita kawan-kawannya yang pulang kampung membawa gaya orang kaya baru alias “OKB” saat Lebaran, membuat ego Pras tersenggol. Ia merasa kurang gagah jika hanya bekerja sebagai pemotong ayam di desa. 

Ia ingin pembuktian. Ia ingin dianggap sukses.

“Jujur saja iri teman-teman yang merantau sudah bisa beli ini itu. Konon gaji mereka dua kali lipat gajiku. Ya siapa yang nggak tergiur?”

Akhirnya, keputusan nekat itu diambil. Ia melepas pekerjaannya yang mapan di pabrik ayam dan berangkat ke Jakarta. Ia bekerja di sebuah gudang logistik di kawasan Jakarta Timur, dibawa oleh seorang kawan.

Realitas merantau di Jakarta menamparnya

Sialnya, bayangan tentang merantau yang enak atau kehidupan kota yang seru langsung runtuh. Pras bekerja di gudang, sebuah lingkungan yang keras. 

Jam kerjanya panjang, hampir 12 jam nonstop dari pagi ketemu sore. Fisiknya diperas habis-habisan untuk mengangkat barang dan mengejar target pengiriman.

“Kadang itu pulang cuma buat tidur, saking lelahnya. Nggak sanggup melakukan hal lain, udah males,” ujarnya.

Bukan hanya fisik, mentalnya juga diuji. Orang-orang di tempat kerjanya cenderung temperamental. Salah sedikit saja, ia bisa kena marah habis-habisan. Suasana kerjanya sangat berbeda dengan di pabrik ayam dulu yang penuh kekeluargaan. 

Menurutnya, di Jakarta, semua orang tampak buru-buru dan mudah emosi.

Hasil yang didapat pun jauh dari ekspektasi

Lalu, mari bicara soal uang. Inilah bagian paling menyakitkan dari realitas merantau di Jakarta.

Di atas kertas, gajinya memang naik menjadi Rp4,5 juta. Namun, di Jakarta, uang segitu ternyata tidak ada artinya. Begitu gajian turun, uang itu langsung habis dipotong berbagai kebutuhan dasar yang dulu gratis di kampung.

Mislanya, ia harus membayar kos sebesar Rp700 ribu per bulan. Itu pun hanya kamar petak sempit. Lalu biaya makan. Pras kaget bukan main dengan harga makanan di Jakarta. Sekali makan plus minum dan rokok, ia bisa menghabiskan Rp75 ribu sehari. 

Jika dikalikan 30 hari, artinya, biaya untuk perut dan rokok saja sudah menelan Rp2,25 juta lebih. Belum lagi untuk pulsa, sabun, bensin, dan kebutuhan mendadak lainnya. 

“Ya rata-rata, di akhir bulan aku hanya pegang sisa uang nggak sampai sejuta. Seringkali malah dompet kosong melompong, sebelum tanggal gajian berikutnya tiba,” ujar Pras, lesu.

Perbedaannya sangat jomplang. Dulu di desa, ia bisa menabung dengan santai. Kini di Jakarta, jika ada kebutuhan mendadak dari keluarga di kampung, Pras kelabakan. Ia tak punya dana darurat untuk ditransfer.

Merantau bikin susah, tapi kalau pulang malu, tak pulang hidup susah mulu

Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan. Pras sadar ia telah melakukan kesalahan perhitungan yang fatal. Ia menukar kenyamanan finansial yang nyata dengan sebuah ekspektasi semu tentang “sukses di perantauan”.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Pras terjebak dalam dilema yang dialami banyak perantau. Hatinya ingin pulang, kembali memotong ayam dan hidup tenang. 

Namun, rasa malu menahannya. Ia tak sanggup membayangkan cibiran tetangga jika ia pulang dengan tangan hampa dan dianggap gagal menaklukkan Jakarta.

Terpaksa, ia harus menjalani hari-hari berat di gudang logistik, bertahan hidup dengan gaji pas-pasan, sembari merutuki egonya sendiri yang dulu terlalu tinggi. 

“Ternyata, gaji besar di kota orang belum tentu lebih nikmat daripada gaji biasa saja tapi hidup enak di kampung sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto
Sehari-hari

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elit, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Sojourn, alunan laut tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo yang beri ketenangan saat meditasi di perbukitan Menoreh MOJOK.CO
Sehari-hari

Sojourn: Alunan Laut Tenang dari Kelana Swara Ambarrukmo, Beri Rasa Lega usai Menepi dari Rutinitas Melelahkan

11 Februari 2026
Festival Dandangan Kudus tak sekadar denyut perekonomian. MOJOK.CO
Jagat

Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elit, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Pekerja muda hobi bikin kue

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

10 Februari 2026
Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.