Pekerja asal Jawa Tengah memutuskan untuk meninggalkan “kehidupan enak” di kampung halaman cuma demi ego merantau. Keputusan ini berujung sesal karena nyatanya, kerja di Jakarta tak seenak yang dibicarakan orang. Tak sesuai ekspektasi.
***
Jika waktu bisa diputar ulang, Pras (20) mungkin akan memilih untuk tetap tinggal di kampung halamannya di Jawa Tengah. Setahun yang lalu, hidupnya sebenarnya sudah sangat nyaman. Bahkan, bisa dibilang makmur untuk ukuran pemuda seusianya di desa.
Mari kita bedah hitung-hitungannya.
Saat itu, Pras bekerja sebagai tukang potong ayam di sebuah pabrik lokal. Pekerjaannya memang terlihat kasar dan kotor. Namun, hasilnya tidak main-main.
Ia dibayar harian sebesar Rp150 ribu. Bekerja enam hari dalam seminggu. Jika diakumulasikan, dalam seminggu ia mengantongi Rp900 ribu, atau mencapai Rp3,6 juta per bulan.
Angka ini jelas fantastis. Sebagai perbandingan, Upah Minimum Regional (UMR) di kota asalnya hanya sekitar Rp2,04 juta. Artinya, pendapatan Pras hampir dua kali lipat dari standar gaji di daerahnya.
“Bahkan di tempatku banyak yang kerja diupah di bawah UMR, makanya banyak yang pilih merantau. Tapi di pabrikku berani bayar lumayan,” kata dia, saat dihubungi Mojok, Selasa (10/2/2026).
Yang membuat angka itu makin bernilai adalah statusnya sebagai “gaji bersih“. Karena tinggal di rumah orang tua, Pras tidak perlu memikirkan uang sewa kamar atau biaya listrik. Urusan makan pun aman, masakan ibu selalu tersedia di meja. Uang bensin motor juga irit karena jarak pabrik sangat dekat dari rumah. Tak sampai 10 menit.
Praktis, uang Rp3,6 juta itu hampir utuh menjadi miliknya. Saat itu, menyisihkan uang Rp500 ribu hingga Rp1 juta untuk ditabung adalah perkara mudah. Sisanya masih sangat cukup untuk menuruti hobi, jajan, atau sekadar nongkrong.
“Tiap bulan masih nabung malah,” tegasnya.
Ego merantau disenggol tetangga
Sayangnya, kenyamanan itu terusik oleh gengsi dan omongan tetangga. Di desanya, ada standar tak tertulis bahwa pemuda yang sukses adalah mereka yang berani merantau ke kota besar, khususnya Jakarta.
Pras mulai gerah setiap kali mendengar tetangganya membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.
“Pras, coba lihat si A itu. Dia merantau ke Jakarta, sekarang sudah bisa bantu renovasi rumah orang tuanya. Kamu mbok ya coba cari pengalaman di luar, masa di kandang terus,” begitu kira-kira sindiran yang kerap mampir ke telinganya.
Kalimat-kalimat seperti itu, ditambah cerita kawan-kawannya yang pulang kampung membawa gaya orang kaya baru alias “OKB” saat Lebaran, membuat ego Pras tersenggol. Ia merasa kurang gagah jika hanya bekerja sebagai pemotong ayam di desa.
Ia ingin pembuktian. Ia ingin dianggap sukses.
“Jujur saja iri teman-teman yang merantau sudah bisa beli ini itu. Konon gaji mereka dua kali lipat gajiku. Ya siapa yang nggak tergiur?”
Akhirnya, keputusan nekat itu diambil. Ia melepas pekerjaannya yang mapan di pabrik ayam dan berangkat ke Jakarta. Ia bekerja di sebuah gudang logistik di kawasan Jakarta Timur, dibawa oleh seorang kawan.
Realitas merantau di Jakarta menamparnya
Sialnya, bayangan tentang merantau yang enak atau kehidupan kota yang seru langsung runtuh. Pras bekerja di gudang, sebuah lingkungan yang keras.
Jam kerjanya panjang, hampir 12 jam nonstop dari pagi ketemu sore. Fisiknya diperas habis-habisan untuk mengangkat barang dan mengejar target pengiriman.
“Kadang itu pulang cuma buat tidur, saking lelahnya. Nggak sanggup melakukan hal lain, udah males,” ujarnya.
Bukan hanya fisik, mentalnya juga diuji. Orang-orang di tempat kerjanya cenderung temperamental. Salah sedikit saja, ia bisa kena marah habis-habisan. Suasana kerjanya sangat berbeda dengan di pabrik ayam dulu yang penuh kekeluargaan.
Menurutnya, di Jakarta, semua orang tampak buru-buru dan mudah emosi.
Hasil yang didapat pun jauh dari ekspektasi
Lalu, mari bicara soal uang. Inilah bagian paling menyakitkan dari realitas merantau di Jakarta.
Di atas kertas, gajinya memang naik menjadi Rp4,5 juta. Namun, di Jakarta, uang segitu ternyata tidak ada artinya. Begitu gajian turun, uang itu langsung habis dipotong berbagai kebutuhan dasar yang dulu gratis di kampung.
Mislanya, ia harus membayar kos sebesar Rp700 ribu per bulan. Itu pun hanya kamar petak sempit. Lalu biaya makan. Pras kaget bukan main dengan harga makanan di Jakarta. Sekali makan plus minum dan rokok, ia bisa menghabiskan Rp75 ribu sehari.
Jika dikalikan 30 hari, artinya, biaya untuk perut dan rokok saja sudah menelan Rp2,25 juta lebih. Belum lagi untuk pulsa, sabun, bensin, dan kebutuhan mendadak lainnya.
“Ya rata-rata, di akhir bulan aku hanya pegang sisa uang nggak sampai sejuta. Seringkali malah dompet kosong melompong, sebelum tanggal gajian berikutnya tiba,” ujar Pras, lesu.
Perbedaannya sangat jomplang. Dulu di desa, ia bisa menabung dengan santai. Kini di Jakarta, jika ada kebutuhan mendadak dari keluarga di kampung, Pras kelabakan. Ia tak punya dana darurat untuk ditransfer.
Merantau bikin susah, tapi kalau pulang malu, tak pulang hidup susah mulu
Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan. Pras sadar ia telah melakukan kesalahan perhitungan yang fatal. Ia menukar kenyamanan finansial yang nyata dengan sebuah ekspektasi semu tentang “sukses di perantauan”.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Pras terjebak dalam dilema yang dialami banyak perantau. Hatinya ingin pulang, kembali memotong ayam dan hidup tenang.
Namun, rasa malu menahannya. Ia tak sanggup membayangkan cibiran tetangga jika ia pulang dengan tangan hampa dan dianggap gagal menaklukkan Jakarta.
Terpaksa, ia harus menjalani hari-hari berat di gudang logistik, bertahan hidup dengan gaji pas-pasan, sembari merutuki egonya sendiri yang dulu terlalu tinggi.
“Ternyata, gaji besar di kota orang belum tentu lebih nikmat daripada gaji biasa saja tapi hidup enak di kampung sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














